Industri Baja Perlu Terapkan Prinsip Keberlanjutan
JAKARTA Investor.id – Industri baja dinilai perlu menerapkan prinsip keberlanjutan dalam aktivitas produksi. Sebab, sektor ini memiliki emisi karbon tinggi, sehingga perlu mengadopsi teknologi yang lebih bersih, efisien, dan transparan.
Seiring dengan itu, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP/GGRP), salah satu produsen baja terintegrasi terbesar di Indonesia, kembali menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan. Kali ini, melalui keikutsertaan dalam Forum Industri Hijau (FIH) 2025 yang diselenggarakan di Bandung, 30 April lalu.
Mengusung tema ”Mendorong Implementasi Industri Hijau di Indonesia”, forum ini menjadi wadah kolaborasi strategis antara pelaku industri, industri kecil dan menengah (IKM), akademisi, asosiasi industri, dan lembaga internasional. Forum yang diinisiasi Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ini merupakan bagian dari rangkaian menuju The 2nd Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 yang akan digelar Agustus mendatang di Jakarta.
Dalam forum tersebut, GRP hadir sebagai salah satu narasumber dalam sesi bertema “Praktik Terbaik Penerapan Industri Hijau.” Pada sesi tersebut, GRP berbagi pengalaman terkait transformasi perusahaan yang telah dijalankan di sektor industri baja tanah air.
Dalam presentasinya, Presiden Direktur GRP Fedaus menekankan, keberlanjutan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi bisnis GRP. GRP, kata dia, telah mengimplementasikan proses produksi berbasis teknologi electric arc furnace (EAF) sepenuhnya, dengan sekitar 70% bahan baku berasal dari scrap. Pendekatan ini tidak hanya mampu mengurangi emisi karbon secara signifikan, tetapi juga memperkuat kontribusi terhadap ekonomi sirkular.
Selain itu, dia menerangkan, GRP mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dengan kapasitas terpasang sebesar 9,3 megawatt-peak (MWp), menjadikannya salah satu instalasi rooftop solar terbesar di Jawa Barat.
Berbagai capaian keberlanjutan GRP ini, kata dia, telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah dan lembaga independen. Perusahaan telah meraih sertifikasi Standar Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian dan Green Label Indonesia dari Green Product Council Indonesia (GPCI) dengan predikat Gold.
GRP, demikian Fedaus, juga telah mengadopsi Environmental Product Declaration (EPD) untuk meningkatkan transparansi jejak karbon pada produk-produknya, serta mempersiapkan perushaan dalam menghadapi implementasi regulasi berskala global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).
Dalam forum yang dihadiri 300 lebih peserta ini, GRP tampil berdampingan dengan pelaku usaha lain yang juga membagikan langkah konkret menuju industri yang lebih hijau. Diskusi panel mengeksplorasi strategi dekarbonisasi sektor manufaktur, adopsi teknologi rendah karbon, serta pentingnya arah kebijakan yang mendukung investasi hijau.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan, forum ini menjadi momentum awal untuk membangun konsolidasi, memperkuat inovasi, dan menyatukan langkah menuju AIGIS 2025. Dia juga menekankan pentingnya percepatan transformasi industri nasional dalam merespons krisis iklim, tuntutan efisiensi sumber daya, dan dinamika pasar global.
Pemerintah, lanjut dia, menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sektor industri sebesar 31% hingga 43% pada 2030, dan mencapai net zero emission (NZE) di tahun 2050.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler




