Jurus Pemerintah Amankan Pupuk Bersubsidi di Tengah Konflik Timteng
Jamin Ketersediaan
Dalam webinar bertajuk Dampak Geopolitik Global terhadap Sektor Pertanian dan Pupuk Nasional yang digelar Tabloid Sinartani bekerja sama dengan PIHC, beberapa waktu lalu, PIHC menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani. PIHC memastikan konflik di Timteng tidak akan mengganggu ketersediaan pupuk nasional. SVP Pemasaran PIHC Junianto Simare Mare mengatakan, dari sisi kapasitas produksi, PIHC menempati posisi strategis di tingkat global. PIHC tercatat sebagai salah satu produsen amonia dan urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timteng, dan Afrika Utara.
Kapasitas produksi urea PIHC 9,4 juta ton per tahun, melampaui produsen besar dunia China dan Qatar. Sementara produksi pupuk NPK mencapai 4,6 juta ton dan pupuk lainnya 0,8 juta ton per tahun. Tahun ini, PIHC menargetkan produksi urea 7,9 juta ton dengan kebutuhan domestik diperkirakan 6,4 juta ton, termasuk pupuk bersubsidi.
Surplus produksi itulah yang membuka peluang bagi Indonesia memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisinya sebagai pemain penting di industri pupuk global. “Ini jadi peluang strategis bagi RI untuk tampil sebagai salah satu pemasok urea di pasar internasional, terutama di tengah terganggunya pasokan global,” jelas Junianto.
Meski punya kekuatan produksi dan distribusi, PIHC tidak menampik konflik di Selat Hormuz tetap berdampak signifikan terhadap pasar global. Kawasan itu merupakan jalur vital perdagangan berbagai bahan baku pupuk, seperti fosfat, kalium (KCl), dan sulfur. Bahkan, kontribusi ekspor global yang melewati Selat Hormuz terbilang besar, sekitar 34% untuk urea, 21% fosfat, dan 50% bagi sulfur.
Sejumlah negara produsen utama juga di kawasan itu, Iran menyumbang sekitar 16% produksi urea dunia serta kontribusi China dan Nigeria masing-masing 14% dan 12%. Untuk fosfat, Yordania jadi salah satu produsen utama, sedangkan sulfur banyak dipasok dari negara-negara Timteng seperti Arab Saudi dan Qatar.
Artinya, penutupan Selat Hormuz tentu memberikan tekanan terhadap rantai pasok global. Namun demikian, untuk Indonesia, dampaknya relatif dapat dikendalikan, terutama produk urea. Hal itu tidak terlepas dari ketersediaan bahan baku utama urea, yaitu gas alam, yang masih dapat dipenuhi dari dalam negeri. Dengan kondisi itu, Indonesia tidak bergantung pada impor untuk produksi urea, bahkan memiliki kapasitas yang melebihi kebutuhan nasional.
Sementara, bahan baku lain seperti KCl dan fosfat, PIHC memperoleh pasokannya dari negara-negara di luar kawasan konflik, seperti Rusia, Kanada, Belarus, Mesir, dan Maroko, sehingga kedua komoditas itu relatif tidak terdampak langsung penutupan Selat Hormuz.
Sedangkan sebagian pasokan sulfur memang berasal dari kawasan Timteng, seperti Qatar dan Kuwait. Menyikapi potensi gangguan itu, PIHC telah menyiapkan langkah mitigasi dengan mencari sumber alternatif guna memastikan kelangsungan produksi. “Kami terus mendiversifikasi sumber pasokan bahan baku agar tidak bergantung satu kawasan tertentu,” ujar dia. Dengan berbagai strategi itu, pemerintah dan PIHC optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk dalam negeri. Komitmen itu sejalan dengan upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.
Editor: Tri Listiyarini
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






