Jumat, 15 Mei 2026

Industri Tekstil RI Bisa Semakin Terpuruk Karena Tarif Trump

Penulis : Bambang Ismoyo
3 Apr 2025 | 17:57 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Reuters)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Reuters)

JAKARTA, investor.id – Center Economics and Law Studies (Celios) membeberkan sejumlah sektor industri akan merasakan adanya kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS). Presiden AS, Donald Trump menargetkan tarif impor sejumlah negara termasuk beberapa mitra dagang terdekatnya, termasuk Indonesia.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira mengungkapkan, salah satu sektor yang akan merasakan dampaknya yaitu industri pakaian jadi dan tekstil. Dengan demikian, sektor padat karya itu semakin terpuruk.

“Sektor padat karya seperti pakaian jadi dan tekstil diperkirakan makin terpuruk. Sebagian besar brand internasional yang ada di Indonesia, punya pasar besar di AS,” papar Bhima kepada B-Universe, Kamis (3/4/2024).

ADVERTISEMENT

“Begitu kena tarif yang lebih tinggi, brand itu akan turunkan jumlah order atau pemesanan ke pabrik Indonesia,” imbuh dia.

Tak cuma itu, dampak lainnya adalah Indonesia akan semakin diserbu produk-produk tekstil impor mulai dari China, Vietnam, bahkan Kamboja. Sebab, negara-negara tersebut akan mengincar pasar alternatif lainnya seperti Indonesia, usai AS menerapkan kebijakan tarif impor yang dimaksud.

Terlebih, revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024, yang merupakan perubahan ketiga atas Permendag Nomor 36 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor, masih belum rampung.

“Kita bakal dibanjiri produk Vietnam, Kamboja dan China karena mereka incar pasar alternatif. Permendag 8/2024 belum juga direvisi, jadi ekspor sulit, impor akan menekan pemain tekstil pakaian jadi domestik,” beber Bhima.

Di samping itu, sektor otomotif dan elektronik juga akan merasakan dampak tarif Trump. Dari 2019 hingga 2023, rata-rata pertumbuhan ekspor produk di sektor tersebut sebesar 11% per tahun. Ke depan, pertumbuhannya diperkirakan bakal semakin menyusut.

“Dengan tarif resiprokal 32%, sektor otomotif dan elektronik Indonesia diujung tanduk,” jelas Bhima, seraya menyatakan bahwa ekspor terbesar Indonesia ke AS adalah komponen elektronik.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 37 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 41 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia