Sabtu, 4 April 2026

Kritik Manajemen Stok Pangan, Celios: Klaim Pemerintah Sering Beda dengan Realita

Penulis : Addin Anugrah Siwi
17 Feb 2026 | 17:31 WIB
BAGIKAN
Warga membeli bahan pangan saat Gerakan Pangan Murah (GPM) di halaman kantor Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (13/2/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Warga membeli bahan pangan saat Gerakan Pangan Murah (GPM) di halaman kantor Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (13/2/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

JAKARTA, investor.id – Lonjakan harga pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah kembali memicu sorotan tajam. Center of Economics and Law Studies (Celios) menilai fenomena tahunan ini terjadi bukan sekadar karena kenaikan permintaan, melainkan akibat "bobroknya" manajemen stok pangan yang dikelola pemerintah.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menegaskan bahwa peningkatan konsumsi masyarakat saat Ramadan adalah pola rutin yang seharusnya sudah bisa diantisipasi melalui perencanaan kebijakan stabilisasi harga yang matang.

“Kenaikan harga terjadi karena ada kenaikan permintaan. Kenaikan permintaan meningkat hampir setiap kali memasuki Ramadan–Lebaran,” ujar Huda saat dihubungi, Selasa (17/2/2026).

Namun, Huda menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada sisi konsumen, melainkan ketidaksiapan pasokan di pasar saat kebutuhan melonjak. Ia menilai klaim ketersediaan stok yang kerap disampaikan pemerintah sering kali tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Advertisement

“Tantangan utama dalam menjaga stabilitas harga komoditas adalah manajemen stok. Manajemen stok pangan strategis di Indonesia masih bermasalah, di mana klaim pemerintah tinggi, namun di lapangan terjadi kekurangan stok hingga harga tinggi. Jadi ketika ingin melakukan intervensi sudah terlambat,” kata Huda.

Ia menambahkan, pemerintah sebenarnya memiliki instrumen kuat melalui BUMN pangan seperti Perum Bulog dan ID Food. Keberadaan lembaga ini seharusnya menjamin ketepatan waktu dalam pelepasan stok ke pasar (market operation) maupun pengisian kembali (re-stock).

“Kapan harus mengeluarkan, kapan harus melakukan re-stock itu salah satu manajemen stok yang harus dilakukan,” jelasnya.

Selain masalah fisik stok, Celios menyoroti lemahnya sinkronisasi data antar-kementerian dan lembaga (K/L) yang membuat neraca komoditas menjadi tidak akurat. Perbedaan data antara Kementan dan Kemendag berisiko memicu kebijakan impor yang salah sasaran, baik berupa kelebihan pasokan (over supply) maupun kekurangan akut (excess demand).

“Kadang data yang digunakan oleh Kementan dan Kemendag ataupun K/L lainnya berbeda. Efeknya ada selisih kebutuhan impor dengan jumlah yang diekspor. Bisa terjadi over supply atau excess demand,” ungkap Huda.

Tanpa perbaikan fundamental pada sistem pendataan dan manajemen penawaran, Celios memperingatkan bahwa gejolak harga pangan akan terus berulang dan menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Intervensinya bukan dari sisi netralisir permintaan, namun dari sisi penawaran, seperti manajemen stok dan sebagainya,” tegas Huda.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 13 menit yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Business 33 menit yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 54 menit yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.
Business 1 jam yang lalu

Green SM Dapat Dukungan Pembiayaan BCA Rp600 M

Fasilitas pembiayaan dari BCA ditujukan memperkuat kesiapan operasional serta menjaga keberlanjutan layanan Green SM di sejumlah kota.
Market 1 jam yang lalu

Laba Mitratel (MTEL) Rp 2,1 Triliun

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 2,11 triliun tahun 2025.
International 2 jam yang lalu

Serangan Udara Rusia Tewaskan 14 Warga Sipil Ukraina

Rusia luncurkan 500 drone ke Ukraina menjelang Paskah, 14 warga sipil tewas. Zelenskyy tawarkan bantuan amankan Selat Hormuz dari Iran.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia