Jumat, 15 Mei 2026

Efek Tarif AS, Industri Baja Waswas Produk China Kian Banjir di Pasar RI

Penulis : Bambang Ismoyo
11 Apr 2025 | 15:35 WIB
BAGIKAN
Ketua IISIA Muhammad Akbar Djohan di kantor PT Krakatau Steel, Jakarta, Jumat (11/4/2025). (B-Universe Photo/Bambang Ismoyo)
Ketua IISIA Muhammad Akbar Djohan di kantor PT Krakatau Steel, Jakarta, Jumat (11/4/2025). (B-Universe Photo/Bambang Ismoyo)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau The Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mewanti-wanti dampak buruk dari fenomena perang tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Hal tersebut akan membuat China enggan menjual produknya ke AS, dan mencari pasar alternatif seperti Indonesia.

Imbasnya, Indonesia akan merasakan dampaknya, yakni produk-produk impor asal negeri Tirai Bambu akan membanjiri pasar dalam negeri. Terutama produk-produk besi dan baja.

Ketua IISIA Muhammad Akbar Djohan mengungkapkan, China merupakan negara penghasil produk besi dan baja terbesar di dunia. Angka produksinya mencapai 1,2 miliar ton per tahun.

ADVERTISEMENT

“Dampak dari adanya tarif yang dikeluarkan Presiden AS tidak berdampak langsung kepada kita, tapi yang perlu diantisipasi produk-produk (China) yang harusnya ke AS, ini pasti mencari pasar,” ungkap Akbar Djohan di kantor PT Krakatau Steel, Jakarta, Jumat (11/4/2025).

“Salah satunya Indonesia, ini yang perlu kita antisipasi. Global supply chain tidak bisa dicegah dan di luar kontrol kita," imbuh dia.

Akbar bilang, untuk menekan arus besi dan baja impor, diperlukan peran pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait. Menurutnya, kebijakan ini sangat penting untuk menciptakan persaingan yang adil, serta memberikan ruang bagi produsen dalam negeri untuk berkembang.

Dia juga menyatakan bahwa industri besi dan baja merupakan sektor penting. Apabila ekosistem industri ini dapat dimaksimalkan, maka dapat berkontribusi kepada target pemerintah dalam mengejar pertumbuhan ekonomi di angka 8%. Bahkan, ekosistem industri besi dan baja setidaknya dapat memberikan lapangan kerja sebanyak 10 juta orang.

“Kalau kita mau mengejar pertumbuhan ekonomi 8% per tahun dari program Bapak Presiden, akseleratornya ya industri baja kita,” pungkas Akbar.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia