1,5 Juta UMKM Andalkan Layanan Pengantaran dan Mobilitas Digital untuk Memperluas Pasar
JAKARTA, investor.id – Direktur Eksekutif Asosiasi Mobilitas dan Pengantaran Digital Indonesia (Modantara), Agung Yudha mengatakan, banyak UMKM menggunakan layanan pengantaran dan mobilitas digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas dari sekedar area mereka beroperasi. Diperkirakan saat ini industri ojol, taksol, dan kurol ini menaungi lebih dari 1,5 juta UMKM.
“Tanpa platform layanan pengantaran dan mobilitas digital maka bisnis mereka (UMKM) bisa stagnan atau bahkan rugi,” kata Agung dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (22/4/2025).
Berdasarkan riset dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics, pada tahun 2019, kontribusi industri mobilitas dan pengantaran digital terhadap perekonomian Indonesia mencapai Rp 127 triliun.
Setiap peningkatan sebesar 10 persen pada jumlah mitra pengemudi, secara signifikan akan berkontribusi pada peningkatan tenaga kerja di industri mikro dan kecil sebesar 3,93 persen
Dia mengkuatirkan adanya reklasifikasi mitra sebagai pegawai maka berpotensi untuk menekan perusahan teknologi pengantaran digital untuk menaikan harga yang dibebankan kepada pengguna layanan. Hal ini dapat berdampak pada naiknya beban operasional yang lebih besar bagi pengguna terutama UMKM.
“Bisnis yang sangat bergantung pada delivery seperti restoran, supermarket, apotek, dan e-commerce akan mengalami penurunan penjualan drastis,” ujarnya.
UMKM yang tidak punya outlet fisik kuat atau tidak punya banyak pelanggan setia akan lebih terdampak. Sedangkan restoran yang hanya beroperasi secara online akan kehilangan jalur utama penjualan dan hanya dapat bergantung pada area penjualan dimana outlet fisik berada.
Ribuan mitra pengemudi dikuatirkan kehilangan penghasilan atau pekerjaan, karena serapan tenaga kerja pasti mengalami recruitment barrier, dan hanya sebagian kecil dari mitra pengemudi yang ada sekarang yang bisa terserap.
“Diperkirakan hanya 10-30% yang terserap, atau terjadi penurunan sebesar 70-90%. Ini berarti potensi lonjakan pengangguran informal di kota besar, dan menambah beban negara,” katanya.
Turunnya penghasilan pengemudi, lanjut dia, bisa menurunkan daya beli, yang mempengaruhi sektor lain seperti makanan, kebutuhan pokok, dan layanan finansial, misalnya cicilan motor atau pinjaman online.
Pendapatan jutaan UMKM, lanjut dia,bergantung pada platform digital serta meningkatnya pengangguran. Kebijakan ini akan menghilangkan kemampuan platform digital sebagai bantalan ekonomi nasional.
“Jika kita menggunakan multiplier ekonomi yang sering digunakan untuk perhitungan sektor jasa maka dampaknya bisa sekitar Rp 178 triliun,” katanya.
Editor: Imam Suhartadi
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






