Jumat, 15 Mei 2026

Limbah Cair Pabrik Sawit Punya Nilai Ekonomi Tinggi

Investor.id
10 Feb 2025 | 15:25 WIB
BAGIKAN
Truk dengan tandan buah segar kelapa sawit antre untuk dibongkar di sebuah pabrik di Aceh Barat pada 17 Mei 2022. (Foto: Antara Foto/Syifa Yulinnas/ via REUTERS/Files)
Truk dengan tandan buah segar kelapa sawit antre untuk dibongkar di sebuah pabrik di Aceh Barat pada 17 Mei 2022. (Foto: Antara Foto/Syifa Yulinnas/ via REUTERS/Files)

JAKARTA, investor.id - Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB University, Prof. Yanto Santosa mengungkapkan perlu adanya perubahan paradigma (mindset) yang menganggap Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) bukan limbah berbahaya tetapi air limbah yang berpotensi memberikan multi manfaat.

Berbagai kajian menunjukkan, pemanfaatan limbah cair sawit tersebut berpeluang memberikan manfaat untuk lingkungan, agronomi, maupun ekonomi.

Menurut Yanto, jika LCPKS dikelola dengan profesional akan dapat diandalkan untuk mendukung laju pertumbuhan 8% sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

ADVERTISEMENT

‘’Untuk menghindari persepsi bahwa LCPKS bersifat berbahaya, meskipun tidak mengandung unsur B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), perlu dilakukan perubahan istilah LCPKS dari limbah cair menjadi air limbah,’’ ungkap Prof Yanto dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/2/2025).

Dia mengungkapkan, hal tersebut merupakan sejumlah kesepakatan dari Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Penyempurnaan Kebijakan Peraturan Pengolahan/Pemanfaatan LCPKS secara Optimal dan Berkelanjutan’ yang diadakan PUSAKA KALAM, pada pekan lalu di Bogor, Jawa Barat. 

Yanto menjelaskan, LCPKS terproses memiliki berbagai kandungan hara yang dapat dijadikan sebagai nutrisi organik bagi tanaman kelapa sawit melalui land application (LA). LA merupakan salah satu teknik pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan cara mengalirkan limbah cair melalui sistem parit ke kebun.

‘’Keuntungan agronomis, berdasarkan kajian data dari 15 pabrik kelapa sawit (PKS), sebanyak 80% mengalami peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) pada lahan yang diaplikasikan LCPKS dibandingkan dengan lahan yang tidak diaplikasikan, sedangkan 20% tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan,’’ jelas Ketua Dewan Pakar Pusaka Kalam ini.

Yanto juga mengungkapkan bahwa LCPKS terbentuk dari senyawa-senyawa karbon yang dapat berpotensi dijadikan sebagai sumber bahan bakar terbaharukan bagi kendaraan maupun pembangkit tenaga listrik. Selain itu, pemanfaatan LCPKS melalui sistem methane capture atau biodigester dapat mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

‘’Meskipun investasi awal tinggi pada teknologi methane capture dan biodigester, keuntungan yang diperoleh dari penggantian BBM untuk boiler dan penjualan cangkang kelapa sawit memberikan nilai ekonomi yang signifikan,’’ jelasnya.

Methane capture merupakan teknologi yang digunakan untuk menangkap gas metana hasil pembakaran limbah sawit. Adapun biodigester adalah alat yang digunakan untuk mengubah limbah organik menjadi biogas.

Karena itu, dengan adanya land application, dapat menguntungkan secara ekonomi dalam penghematan pupuk sekitar Rp57 miliar per tahun per PKS. Nilai ini menunjukkan potensi besar dalam efisiensi biaya produksi melalui pengelolaan limbah cair yang berkelanjutan.

Beberapa alternatif dari pemanfaatan LCPKS selain LA dan MC, misalnya dengan pengolahan berbasis alam dengan kombinasi LCPKS dan lalat Black Soldier Fly (BSF) dalam jangka panjang dapat menghasilkan produk bioplastik.

Selain itu, diperlukan kajian lebih lanjut mengenai Palm Acid Oil (PAO), salah satu produk turunan LCPKS yang memiliki berbagai manfaat.

Hanya saja, saat ini terdapat berbagai kelemahan dalam penanganan LCPKS dari aspek teknis. Diantaranya, masih kurangnya pemahaman tentang multi-manfaat LCPKS padahal LCPKS memiliki potensi manfaat agronomis, ekonomi, dan lingkungan yang besar.

Selain itu, pembangunan kolam IPAL masih banyak ditemukan bersifat tidak permanen (tidak menggunakan konstruksi beton) sehingga dikhawatirkan akan terjadinya kebocoran.

‘’Patut diduga masih terdapat beberapa perusahaan yang kurang disiplin dalam pelaksanaan aplikasi LCPKS di lapangan sehingga terindikasi adanya kebocoran/limpasan LCPKS yang menyebabkan pencemaran lingkungan,’’ ungkapnya.

Yanto juga menyebut minimnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengawasan industri sawit. ‘’Investasi terhadap teknologi pengelolaan LCPKS tergolong mahal sehingga diperlukan adanya sistem insentif yang berkelanjutan agar pengelolaan LCPKS dapat optimal,’’ tandasnya.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 17 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 19 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia