Credit Suisse Kesulitan Likuiditas, Bank Sentral Siap Suntik Modal
New York, Investor.id – Krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) mulai menular ke Eropa. Indikasi itu menyusul salah satu lembaga keuangan terkemuka asal Swiss, Credit Suisse, dilaporkan mengalami kesulitan likuiditas.
Menyikapi hal tersebut, otoritas Swiss mengumumkan bahwa bank sentral negara itu akan menyuntikkan likuiditas jika diperlukan. Pasalnya, Saudi National Bank (SNB) selaku investor terbesar Credit Suisse enggan menambah pendanaan lagi.
Baca Juga:
Saham Credit Suisse Crash, Ada Apa Lagi?Didirikan pada tahun 1856, Credit Suisse adalah bank terbesar kedua di Swiss, dan memiliki pengaruh penting di pasar keuangan global.
Credit Suisse adalah salah satu dari 30 bank global yang dianggap terlalu besar untuk jatuh (too big to fail). Bank membukukan kerugian bersih sebesar 7,3 miliar franc Swiss (US$ 7,8 miliar) sepanjang 2022. Bank ini juga mencatat peningkatan arus modal keluar pada kuartal keempat tahun lalu menjadi lebih dari 110 miliar franc Swiss (US$ 120 miliar).
Awal pekan ini, manajemen mengungkapkan telah menemukan kelemahan material dalam pengendalian internal atas pelaporan keuangan untuk tahun 2021 dan 2022. Credit Suisse juga mengatakan belum mampu membendung arus dana keluar. Akibatnya, saham Credit Suisse yang terdaftar di bursa saham New York anjlok hampir 14%.
Dalam beberapa hari terakhir, krisis sektor keuangan kembali mengancam perekonomian global, diawali runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank. Keduanya merupakan korban manajemen yang buruk dalam menghadapi delapan kali kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam 12 bulan terakhir. Hal yang sama juga menimpa Silvergate Capital di AS.
“Kami melihat gejolak bank yang dimulai di Silicon Valley, itu benar-benar menyebar ke seluruh dunia,” kata analis pasar di Oanda Edward Moya, dikutip CNBC International.
Beirta ini juga sudah tayang di BeritaSatu.com dengan judul Krisis Perbankan AS Menular ke Eropa, Credit Suisse Kesulitan Likuiditas
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

