Jumat, 15 Mei 2026

Kuartal III-2022, Bank Jatim (BJTM) Cetak Laba Rp 1,20 T

Penulis : Prisma Ardianto
28 Okt 2022 | 14:14 WIB
BAGIKAN
Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman (kedua dari kanan), Direktur Komersial dan Korporasi Bank Jatim Edi Masrianto (kedua dari kiri), Direktur Ritel & Usaha Syariah Bank Jatim R Arief Wicaksono (kanan), dan Corporate Secretary Bank Jatim Budi Sumarsono (kiri) usai Konferensi Pers Kinerja Keuangan Bank Jatim Triwulan III-2022 di Kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (28/10). (Prisma Ardianto/Investor Daily)
Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman (kedua dari kanan), Direktur Komersial dan Korporasi Bank Jatim Edi Masrianto (kedua dari kiri), Direktur Ritel & Usaha Syariah Bank Jatim R Arief Wicaksono (kanan), dan Corporate Secretary Bank Jatim Budi Sumarsono (kiri) usai Konferensi Pers Kinerja Keuangan Bank Jatim Triwulan III-2022 di Kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (28/10). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim (BJTM) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,20 triliun. Tumbuh tipis 1,51% secara year on year (yoy) pada kuartal III-2022. Perolehan ini belum optimal karena proses konsolidasi bisnis perseroan masih berlangsung.

Direktur Utama Bank Jatim (BJTM) Busrul Iman menyampaikan, tahun ini perusahaan fokus memperbaiki sejumlah proses bisnis, mulai dari konsolidasi kebijakan, struktur organisasi, SDM, remunerasi dan lainnya. Termasuk perbaikan kualitas dan kuantitas sisi pemasaran.

"Karena konsolidasi maka bisnisnya agak terkendala. Tapi kami selesaikan semua di tahun ini, kami ingin PR diselesaikan di tahun ini. Karena kita ketahui bersama bahwa di tahun depan akan ada krisis dan resesi, sehingga nanti kita bisa benar-benar fokus untuk pengembangan berikutnya," jelas Busrul dalam Konferensi Pers Kinerja Keuangan Bank Jatim Triwulan III-2022 di Kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (28/10/2022).

Hingga kuartal III-2022, kredit Bank Jatim mencapai Rp 45,97 triliun atau tumbuh 6,83% (yoy). Pertumbuhan dicatatkan dari semua lini, baik itu kredit komersial sebesar 5,89% menjadi Rp 11,75 triliun, kredit konsumer naik 5,05% menjadi Rp 28,50 triliun, dan kredit UMKM meningkat 19,07% menjadi Rp 5,72 triliun.

Dalam hal kualitas aset, kredit bermasalah (non performing loan/NPL) Bank Jatim secara gross turun dari 4,40% pada kuartal III-2021 menjadi 3,72% pada kuartal III-2022. Sedangkan secara net, NPL hanya mampu turun 4 basis points menjadi 0,99%. Adapun coverage ratio sedikit naik dari 94,01% menjadi 99,89%.

ADVERTISEMENT

Ke depan, kata Busrul, BJTM bisa lebih sehat sehingga mampu bertahan dengan situasi yang diperkirakan lebih sulit. "Karena NPL sudah cukup tinggi NPL sektor produktif terutama sektor komersial, kami terus kaji untuk tagih dan recovery, termasuk restrukturisasi," jelas dia.

Di sisi lain, Direktur Komersial dan Korporasi Edi Masrianto mengungkapkan, hasil konsolidasi mulai terlihat pada beberapa indikator keuangan perseroan yang belum bergerak optimal. Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pada kuartal III-2022 sebesar 5,17% atau naik tipis dari periode sebelumnya sebesar 5,09%. Dengan biaya credit (cost of credit/CoC) turun dari 1,24% menjadi 0,94%. Termasuk biaya dana (cost of fund/CoF) yang turun dari 2,39% menjadi 1,92%.

Hal ini seiring dengan rasio dana murah (current account saving account/CASA) yang naik dari 42,81% menjadi 59,14% pada kuartal III-2022. Hasilnya, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) hanya mampu tumbuh sampai dengan 8,57% (yoy) menjadi Rp 3,66 triliun.

"Tapi BI rate naik dan GWM naik, bahwa di kuartal IV-2022 pasti ada koreksi karena banyak dana di BI sehingga kita tidak dapat return. BI rate naik, maka CoF kita naik. CoF berhasil ditekan sampai 1,92%, prediksi kami akhir tahun tidak lebih rendah dari 2021. Supaya kita berhasil peroleh bottom line yang baik," kata dia.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) Bank Jatim sampai dengan kuartal III-2022 mencapai Rp 82,98 triliun, susut 3,65% (yoy). Penyusutan ini dipengaruhi kebijakan perusahaan untuk mengurangi dana deposito yang tercatat mulai turun sampai dengan 16,39% (yoy) menjadi Rp 33,90 triliun.

"Yang penting kita sehat dulu, kita sedang konsolidasi, supaya nasabah mikro bisa ke ritel, yang ritel ke komersial dan korporasi. Sehingga ritel tidak naik signifikan, kalau ritel naik signifikan barangkali," ungkap Edi.
 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia