Dilema Listrik Murah
JAKARTA, investor.id – Pemerintah menghadapi dilema dalam transisi energi bersih. Penyediaan listrik khususnya yang berasal dari sumber energi baru terbarukan (EBT) harus terjangkau bagi masyarakat, namun jangan sampai mematikan industri.
Staf khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), M. Pradana Indraputra mengungkapkan situasi dilematis yang dihadapi pemerintah dalam upaya transisi ke energi bersih. Di satu sisi, pemerintah harus memastikan listrik murah untuk masyarakat. Tapi di sisi lain, kebijakan juga jangan sampai menekan bisnis pelaku usaha.
Pradana menjelaskan, sudah menjadi kepentingan pemerintah untuk menekan harga listrik supaya terjangkau oleh masyarakat. Bukan hanya murah, pemerintah juga harus memastikan ketersediaan listrik mudah diaksesuntuk seluruh masyarakat Indonesia.
Sementara itu, pengembang punya hak memperoleh keuntungan sebagai badan usaha dalam penyedia listrik, terutama yang berbasis EBT. Jika harga listrik terlalu rendah, maka bisa mengancam keberlangsungan usaha.
Pelaku usaha harus menanggung biaya produksi yang tidak berubah, walau harga listrik ditekan oleh pemerintah. Selain itu, harga listrik yang terlalu ditekan dapat menghalangi investor masuk ke sektor EBT karena tidak menguntungkan.
“Jadi ini kita perlu cari titik tengahnya. pemerintah tetap konsisten menyediakan energi cukup, energi murah untuk semuanya, sembari transisi ke energi bersih,” kata Pradana dalam acara Investor Daily Talk di Studio Mini Hutan Kota Plataran Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Baca Juga:
Dorong Pemerataan Listrik, Menteri ESDM: Cukuplah Saya yang Sekolah Dulu Tidak Ada ListrikLebih lanjut, ia juga menuturkan bahwa pemerintah terus mendorong pelaku usaha supaya mengadopsi inovasi teknologi. Selain itu, pemerintah mendorong peningkatan konsumsi listrik secara massal (mass consumption) masyarakat.
Kendati demikian, Pradana memandang bahwa transisi energi bersih sudah berjalan dan konsisten diupayakan pemerintah. Wujud nyata komitmen pemerintah yakni Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang menargetkan 70% kapasitas pembangkit listrik baru berasal dari sumber terbarukan.
“Secara teknis menteri ESDM telah mengesahkan RUPTL rencana 10 tahunan. ini menjadi bukti nyata bahwa kita konsisten mengusung energi bersih menuju Indonesia yang berkelanjutan untuk Indonesia lebih hijau,” sebut Pradana.
Ia menambahkan, pemerintah melalui Kementerian ESDM terus berprogres untuk melakukan pensiun dini salah satu PLTU terbesar di Indonesia. Selain itu, tak dapat dipungkiri masih banyak PLTU beroperasi, namun perkembanganya tidak signifikan dibandingkan energi terbarukan.
“PLTU memang masih ada, tapi penambahan tidak signifikan kalau dibandingkan rasio pertumbuhan dengan renewable energy yang jauh sekali,” pungkas Pradana.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






