Jumat, 15 Mei 2026

Ini Komitmen Google Cloud untuk Keamanan Siber Indonesia

Penulis : Emanuel Kure
18 Jul 2025 | 18:32 WIB
BAGIKAN
Country Director, Indonesia, Google Cloud Fanly Tanto (Foto: Dok PR)
Country Director, Indonesia, Google Cloud Fanly Tanto (Foto: Dok PR)

JAKARTA,investor.id- Google Cloud Indonesia, salah satu lini bisnis Google LLC, meluncurkan program “Indonesia BerdAIa untuk kemanan siber” sebuah program yang berfokus pada keamanan siber dalam memberdayakan organisasi dengan solusi, keahlian, dan pelatihan demi memperkuat ketahanan siber serta lanskap digital Indonesia.

Adapun komponen utama program ini adalah peluncuran Data Region Operasi Keamanan Google Cloud di Indonesia, yang di-hosting di pusat data Google Cloud di Jakarta.

Data Region baru ini memungkinkan lebih banyak organisasi di Indonesia, termasuk lembaga pemerintah dan perusahaan di industri yang teregulasi untuk bisa memanfaatkan platform Google Security Operations yang didukung AI dan berbasis intelijen sambil tetap mematuhi persyaratan lokal terkait residensi data mereka.

ADVERTISEMENT

Country Director, Indonesia, Google Cloud Fanly Tanto mengatakan, kerugian finansial dan reputasi akibat pelanggaran data berakar dari tiga masalah keamanan yang paling mendasar, besarnya jumlah ancaman (threat overload), pekerjaan manual (toil), dan kesenjangan keahlian (talent gap) makin melebar.

“Program ini membantu organisasi mengatasi masalah-masalah ini. Dengan adanya platform operasi keamanan berbasis AI, serta threat intelligence perusahaan dapat menerapkan pendekatan modern dalam mendeteksi, menyelidiki, dan merespons ancaman siber secara lebih cepat dan efektif,” kata Fanly di Jakarta, Kamis (17/7/2025).

Menurut Fanly, saat ini tim keamanan dihadapkan pada threat overload, bahkan mencapai ratusan alert yang perlu dianalisis dan direspons setiap hari. Setiap alert berpotensi menjadi tanda awal dari insiden keamanan besar, meskipun hanya sedikit yang benar-benar perlu mendapat perhatian.

“Untuk itu kehadarian alert triage agent Google Security Operations yang selalu aktif mengatasi threat overload dengan mengumpulkan konteks secara mandiri untuk menemukan aktivitas mencurigakan, menganalisis perintah command line, dan memetakan urutan peristiwa. Alat ini kemudian memberikan penilaian dalam setiap alert, seperti tingkat keparahannya, serta rekomendasi langkah berikutnya,” ungkap Fanly.

Setelah insiden yang diprioritaskan dan diberi konteks ditampilkan, assiten investigasi Google Security Operations mengurangi toil (tugas manual, taktis, dan berulang yang dapat diotomatiskan) yang diperlukan dalam investigasi dan perbaikan yang lebih mendalam.

Misalnya, saat melakukan investigasi terhadap potensi ancaman, seorang security analyst cukup bertanya kepada asisten tentang aktivitas mencurigakan, lalu dia akan menerima ringkasan singkat tentang temuan yang didapat dalam bahasa yang natural.

Analis juga dapat menggunakan bahasa natural untuk membuat kueri penelusuran yang kompleks dalam aktivitas threat hunting dan merancang aturan deteksi canggih untuk mengidentifikasi malware atau teknik pelaku ancaman tertentu, tanpa harus menuliskannya secara manual dalam bahasa komputer khusus.

Lebih jauh, seiring dengan upaya pelatihan untuk memperbanyak jumlah pakar keamanan, AI dapat membantu menjembatani talent gap bagi SOC yang memiliki keterbatasan sumber daya.

Misalnya, dengan memiliki alert triage agent, asisten investigasi, dan asisten playbook, seorang junior security analyst dapat melakukan fungsi lanjutan yang sebelumnya memerlukan keahlian bahasa kueri dan skrip komputasi mendalam, sehingga menambah kemampuan tim keamanan dan membantu mereka melakukan lebih banyak hal tanpa menambah sumber daya.

“Ini merupakan bagian dari visi besar SOC agentic Google Cloud, di mana sistem multi-agen yang terhubung bekerja beriringan dengan para profesional keamanan untuk secara mandiri menangani tugas rutin, membantu pengambilan keputusan, mengotomatiskan alur kerja, dan memberdayakan mereka untuk fokus pada hal yang paling penting, yaitu investigasi kompleks dan tantangan strategis yang memerlukan keahlian manusia,” tutur Fanly.

Editor: Emanuel

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia