Pakar Sebut Harga Minyak Siap Meledak Imbas Perang AS-Israel vs Iran
JAKARTA, investor.id - Harga minyak dunia diperkirakan melonjak tinggi hingga beberapa waktu ke depan imbas sentimen perang di Timur Tengah antara Israel-Amerika Serikat (AS) melawan Iran.
Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), harga minyak dunia telah melejit 2%. Dikutip dari Reuters, harga minyak brent ditutup naik US$ 1,73 (2,45%) ke level US$ 72,48 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,81 (2,78%) menjadi US$ 67,02 per barel.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa ia memperkirakan lonjakan harga minyak tidak dapat terhindari setelah eskalasi militer pecah antara Israel dan Iran di Timur Tengah.
"(Tensi Israel dan Amerika Serikat dengan Iran) bisa menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Dampaknya, kemungkinan besar harga minyak mentah naik, sehingga akan berdampak terhadap turunannya,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, dikutip pada Minggu (1/3/2026).
Menguatnya ekspektasi kenaikan harga minyak sekaligus menyusul laporan yang beredar bahwa otoritas Iran telah menutup akses perlintasan kapal di jalur ekspor minyak penting di dunia, Selat Hormuz. Kabar terkait penutupan Selat Hormuz diungkapkan oleh seorang pejabat dari misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides.
Namun, pejabat tersebut juga menerangkan, Iran belum secara resmi mengkonfirmasi perintah tersebut.
Analis energi di MST yang berbasis di Sydney, Australia, Saul Kavonic menuturkan bahwa pemblokiran akses Selat Hormuz oleh Iran tidak dapat dihindari setelah eskalasi perang semakin memanas antara Iran dan AS-Israel.
"Jika Iran menghambat arus melalui Selat tersebut, lebih dari 20% aliran minyak dan LNG global dapat terpengaruh," kata Kavonic, dikutip dari US News.
"Ruang lingkup eskalasi yang disengaja maupun tidak disengaja sulit diprediksi. Reaksi awal pasar minyak akan memperhitungkan risiko yang lebih tinggi dari berbagai skenario yang dapat mengganggu pasokan, mulai dari gangguan yang lebih ringan terhadap ekspor Iran sebesar 2 juta barel per hari, hingga serangan terhadap infrastruktur minyak regional, serta gangguan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dalam skenario yang paling ekstrem. Kondisi ini dapat menambah beberapa dolar pada harga minyak, dan berpotensi mengalami lonjakan harga yang lebih tinggi lagi jika konflik meningkat," paparnya.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon
Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur
Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.Tag Terpopuler
Terpopuler






