Jumat, 15 Mei 2026

Beras Oplosan Disinyalir Penyebab Harga Selalu Naik

Penulis : Muhammad Farhan
14 Jul 2025 | 16:08 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi. Pedagang menata beras yang dijualnya di Pasar Gondangdia, Jakarta, Jumat (4/7/2025). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Foto ilustrasi. Pedagang menata beras yang dijualnya di Pasar Gondangdia, Jakarta, Jumat (4/7/2025). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

JAKARTA, investor.id – Beras oplosan diduga telah lama beredar di pasaran selama puluhan tahun. Hal ini dikonfirmasi berdasarkan investigasi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan di kala harga beras konsumen terus merangkak naik walau ketersediaannya melimpah bahkan tertinggi selama 57 tahun terakhir.

Peneliti Core Indonesia, Eliza Mardian mengungkapkan praktik beras oplosan oleh sejumlah oknum tak bertanggung jawab dapat menjadi ancaman bagi ketahanan pangan. Fenomena beras oplosan menjadi sinyal kuat adanya permasalahan tata kelola rantai pasok terutama distribusi dalam penjualan beras di tingkat konsumen.

“Dampaknya bagi ketahanan pangan itu ada di ketersediaan pangan. Nah permasalahan utama ini dimulai dari praktik pengoplosan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dengan premium,” ujar Eliza dalam Investor Daily Talk, Senin (14/7/2025).

ADVERTISEMENT

Eliza mengungkapkan, beras SPHP seharusnya disalurkan kepada masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah. Namun karena diserap oleh oknum tak bertanggung jawab dan dioplos menjadi premium, maka praktik ini jadi mengancam ketersediaan pangan secara merata.

“Dengan berkurangnya ketersediaan pangan, itu pasti berpengaruh kepada harga. Ketika banyak SPHP dioplos menjadi premium, berarti ini kan menciptakan suplai yang berlimpah di premium sementara di medium terjadi kekurangan sehingga harga semakin naik,” ungkap Eliza.

Diketahui, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan terdapat 212 merek beras yang tidak sesuai kualitas dalam penjualannya. Menurut Amran, 212 merek beras tersebut kini tengah dalam pemeriksaan lantaran beras yang dijual tidak sesuai regulasi yang telah ditetapkan pemerintah.

"Contoh secara volume, dikatakan itu lima kilogram (kg) padahal 4,5 kg. Kemudian kita temukan 86% penjualan, dikatakan itu beras jenis premium ternyata medium, atau medium ternyata itu beras biasa. Artinya, satu kg selisihnya bisa Rp 2000 - Rp 3000," ungkap Amran dalam video singkat di Makassar, Sabtu (12/7/2025).

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 27 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia