Krakatau Steel Produksi Massal Baja Tahan Gempa
JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) bersama PT Krakatau Posco memulai produksi massal baja tahan gempa (seismic grade steel) untuk memenuhi kebutuhan material konstruksi di wilayah-wilayah Indonesia yang rawan bencana gempa bumi. Kerja sama joint venture ini sekaligus menandai kemajuan signifikan dalam upaya mencapai kemandirian industri baja nasional.
Inovasi produk baja tahan gempa memiliki kemampuan menahan deformasi akibat getaran gempa yang kuat, serta sifatnya yang mudah dimodifikasi dan diperbaiki jika terjadi kerusakan.
Mengutip kejadian gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Myanmar baru-baru ini, menyadarkan pentingnya baja tahan gempa. Sementara gedung pencakar langit di negara tetangga, Thailand, yang masih dalam tahap pembangunan runtuh seketika karena getaran tersebut.
“Inovasi produk ini memenuhi standar ketahanan gempa untuk wilayah seismik seperti Indonesia,” ujar Pakar Teknik Sipil Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Bambang Suhendro yang terlibat dalam pengujian di Laboratorium Bahan Konstruksi UI.
Meski telah menunjukkan kemajuan signifikan, industri baja nasional masih menghadapi tantangan besar. Di mana kapasitas produksi saat ini baru mampu memenuhi sekitar 45% dari total kebutuhan nasional.
Untuk mengatasi hal tersebut Krakatau Steel menyusun strategi komprehensif yang mencakup dua hal. Pertama, reaktivasi pabrik ISM BF yang akan menambah kapasitas produksi sebesar 1,2 juta ton per tahun. Kedua, kolaborasi riset dengan BRIN untuk mengembangkan generasi baru material konstruksi, termasuk baja ramah lingkungan (green steel).
Bergantung Impor
Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI menunjukkan, Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Sekitar 60% kebutuhan baja khusus konstruksi, termasuk material tahan gempa, masih diimpor dari Jepang dan Korea Selatan.
Masalah ketergantungan itu tidak hanya berdampak pada biaya proyek yang lebih tinggi, tetapi juga membuat pembangunan infrastruktur rentan terhadap fluktuasi pasokan global.
Namun seiring beroperasinya Krakatau Posco Phase 2, kapasitas produksinya telah menjadi 3 juta ton baja per tahun, termasuk jenis seismic grade. Produk andalannya, baja SNI 2052:2020, telah melalui serangkaian uji ketat dan berhasil membuktikan kemampuan ductility serta ketahanan deformasi yang memenuhi standar ketahanan gempa.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI pun mendukung penuh penggunaan baja tahan gempa dalam negeri. Kebijakan ini diperkuat melalui Permen PUPR No. 13 Tahun 2019 yang mewajibkan penggunaan baja tulangan SNI untuk proyek infrastruktur.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






