Jumat, 15 Mei 2026

Nasib Mebel RI: Tarif Lebih Unggul, tapi Biaya Produksi Kalah dari Malaysia dan Vietnam

Penulis : Ichsan Ali
24 Jul 2025 | 15:55 WIB
BAGIKAN
Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan kursi dari kayu di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)
Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan kursi dari kayu di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)

TANGERANG, investor.id – Industri mebel di tanah air punya daya saing lebih di pasar Amerika Serikat (AS), setelah hasil negosiasi dagang menyatakan tarif bea masuk sebesar 19%. Tapi persoalan biaya produksi dan perizinan masih menghambat mebel Indonesia untuk bersaing dengan Malaysia dan Vietnam.

Hasilnya, keunggulan tarif bea masuk belum bisa optimal karena struktur biaya produk mebel Indonesia masih tinggi untuk dapat diterima di pasar AS. Meski begitu, keunggulan tarif direspons positif oleh pelaku usaha mebel, yang sekaligus berharap adanya penguatan dan pengembangan di sektor ini.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur menyampaikan, pihaknya mengapresiasi upaya pemerintah yang mampu mencapai kesepakatan dagang dengan AS. Tarif bea masuk ke pasar AS yang mulanya ditetapkan 32% menjadi sebesar 19%, termasuk untuk produk ekspor unggulan Indonesia ke AS yaitu mebel.

ADVERTISEMENT

Besaran tarif ini menjadi modal penting untuk produk-produk mebel dan kerajinan Indonesia bersaing dengan kompetitor seperti Malaysia dan Vietnam. Seperti yang diketahui, Malaysia dikenakan tarif bea masuk ke AS sebesar 25% dan Vietnam sebesar 20%.

“Bagaimanapun kan kita bisa unggul ya, 1% (dengan Vietnam). Hanya 1%. Hanya saja mungkin yang perlu dipertimbangkan, bahwa dalam struktur cost, biaya produksi, dan rantai pasok Vietnam dan Malaysia lebih unggul dari kita,” terang Sobur dalam program Investor Market Today, Kamis (24/7/2025).

Dia menyatakan, unggul perihal tarif bea masuk saja belum cukup untuk bisa bersaing. Mebel Indonesia harus meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan daya saing secara penuh untuk menghadapi Vietnam dan Malaysia.

“Mereka lebih efisien, intinya. Jadi artinya selisih 1% dibanding kompetitor kita itu sebenarnya gak cukup. Kurang, kurang sebetulnya,” kata Sobur.

Nasib Mebel RI: Tarif Lebih Unggul, tapi Biaya Produksi Kalah dari Malaysia dan Vietnam
Komoditas ekspor RI ke AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Dia menjelaskan, Indonesia harus mampu mengamankan pasar mebel di AS. Meskipun tarif lebih unggul dengan beberapa kompetitor, tarif 19% sebenarnya juga terbilang lebih tinggi dari yang berlaku sebelumnya. Artinya, harga mebel Indonesia akan lebih mahal untuk dibeli oleh pasar AS.

Di sisi lain, Sobur berharap Indonesia dapat lebih efisien dalam perizinan ekspor mebel dibandingkan Malaysia maupun Vietnam. Salah satu yang ia soroti adalah perihal birokrasi perizinan yang berlapis sehingga menghambat efisiensi waktu.

“Dokumen mereka itu sangat ringkas untuk bisa jadi eksportir yang kuat. Indonesia misalnya butuh 4-5 dokumen, mereka cuma 2 dokumen dengan rentang waktu sehari bisa, Indonesia mungkin 1 minggu ya. Itu kan juga menunjukkan kondisi lapangan,” urai Sobur.

Dengan menimbang kelebihan dan kekurangan dari Indonesia, Malaysia, dan Vietnam di industri mebel, maka persaingan di pasar AS akan menjadi lebih ketat. Bahkan, Indonesia bisa tertinggal dan kehilangan pasar AS jika tak ada perbaikan yang berarti.

“Dengan kondisi sekarang apakah harga-harga yang dibangun oleh teman-teman kita seperti Malaysia dan Vietnam ini mampu bersaing? Pasti,” tandas Sobur.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia