Startup Butuh Pendampingan untuk Lahirkan Inovasi Bisnis Berkelanjutan
JAKARTA, investor.id - Jumlah startup Indonesia pada akhir tahun 2024 mencapai 2.692 sehingga menempatkan Indonesia di peringkat keenam sebagai negara dengan startup terbanyak di dunia.
Potensi ekonomi digital Indonesia yang saat ini sangat besar. Berdasarkan data dari Kementerian BUMN, potensi pertumbuhan ekonomi digital akan melonjak dari Rp632 triliun pada Tahun 2020 menjadi Rp4.531 triliun pada Tahun 2030.
Potensi berikutnya adalah rata-rata harian penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia selama 8 jam 36 menit per hari. Dilihat dari berbagai potensi ekonomi Indonesia yang luar biasa dalam sektor startup tersebut, tentunya dapat menjadi peluang dalam mengakselerasi startup untuk menciptakan, membuka dan memperluas lapangan kerja.
Namun demikian, akselerasi startup dalam rangka penciptaan lapangan kerja tentunya memiliki sejumlah tantangan, salah satunya adalah soal keberlanjutan startup sebagai entitas bisnis.
Menurut data Kementerian BUMN menunjukkan fakta di mana 42% startup mengalami kegagalan karena salah membaca kebutuhan pasar. Sebanyak 29 persen lainnya akibat kehabisan dana, kemudian 23% karena susunan tim yang kurang baik, 19% karena kalah berkompetisi dan 18% lainnya gara-gara masalah harga.
Sedangkan berdasarkan data statistik menunjukkan sebanyak 39% usaha kecil dan menengah (UKM) di kawasan Asia Pasifik belum berhasil menyelaraskan upaya lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dengan tujuan pertumbuhan bisnis mereka.
Untuk mendorong inovasi berkelanjutan serta mendukung bisnis startup maka butuh dukungan pendampingan dengan menyediakan konsultasi bisnis dengan para ahli serta membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan yang sudah mapan.
Merespons hal tersebut, PepsiCo, perusahaan global bidang makanan dan minuman, yang berkomitmen terhadap inisiatif keberlanjutan, kembali menghadirkan program Greenhouse Accelerator (Ghac).
Program yang kini sudah memasuki tahun ketiga di kawasan Asia Pasifik (Apac) tersebut menjadi wadah bagi inovator pada sektor makanan dan minuman untuk turut berkontribusi dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan lebih berkelanjutan.
Ghac merupakan program berbasis mentorship serta berfokus pada proyek percontohan inovasi di kawasan Asia Pasifik untuk mendorong inovasi berkelanjutan serta mendukung startup dengan menyediakan konsultasi bisnis dengan para ahli serta peluang kolaborasi dengan PepsiCo.
"Sebagai program akselerator keberlanjutan terdepan di kawasan Asia Pasifik, Ghac mempertegas komitmen kami untuk menemukan solusi yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan dalam sektor ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, dan aksi iklim," ungkap VP Supply Chain ANZ & Chief Sustainability Officer PepsiCo Asia Pasifik Ashley Brown, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (17/1/2025).
Ia menyampaikan program ini berhasil menciptakan 15 proyek percontohan di tujuh wilayah pada 2023 dan 2024, dengan fokus mendukung startup tahap awal yang mengembangkan inovasi pengurangan dampak lingkungan, pengembangan energi terbarukan, dan praktik pertanian berkelanjutan.
“Program ini untuk memberdayakan startup dengan menyediakan berbagai sumber daya dan bimbingan demi menciptakan perubahan signifikan serta memperluas inovasi pada seluruh sistem pangan kami."
"Selama dua tahun terakhir, PepsiCo bersama para mitra melalui program ini berhasil meluncurkan 15 proyek percontohan di Asia Pasifik, serta menjalin kerja sama dengan 95 institusi dan perusahaan modal ventura, untuk terus memperkuat komitmen kami membangun ekosistem keberlanjutan yang kuat,” kata Ashley.
Ghac juga, lanjut dia, terus mendorong pengembangan ide-ide baru yang inovatif serta melaksanakan serangkaian uji coba terhadap berbagai solusi yang berpotensi mendorong perubahan signifikan di masa depan.
Nantinya program GHAC memberikan dana US$20 ribu kepada masing-masing 10 finalis dengan tambahan dana US$100 ribu untuk startup pemenang.
Selain itu, para finalis mendapat mentorship menyeluruh dari eksekutif PepsiCo dan ahli akselerator bisnis untuk membantu mengatasi tantangan dan mempercepat pertumbuhan.
Pada tahun ini, program GHAC bekerja sama dengan GC Ventures, divisi modal ventura PTT Global Chemical, dan mitra jangka panjang Circulate Capital untuk memberikan masukan serta arahan kepada peserta program.
Ashley mengakui sejak diluncurkan, program ini memunculkan berbagai proyek percontohan yang menghasilkan kerja sama lebih lanjut dengan PepsiCo dan mitra.
Salah satunya, Alterno, pemenang program Ghac 2024 dengan inovasi penyimpanan energi termal biaya rendah pertama di Asia yang digunakan untuk energi terbarukan.
Teknologi baterai pasir Alterno dapat menjadi alternatif dalam proses pengeringan makanan ringan, dengan potensi membantu PepsiCo mengurangi biaya energi dan emisi serta menciptakan dampak nyata bagi lingkungan.
“Dengan aspek keberlanjutan yang semakin jadi prioritas bagi investor, konsumen, dan karyawan, program akselerator seperti Ghac ini berperan penting membantu para pengusaha mengembangkan inisiatif keberlanjutan sambil tetap mempertahankan daya saing mereka," ucap Ashley.
Para peserta Ghac juga tak hanya mendapat bimbingan dari profesional berpengalaman, tapi juga berkolaborasi dengan PepsiCo, perusahaan yang merintis program ini dan jadi pengguna dari inovasi yang diciptakan.
"Program ini memberikan kesempatan guna mempelajari pengalaman puluhan tahun dari ahli di bidangnya, jaringan mitra yang solid, serta wawasan berharga untuk mengembangkan solusi serta merancang pendekatan proyek percontohan yang lebih matang," katanya.
Dia menambahkan bagi mereka yang tertarik mengikuti program Greenhouse Accelerator PepsiCo 2025 edisi ketiga Asia Pasifik, ada persyaratan minimum untuk mendaftar, diantaranya memiliki pre-revenue hingga maksimum USD 7 juta dalam penjualan selama tahun keuangan terakhir..
Syarat lainnya memiliki operasional bisnis di salah satu negara yang termasuk ke dalam wilayah Asia Pasifik (Cina, Singapura, Thailand, Australia, Indonesia, Selandia Baru, Brunei, Kamboja, Timor Timur, Fiji, Jepang, Korea, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Kepulauan Pasifik, Papua Nugini, Filipina, Vietnam).
Selanjutnya, mampu mengembangkan inovasi yang berorientasi pada misi dalam tiga area fokus ekonomi sirkular, teknologi iklim, dan pertanian berkelanjutan.
Selain itu, telah mencapai tahap bukti konsep (in-lab proof) dan siap untuk melaksanakan protokol data yang ditetapkan.
Editor: Imam Suhartadi
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler


