Jumat, 15 Mei 2026

Produk Dalam Negeri Jadi Pilar Penting Kemandirian Ekonomi Bangsa

Penulis : Imam Suhartadi
13 Apr 2025 | 13:28 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi ekonomi. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi ekonomi. (Foto: Pixabay)

JAKARTA, investor.id - Pimpinan Gerakan Beli Indonesia Dr (HC) Heppy Trenggono, M.Kom mengatakan, negara-negara besar di dunia semakin agresif melindungi ekonominya lewat proteksionisme dan kebijakan antidumping.

Bahkan, Amerika Serikat secara terang terangan bicara tentang proteksionisme dengan menetapkan tarif yang tinggi  demi melindungi industri dan pasar dalam negeri.

Dalam dunia yang kian tak ramah dalam ekonomi global maka Indonesia harus berani berdiri di atas kaki sendiri dengan mengkonsolidasikan kekuatan konsumsi nasional.

ADVERTISEMENT

Presiden Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) ini menambahkan, Gerakan Beli Indonesia hadir sebagai respons terhadap persoalan tersebut.

Gerakan ini menjadi gerakan moral dan ekonomi untuk mengajak rakyat Indonesia untuk membeli produk anak bangsa, untuk membela bangsa sendiri. Produk dalam negeri penting menjadi pilar penting menuju kemandirian bangsa.

"Gerakan Beli Indonesia perlu dilakukan sebagai salah satu strategi nasional untuk menavigasi arah pembangunan. Dengan Presiden sebagai pemimpin moral, dan seluruh elemen bangsa sebagai penggeraknya, kita akan membangun benteng ekonomi dari dalam," kata Heppy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (13/4/2025).

Amerika Serikat kini terang terangan bicara tentang proteksionisme dengan menetapkan tarif hingga 100% demi melindungi industri dan pasar dalam negeri. 

"Uni Eropa, India, dan Kanada membangun benteng ekonominya dengan berbagai regulasi antidumping dan kampanye nasionalisme ekonomi. Di Jepang, masyarakat secara sukarela menolak membeli produk asing sebagai bentuk loyalitas ekonomi nasional," ujarnya.

Produk Dalam Negeri Jadi Pilar Penting Kemandirian Ekonomi Bangsa
Presiden Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) Dr (HC) Heppy Trenggono, M.Kom yang juga Pimpinan Gerakan Beli Indonesia.

Lebih dari 60 perusahaan tekstil tutup, lanjut dia, sekitar 14.000 tenaga kerja kehilangan pekerjaan Begitupula pabrik baja nasional gulung tikar karena kalah bersaing dengan baja murah dari luar. 

"UMKM pun megap-megap, omzet turun hingga 60%, pasar diserbu produk impor bahkan pakaian bekas ilegal yang melenggang bebas di pasar," terangnya.

Heppy Trenggono menambahkan, inilah ironi besar negeri yang memiliki lebih dari 280 juta penduduk dimana pasar domestik terbesar keempat di dunia namun belum menyadari bagaimana memanfaatkan kekuatannya sendiri.

Kehidupan ekonomi masih banyak bergantung pada kekuatan luar. Absennya pembangunan karakter bangsa membuat masyarakat terbiasa tidak peduli apakah yang dibeli produk anak bangsa atau produk asing. 

"Bahkan, juga tidak peduli kalaupun produk asing itu payah dalam kualitas, atau berasal dari praktik curang seperti undervaluation atau dumping yang meruntuhkan pelaku ekonomi dalam negeri," ungkapnya.

Gerakan Beli Indonesia, lanjut dia, berupaya menghidupkan ruh nasionalisme ekonomi. Sejak tahun 2011, kata Heppy , Gerakan Beli Indonesia hadir sebagai respons terhadap persoalan tersebut.

"Dalam senyap, gerakan ini dijalankan di berbagai ormas, berbagai komunitas, kampus, pesantren, bahkan di beberapa pemerintahan daerah. Banyak diantaranya membuahkan hasil yang terukur," tegasnya.

Dijelaskan Heppy Trenggono, di Kabupaten Kulon Progo, provinsi DIY misalnya, implementasi Gerakan Beli dan Bela Kulon Progo terbukti mampu menurunkan angka kemiskinan hingga 6,25% dalam satu tahun. 

Diungkapkan Heppy, Gerakan Beli Indonesia dilakukan sebagai bentuk kesadaran pentingnya membangun karakter bangsa, membangkitkan kecintaan terhadap tanah air, menumbuhkan semangat voluntarisme dan keikhlasan, melalu keteladanan dan kesungguhan para pemimpinnya.

"Jika Buy American, Buy British, Swadeshi bisa mengubah arah sejarah Amerika, Inggris dan India, maka Gerakan Beli Indonesia pun bisa menjadi tonggak kemandirian ekonomi Indonesia," ungkap Heppy.

"Sebagai sebuah bangsa dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, dengan populasi terbesar ke empat di dunia, Kita harus mampu memilih jalan sendiri jalan menuju cita cita menjadi sebuah bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur," pungkasnya.

Editor: Imam Suhartadi

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia