Bahlil Cerita Rumitnya Kejar Swasembada Energi Dibandingkan Swasembada Pangan
JAKARTA, investor.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, untuk mewujudkan swasembada energi di Indonesia memerlukan upaya lebih ekstra serta jauh lebih kompleks, jika dibandingkan dengan swasembada pangan.
Bahlil mengungkapkan saat ini pemerintah era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah mencanangkan sejumlah target yang harus direalisasikan. Beberapa diantaranya swasembada energi dan juga swasembada pangan.
Adapun swasembada energi yang dimaksud adalah mengurangi ketergantungan impor komoditas energi, dan memaksimalkan potensi yang ada di Indonesia. Seperti, mengoptimalkan potensi energi baru dan terbarukan, serta menggenjot produksi minyak dan gas bumi domestik.
“Target Bapak Presiden ini kan harus swasembada energi mengurangi impor,” papar Bahlil dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (2/7/2025). Namun menurut dia, untuk mewujudkan hal tersebut tidak mudah, seperti juga mewujudkan swasembada pangan.
Kendati Bahlil juga menyatakan bahwa untuk mewujudkan swasembada pangan prosesnya cenderung lebih mudah. Bagi dia, hal-hal terpenting dalam mencapai swasembada pangan adalah ketercukupan anggaran, lahan yang memadai, dan ketersediaan pupuk yang memadai. Dengan demikian, maka hasilnya akan mulai terlihat dalam kurun waktu sekitar 3 bulan.
Baca Juga:
Genjot Swasembada Energi dengan EBTBeda dengan upaya mencapai swasembada energi. Dalam hal menggenjot lifting minyak dan gas misalnya, perlu proses yang lebih panjang. Dibutuhkan modal jumbo, teknologi yang memadai, kegiatan eksplorasi yang memakan waktu panjang, dan barulah dapat dieksekusi.
“Perbedaan antara swasembada pangan dan energi ini berbeda. Kalau pangan itu cukup ada duit, ada lahan, ada pupuk, tiga bulan ada hasil. Tetapi kalau (swasembada) energi, ada duit, ada teknologi, ada wilayah kerja, nanti tunggu tiga tahun baru lihat hasilnya, syukur kalau ada,” sambung Bahlil.
Dalam kesempatan itu pula, Bahlil mengungkapkan usulan target pemerintah terhadap lifting minyak pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2026 sebesar 610 ribu barrel oil per day (BOPD). Angka tersebut meningkat jika dibandingkan target APBN 2025, yang sebesar 605 ribu BOPD.
Bahlil optimistis target-target yang telah ditetapkan bakal terealisasi, dengan berbagai upaya. Terlebih, Presiden Prabowo telah mencanangkan Indonesia dapat swasembada energi pada tahun 2029-2030 atau lebih cepat.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Tag Terpopuler
Terpopuler






