Pragmatis Demi Transisi Energi
JAKARTA, investor.id – Pendekatan pragmatis diyakini dapat memuluskan upaya transisi energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Pendekatan pragmatis—yang bertumpu pada utilitas dan kegunaan—punya urgensi tersendiri, alih-alih berfokus pada desain indah tapi kerap salah sasaran.
Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina NRE, Fadli Rahman mengatakan, transisi ke energi baru dan terbarukan kerap menemui masalah pada tatanan regulasi hingga implementasi. Duduk masalahnya, regulasi yang ada tak tepat sasaran, lantaran produk, tipe, dan tantangan punya karakteristik berbeda untuk masing-masing sektor turunan EBT.
Produk hingga tantangan yang berbeda itu mencerminkan kompleksitas EBT. Tapi sayangnya, regulasi cuma mengatur satu model, sehingga kurang relevan.
“Isunya kompleks, tidak ada regulasi, kita tidak bisa, there is no one size fits all model, yang satu, misalkan apakah solar versus biothermal, bahkan biofuel aja, biodiesel, dengan bio natural, membutuhkan regulasi yang berbeda,” jelas Fadli dalam acara Energi Mineral Forum 2025 yang digelar B-Universe bersama Kementerian ESDM di Jakarta, pada Senin (26/5/2025)
Fadli pun menegaskan, transisi energi ini harus realistis. Tak cuma sekadar transisi energi, dunia bahkan membicarakan isu penambahan energi (energy addition). Istilah ini merujuk pada kata “transisi” yang mungkin dapat menyesatkan, karena menghambat upaya kebijakan EBT.
“Sebelumnya saya baca artikel dari Daniel Yergin, seorang nobelis yang menuliskan beberapa hal penting. Yang lebih kontroversial lagi adalah ini sebenarnya bukan energy transition tetapi energy addition. Apakah kita siap untuk menerima kenyataan bahwa kita bisa berbicara terkait dengan transisi energi?” terang Fadli.
Oleh karena itu, Fadli menegaskan pemerintah perlu melihat lagi seberapa besar kebutuhan industri terhadap energi bersih. Tanpa kebutuhan, pasokan yang dibangun di hulu akan percuma dan malah akan berbalik jadi bencana.
“Jadi yang terpenting itu pragmatic approach-nya, bukan melihat ke yang desain programnya. Itu adalah kesalahan selama ini meskipun potensi kita itu memang besar sekali,” beber Fadli.
Demi Kemandirian Bangsa?
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






