Harga Minyak Tak Terbendung, Ekonom Perkirakan Dampak ke Defisit APBN akan Signifikan
JAKARTA, investor.id – Eskalasi konflik antara Iran dan Israel berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi 20% pasokan minyak dunia. Kondisi ini diprediksi akan menekan ketahanan fiskal Indonesia seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia yang kini melampaui asumsi APBN.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa gangguan di Selat Hormuz akan memicu kenaikan biaya pengapalan, premi asuransi, serta memperpanjang waktu tempuh kargo. Kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi ancaman serius bagi ruang fiskal pemerintah.
"Dalam kondisi seperti ini, subsidi BBM Indonesia memang berisiko membengkak karena ruang fiskal sudah tertekan oleh kombinasi harga minyak yang melampaui asumsi APBN dan nilai tukar yang lebih lemah dari asumsi," jelas Josua saat dihubungi, Jumat (6/3/2026).
Josua memperkirakan setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar 10% dapat memperlebar defisit anggaran sekitar Rp 77 triliun. Jika harga minyak naik US$ 10 per barel (setara 12–14%), maka tekanan terhadap defisit diperkirakan mencapai 0,12% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Dengan proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) nominal 2026 sekitar Rp 25.578 triliun, tambahan tekanan bersih ke defisit untuk skenario US$ 10 per barel tersebut kira-kira berada di kisaran 0,12% dari PDB,” tuturnya.
Saat ini, pemerintah telah mengalokasikan total subsidi energi sebesar Rp 210 triliun dalam APBN 2026, yang terdiri dari subsidi BBM sebesar Rp 25,1 triliun dan kompensasi energi Rp 171,3 triliun. Namun, lonjakan harga global dapat memperlebar selisih harga keekonomian dengan harga jual domestik.
Pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 19.30 WIB, harga minyak mentah Brent telah menyentuh kisaran US$ 89 per barel, melonjak lebih dari 22% dibandingkan akhir pekan lalu. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 86 per barel, naik sekitar 28% sejak serangan AS-Israel ke Iran terjadi.
Josua menambahkan, realisasi beban subsidi nantinya akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menyesuaikan harga BBM domestik serta pengendalian volume konsumsi di tengah gangguan logistik global. Adapun dalam APBN 2026, asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok sebesar US$ 70 per barel.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






