Jumat, 15 Mei 2026

Pragmatis Demi Transisi Energi

Penulis : Indah Ayu Pujiastuti
26 Mei 2025 | 19:57 WIB
BAGIKAN
(kiri-kanan) Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina NRE Fadli Rahman, Executive Director Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Yudha Permana Jayadikarta dan Head of Strategic Development ICDX Zulfal Faradis, menjadi pembicara saat 2025 Energi Mineral Forum di Jakarta, Senin (26/5/2025). (Investor Daily/David Gita Roza)
(kiri-kanan) Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina NRE Fadli Rahman, Executive Director Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Yudha Permana Jayadikarta dan Head of Strategic Development ICDX Zulfal Faradis, menjadi pembicara saat 2025 Energi Mineral Forum di Jakarta, Senin (26/5/2025). (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Pendekatan pragmatis diyakini dapat memuluskan upaya transisi energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Pendekatan pragmatis—yang bertumpu pada utilitas dan kegunaan—punya urgensi tersendiri, alih-alih berfokus pada desain indah tapi kerap salah sasaran.

Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina NRE, Fadli Rahman mengatakan, transisi ke energi baru dan terbarukan kerap menemui masalah pada tatanan regulasi hingga implementasi. Duduk masalahnya, regulasi yang ada tak tepat sasaran, lantaran produk, tipe, dan tantangan punya karakteristik berbeda untuk masing-masing sektor turunan EBT.

Produk hingga tantangan yang berbeda itu mencerminkan kompleksitas EBT. Tapi sayangnya, regulasi cuma mengatur satu model, sehingga kurang relevan.

ADVERTISEMENT

“Isunya kompleks, tidak ada regulasi, kita tidak bisa, there is no one size fits all model, yang satu, misalkan apakah solar versus biothermal, bahkan biofuel aja, biodiesel, dengan bio natural, membutuhkan regulasi yang berbeda,” jelas Fadli dalam acara Energi Mineral Forum 2025 yang digelar B-Universe bersama Kementerian ESDM di Jakarta, pada Senin (26/5/2025)

Fadli pun menegaskan, transisi energi ini harus realistis. Tak cuma sekadar transisi energi, dunia bahkan membicarakan isu penambahan energi (energy addition). Istilah ini merujuk pada kata “transisi” yang mungkin dapat menyesatkan, karena menghambat upaya kebijakan EBT.

“Sebelumnya saya baca artikel dari Daniel Yergin, seorang nobelis yang menuliskan beberapa hal penting. Yang lebih kontroversial lagi adalah ini sebenarnya bukan energy transition tetapi energy addition. Apakah kita siap untuk menerima kenyataan bahwa kita bisa berbicara terkait dengan transisi energi?” terang Fadli.

Pragmatis Demi Transisi Energi
Ilustrasi: Investor Daily

Oleh karena itu, Fadli menegaskan pemerintah perlu melihat lagi seberapa besar kebutuhan industri terhadap energi bersih. Tanpa kebutuhan, pasokan yang dibangun di hulu akan percuma dan malah akan berbalik jadi bencana.

“Jadi yang terpenting itu pragmatic approach-nya, bukan melihat ke yang desain programnya. Itu adalah kesalahan selama ini meskipun potensi kita itu memang besar sekali,” beber Fadli.

Demi Kemandirian Bangsa?

Transisi energi dari energi fosil ke EBT merupakan langkah penting dalam mencapai kemandirian bangsa. Sebab, transisi energi bukan hanya memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, tapi juga dapat didorong menjadi pilar utama pondasi ketahanan energi.

“Sekarang ini kita seringkali mendengar kita terkait dengan krisis energi, ketegangan geopolitik, dan perubahan iklim. Jadi Indonesia tidak bisa lagi tergantung pada sumber energi fosil,” papar Executive Director Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Yudha Permana Jayadikarta.

Yudha mengatakan, Indonesia membutuhkan transformasi yang besar untuk menuju energi bersih dan rendah emisi. Pihaknya bahkan meyakini bahwa energi bersih bukan hanya soal teknis, tapi juga soal struktural yang menjawab kebutuhan ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan. Oleh karena itu, pemerintah harus memformulasikan sedemikian rupa kebijakan EBT.

“Betul tidak ada satu kebijakan yang bisa untuk semua, tapi mungkin bisa mulai dari beberapa sektor energi terbarukan. Saya pernah memang melihat bappenas sudah memetakan, tentang wilayah-wilayah yang mana yang cocok untuk pengembangan energi yang mungkin yang perlu direalisasikan,” papar Yudha.

Hal senada juga disampaikan, Head of Strategic Development ICDX, Zulfal Faradis yang menyatakan bahwa transisi energi di Indonesia masih dihadapkan banyak tantangan seperti regulasi, pendanaan, dan insentif. Dia mendorong pemerintah mengalirkan insentif untuk menyulut semangat pelaku pasar untuk mengembangkan EBT ini menjadi lebih masif.

“Dari sektor swasta, pemerintah (bisa) mendorong pelaku usaha untuk proaktif mengurangi emisi karbon, menerapkan praktik keberlanjutan, dan berinovasi dalam teknologi dapat lingkungan termasuk efisiensi energi, ekonomi sirkular, dan pelaporan jejak karbon produk,” terang Zulfal.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia