Cara John Riady Dorong Transformasi Bisnis Lippo di Tengah Arus Digitalisasi
JAKARTA, investor.id – Perkembangan teknologi digital tak lagi bisa dianggap sebelah mata. Hampir seluruh sendi kehidupan kini memanfaatkan kehadiran teknologi digital, mulai dari gawai pintar hingga komputasi awan menyediakan berbagai kemudahan bagi masyarakat.
Keyakinan ini mendorong Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady merancang transformasi konglomerasi tersebut. Lippo sebelumnya hanya dikenal sebagai grup perusahaan dengan ujung tombak bisnis properti, kesehatan, pendidikan, dan ritel modern.
“Praktis, hampir seluruh lini bisnis utama itu terbilang konvensional. Melalui tentakel bisnis itu, Lippo Group ikut menyokong pembangunan ekonomi nasional. Setiap tahun Lippo Group melayani sekitar 60 juta penduduk Indonesia melalui berbagai layanan dan produk,” kata John di Jakarta, Jumat (20/5/2022).
Ia mengatakan, persoalannya singgasana itu tak luput dari gelombang digital yang semakin ke sini kian terasa. Kehadiran berbagai perusahaan rintisan, ekosistem bisnis digital, serta penggunaan teknologi komputasi awan seolah tak bisa dihindarkan oleh entitas bisnis manapun.
Di balik kesuksesan Lippo, penerapan teknologi digital perlahan menjadi pondasi penguatan konglomerasi yang didirikan Mochtar Riady tersebut. Inilah yang diusung John Riady selaku generasi ketiga penerus Lippo.
John menilai selama ini Lippo melayani penduduk dan masyarakat dari berbagai kalangan. Terutama, katanya, konsumen yang merupakan generasi penikmat pembangunan ekonomi pada milenium baru ini.
Mereka adalah keluarga yang tumbuh sejalan dengan perkembangan serta kemajuan di berbagai bidang, menikmati perjalanan ke luar negeri, yang berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang universitas, dan berbagai kemudahan lainnya. “Kami di Lippo menyertai kelahiran generasi ini, menjadi pelayan segmen the first ini,” kata John.
Sebaliknya, seiring pertumbuhan kelas sosial tersebut, membuka pula keniscayaan masa depan yang semakin dimanjakan dengan teknologi digital. Pandangan ini kemudian melecut Lippo Group merancang berbagai bisnis yang sepadan dengan jiwa zaman.
Strategi itu melahirkan berbagai produk properti bercita rasa milenial dan ramah lingkungan, hingga masuk lebih dalam sebagai salah satu penyokong modal berbagai usaha rintisan, serta merancang kolaborasi layanan berbasis offline dan online.
Di sisi lain, John menyadari perkembangan teknologi informasi dan digital saat ini masih tahap awal bagi Indonesia. Berkaca dari kondisi masyarakat yang selama ini dilayani Lippo Group, John menyimpulkan sejauh ini belum seluruhnya bisa meninggalkan banyak cara dan bisnis konvensional.
Singkatnya, John tidak serta merta membabi buta dalam menerapkan strategi bisnis. Jalan transisi lebih dipilih dibandingkan perubahan digital yang serba revolusioner.
Omnichannel adalah jawaban penting John Riady dalam menyegarkan layanan Lippo Group di tengah arus digitalisasi. Konsep ini bersandar pada kemampuan mengawinkan teknologi digital dengan layanan fisik.
“Contohnya untuk pasar ritel, yang paling besar di Indonesia masih pasar tradisional kira-kira 60%, sedangkan ritel modern itu seperti mal dan department store sebagainya itu kira-kira 30%. Sebaliknya pasar online kira-kira penetrasinya 10%,” kata John.
Ke depan, seiring berjalannya waktu, pasar daring akan tumbuh lebih besar maupun pasar ritel modern secara fisik. “Tapi offline pun yang sekarang kira-kira 30%, tetep akan tumbuh menjadi 50-60%. Tentu yang akan berkurang seiring dengan kemajuan ekonomi dan sebagainya adalah pasar-pasar tradisional yang akan berubah menjadi modern mart,” kata John.
Dalam strategi investasi pun, John sepertinya mengamalkan pandangan tersebut. Tidak saja fokus memperkuat lini bisnis utama yang selama ini jadi andalan Lippo Group, konglomerasi itu di bawah John rajin menebarkan benih kepada banyak perusahaan rintisan.
“Kami mempunyai empat pilar investasi yang selalu diterapkan. Pertama, kami ikut mengembangkan bersama founder, kedua masuk ke dalam perusahaan yang telah matang [pra IPO], menjalin kemitraan, hingga mengawinkan dengan berbagai jaringan bisnis kami itu seperti terjadi di MPPA,” kata John.
Melalui lengan investasi Venture Capital, Lippo ikut melahirkan RuangGuru, Grab, Sociolla, dan puluhan perusahaan rintisan lainnya.
“Yang jelas, kami punya prinsip bahwa suatu perusahaan termasuk usaha rintisan, akan selalu hidup dan berkembang jika memiliki semangat mengusung solusi dalam permasalahan kehidupan. Ini sangat terbukti dari berbagai perusahaan rintisan yang bisa bertahan hingga sekarang, mereka menawarkan solusi kepada masyarakat,” kata John.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler


