Tarif 19% Belum Cukup, Ekspor Udang ke AS Masih Terancam
JAKARTA, investor.id – Dunia usaha di sektor perikanan Indonesia tengah masih waswas dengan tarif impor Amerika Serikat sebesar 19%, hasil negosiasi dari sebelumnya 32%. Kekhawatiran ini dipicu negara pemasok udang terbesar yang memperoleh tarif jauh lebih rendah.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo mengatakan, tarif 19% terbilang masih tinggi. Kendati lebih rendah dari tarif impor sebesar 32%, tarif terbaru masih memberi membayangi daya saing produk ekspor udang ke AS.
Saat ini nilai ekspor udang Indonesia ke AS bernilai US$ 1,1 miliar, sebuah angka fantastis dan menjadi salah satu komponen ekspor perikanan dengan nilai terbesar. Dengan tarif yang masih relatif tinggi yaitu 19%, Budhi khawatir pasar ekspor udang Indonesia ke AS bakal dicaplok negara lain dengan tarif yang lebih rendah.
“Saya membahas udang. Udang itu yang paling besar kompetitornya adalah Ekuador. Ekuador itu menguasai 60% pasar dunia. Sementara Ekuador hanya kena tarif 10%. Nah ini yang kami akan menjadi sangat sulit,” terang Budhi kepada B-Universe, Rabu (16/7/2025).
Selain Ekuador, Budhi menyebut India dan Vietnam sebagai kompetitor Indonesia pada bidang ekspor udang. Hingga saat ini, diketahui India tengah berusaha untuk bernegosiasi tentang pengenaan tarif impor AS, sementara Vietnam dikenakan tarif 20%.
Budhi menjelaskan, sejak Trump mengumumkan adanya rencana pengenaan tarif impor kepada negara-negara mitranya, AP51 berupaya untuk mencari pasar baru atau melakukan diversifikasi pasar serta melebarkan pasar dalam negeri.
“Tapi keduanya tidak dapat langsung dilaksanakan begitu saja. Masih ada berbagai hambatan-hambatan untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor maupun untuk memasarkan produk ke dalam negeri,” tambahnya.
Di samping AS, China juga menyumbang permintaan udang dan perikanan yang besar. Namun, harga belinya tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan AS. Maka agak sulit bagi para pengusaha perikanan Indonesia menjual produknya ke negeri Tirai Bambu.
“Itu yang pertama. Kedua, kompetitor kami yaitu Ekuador dan India, mereka menjual ke pasar Tiongkok dengan harga yang lebih murah dari kami, sehingga mereka lebih mendominasi daripada kita,” ujar Budhi.
Ia mengaku, pihaknya dalam kurun dua bulan terkahir tengah menjalin komunikasi yang intens dengan buyers asal China, termasuk menyelaraskan kebutuhan mereka, menyesuaikan harga, dan beberapa hal lain. Bhudi berharap besar lobi kali ini dapat berhasil untuk udang Indonesia masuk lebih banyak ke pasar China.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






