Sabtu, 4 April 2026

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik Saat AS-Iran Memanas

Penulis : Grace El Dora
24 Feb 2026 | 13:57 WIB
BAGIKAN
Dua perahu layar tradisional berlayar melewati kapal kontainer besar di Selat Hormuz. (Foto: AP/ Jon Gambrell)
Dua perahu layar tradisional berlayar melewati kapal kontainer besar di Selat Hormuz. (Foto: AP/ Jon Gambrell)

SINGAPURA, investor.id – Harga minyak mentah dunia bergerak menguat pada perdagangan Selasa (24/2/2026), seiring kewaspadaan investor terhadap kelanjutan kesepakatan nuklir Iran.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan keinginannya untuk menempuh jalur diplomatik, namun ia juga memberikan peringatan keras jika kesepakatan gagal tercapai.

Di pasar Asia, minyak jenis Brent diperdagangkan mendekati level US$ 72 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 67 per barel seperti dipantau Bloomberg, Selasa.

Melalui unggahan di media sosial, Presiden Trump memperingatkan hari itu akan menjadi "hari yang sangat buruk" bagi Iran jika kesepakatan tidak kunjung disepakati. Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa Pentagon merasa khawatir terhadap potensi kampanye militer berkepanjangan yang sulit dilakukan.

Advertisement

Fokus pasar kini tertuju pada hari Kamis mendatang, di mana negosiasi nuklir dijadwalkan kembali berlanjut di Jenewa. Utusan khusus Trump yaitu Steve Witkoff dan menantu Trump yaitu Jared Kushner diharapkan bertemu kembali dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Risiko Perang dan Premi Harga

Meskipun ada ekspektasi pasokan global yang melimpah (glut), kekhawatiran akan dampak serangan militer AS terhadap Iran telah mendorong kenaikan harga minyak sepanjang tahun ini. Pasukan militer AS dilaporkan telah berkumpul di Timur Tengah, bahkan Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan evakuasi personel non-darurat di kedutaan besar mereka di Beirut.

"Pasar minyak saat ini dalam posisi menunggu perkembangan situasi di Iran. Ada skeptisisme besar terhadap retorika de-eskalasi yang ada," ujar Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee. Ia menambahkan bahwa penumpukan militer AS telah menyumbang "premi risiko" sekitar US$10 per barel pada harga saat ini.

Sorotan pada Selat Hormuz

Ketakutan utama pasar adalah potensi gangguan pengiriman di Selat Hormuz jika ketegangan berlanjut menjadi konflik fisik. Selat sempit ini merupakan jalur vital bagi kapal tanker yang membawa minyak mentah dan gas alam cair (LNG) ke seluruh dunia setiap harinya.

Penutupan sebagian wilayah Hormuz untuk latihan militer Iran baru-baru ini bahkan telah menyebabkan lonjakan biaya sewa kapal tanker raksasa (VLCC). Data Clarkson Research Services mencatat biaya sewa kini mencapai rata-rata US$92.000 per hari, rekor tertinggi sejak tahun 1988.

Update Harga Minyak (Selasa, 13:04 WIB):

- Brent (April): Naik 0,5% ke US$ 71,83 per barel.

- WTI (April): Naik 0,5% ke US$ 66,65 per barel.

Geopolitik Energi dan Pentingnya Jalur Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu titik hambatan (chokepoint) energi paling penting di dunia. Terletak di antara Oman dan Iran, selat ini menghubungkan produsen minyak utama di Teluk Persia dengan pasar global. Sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia setiap harinya transit melalui jalur sempit ini.

Secara historis, setiap ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran hampir selalu berdampak langsung pada volatilitas harga energi. Iran kerap menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai kartu as dalam negosiasi internasional, sementara AS terus memperkuat kehadiran militernya untuk menjamin kebebasan navigasi.

Pada 2026 ini, ketidakpastian mengenai kesepakatan nuklir baru menciptakan dilema bagi pasar; antara surplus pasokan global yang seharusnya menekan harga, dengan risiko perang yang sewaktu-waktu dapat memicu lonjakan harga energi secara mendadak.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.
Lifestyle 10 menit yang lalu

Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen 

Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.
International 51 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 1 jam yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 2 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 2 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia