Jumat, 15 Mei 2026

GOTO, Energi Baru Bursa

Penulis : Investor Daily
16 Mar 2022 | 07:23 WIB
BAGIKAN
Komisaris Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk  Garibaldi Thohir saat acara Due Diligence Meeting & Public Expose di Jakarta, Selasa (15/3/2022). Foto: BeritasatuPhoto/Uthan A Rachim
Komisaris Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Garibaldi Thohir saat acara Due Diligence Meeting & Public Expose di Jakarta, Selasa (15/3/2022). Foto: BeritasatuPhoto/Uthan A Rachim

Rencana PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melantai di bursa disambut antusias, setelah sempat ‘tertunda’ tahun lalu. Investor ritel sudah terlihat tak sabar membeli saham IPO decacorn besutan anak bangsa ini.

GOTO, kemarin, resmi mengumumkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan ride hailing dan marketplace itu bakal melepas sebanyak-banyaknya 52 miliar saham seri A dengan nilai nominal Rp 1 per unit, yang seluruhnya merupakan saham baru dan dikeluarkan dari portepel. Ini setara 4,35% total modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum.

Emiten dengan Komisaris Utama Garibaldi Thohir ini menunjuk PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Boy Thohir juga menjadi pengendali Trimegah, seiring penyelesaian transaksi pengambilalihan saham perusahaan sekuritas berkode TRIM ini, melalui transaksi crossing saham awal Maret 2022.

GOTO menawarkan harga saham IPO-nya di kisaran Rp 316-346 per unit, atau mengincar raihan dana di bursa Indonesia hingga Rp 17,99 triliun. Perkiraan dana IPO ini memang lebih rendah dari perolehan IPO PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) pada 6 Agustus 2021 yang mencapai Rp 21,9 triliun, atau tertinggi di BEI. Namun, GOTO juga berencana melakukan IPO di bursa Amerika Serikat (dual listing), sehingga dipastikan total perolehan dananya lebih besar dari Bukalapak.

ADVERTISEMENT

Perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia ini juga dipastikan mengubah lanskap bursa saham domestik. Saat nanti saham dengan kode GOTO itu dicatatkan di BEI, kapitalisasi pasarnya diproyeksikan di atas Rp 400 triliun, menembus Rp 413,7 triliun. Artinya, ia akan langsung menduduki market cap tertinggi keempat, setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 994,64 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp 691,70 triliun, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp 457,67 triliun. Ini akan menjadi yang pertama kalinya emiten sektor teknologi masuk top 4.

Dari sisi gross transaction value (GTV) atau nilai transaksi bruto dan pendapatan bruto, GOTO terus tumbuh. Hal ini menunjukkan resiliensi bisnis dan kemampuan menangkap peluang di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Hingga kuartal III-2021, nilai transaksi brutonya mencapai Rp 414,2 triliun dan pendapatan bruto Rp 15,1 triliun, namun masih membukukan rugi sebelum pajak penghasilan Rp 12,3 triliun. Sedangkan hingga kuartal III-2020, kerugian sebesar Rp 11,5 triliun.

Bila ditelusuri, sebelum IPO ini, berderet panjang investor sudah lebih dulu masuk, dengan bertabur nama-nama raksasa global maupun nasional. Investor utama yang menyuntikkan modal, antara lain, Telkomsel (dari Grup Telkom), Grup Astra, Google, Tencent, KKR, Facebook, Visa, dan Warburg. Ada pula nama-nama perusahaan papan atas dunia yang lain, seperti Alibaba, Softbank, Tencent, Temasek, PayPal, hingga Sequoia Capital India.

Setelah IPO pertama kali sebesar 4,35% dari total saham pasca-IPO, emiten juga merencanakan rights issue selama 10 tahun. Aksi korporasi yang memberi hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) kepada pemegang saham eksis ini akan menawarkan 1,5% dari saham beredar, setiap tahun.

Yang menarik, GOTO dalam rilis prospektus awal IPO juga menyertakan skema stabilisasi harga atau biasa disebut greenshoe. Agen stabilisasi pun telah ditunjuk, yakni PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia, yang bertugas melakukan pembelian saham di pasar sekunder jika harga pasar berada pada atau di bawah harga IPO, berdasarkan sejumlah ketentuan.

Yang sangat lebih menarik, bila menghitung selisih antara nominal Rp 1 per unit saham dan harga IPO, ada capital gain yang sangat besar untuk para pemegang saham existing. Kalau misalnya PT Telkomsel, anak usaha Grup Telkom, sudah menyetor sekitar US$ 450 juta atau Rp 6,44 triliun ke GOTO, maka nilai sahamnya minimal menjadi 316 kali lipat pasca-IPO, menembus US$ 142,2 miliar atau Rp 2.036,4 triliun. Nilai ini melebihi pendapatan negara dalam APBN RI 2022 yang ditargetkan Rp 1.846,1 triliun.

Artinya, saham GOTO menjadi 315-bagger stock bagi pemilik saham eksis. Bila fenomena ini menular ke saham yang diperdagangkan di BEI dan saham-saham lain juga, akan menjadi energi baru yang mendongkrak optimisme bursa. Apalagi, dana asing juga masih mengalir masuk menjelang pengumuman kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Fed.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia