Jumat, 15 Mei 2026

Pelaku Sektor Energi Buka Suara Soal Tarif Trump

Penulis : Vinnilya Huanggrio
10 Apr 2025 | 16:46 WIB
BAGIKAN
Continuous Barge Unloader (CBU), Tanjung Pemancingan, Kotabaru, Kalimantan Selatan. (Sumber: PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk, BIPI)
Continuous Barge Unloader (CBU), Tanjung Pemancingan, Kotabaru, Kalimantan Selatan. (Sumber: PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk, BIPI)

JAKARTA, investor.id – Pelaku industri energi menanggapi kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia. Salah satunya diungkapkan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).

Komisaris Utama PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk, Achmad Widjaja menyampaikan, Indonesia semestinya tidak perlu merasa cemas, lantaran memiliki sumber daya mineral yang melimpah. Ini yang telah dan akan menopang pertumbuhan ekonomi Tanah Air ke depan.

“Indonesia hidup dari industrialisasi primer bukan sekunder. Kita hidup dari kondisi perekonomian yang ditopang dengan tambang mineral,” sebut Achmad Widjaja dalam Corporate Insight, Kamis (10/4/2025).

ADVERTISEMENT

Achmad yang juga WKU Bidang Advokasi Industri & ALB Kadin Indonesia menyebut bahwa Indonesia memiliki industrialisasi di sektor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan perikanan yang ikut berkontribusi besar terhadap perkembangan produk domestik bruto (PDB). Adapun PDB Indonesia cenderung stabil di level 5% secara year on year (yoy).

“Bahkan saat kita menghadapi pandemi Covid-19, kita masih di level 5% karena kita cukup kuat dalam hal itu (industri primer),” jelas dia.

Oleh sebab itu, Achmad menyatakan, Indonesia tak perlu panik dengan tarif resiprokal AS. Hanya saja, momen ini bisa menjadi koreksi diri bagi pemerintah untuk memperbaiki berbagai regulasi di dalam negeri, khususnya mengenai sinkronisasi dan koordinasi antar kementerian/lembaga (K/L).

“Menko Perekonomian dan Menkeu sudah memberi jaminan kepada pengusaha. Satu, dalam hal menjalankan kebijakan fiskal. (Dua) dan Pak Airlangga telah menyarankan produk-produk mana saja yang mesti diseimbangkan ekspor-impornya,” jelas Achmad.

Arah Kebijakan Energi

Di tengah dinamika global, Achmad menilai dampak langsung tarif resiprokal AS ke industri energi domestik relatif terbatas. Pasalnya, Indonesia telah melakukan banyak pengembangan di sektor Liquefied Natural Gas (LNG), meski untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG) masih banyak bergantung pada impor.

Secara keseluruhan, cadangan energi nasional dinilai cukup untuk menopang berbagai proyek strategis. Meski begitu, patut menjadi perhatian utama saat ini justru soal arah kebijakan energi ke depan.

Dia bilang, para pelaku usaha menantikan arahan yang lebih tegas dari pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, mengenai strategi ketahanan energi nasional. Ini adalah sesuatu yang dalam 1-2 dekade terakhir belum benar-benar menjadi fondasi maupun utama agenda industrialisasi.

“Tinggal menunggu instruksi presiden, energi ini ketahanannya mau ke mana. Itu yang kita tunggu sebagai pengusaha,” tandas Achmad. 

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 53 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia