Jumat, 15 Mei 2026

Profitabilitas Asuransi Umum Tidak Sehat 

Penulis : Prisma Ardianto
17 Mar 2023 | 00:03 WIB
BAGIKAN
Petugas sedang melayani tamu di kantor pusat Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Petugas sedang melayani tamu di kantor pusat Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

JAKARTA, investor.id - Profitabilitas industri asuransi umum dinilai tidak sehat. Ini terlihat dari laba bersih dalam beberapa tahun belakangan yang lebih banyak ditopang perolehan hasil investasi, bukan hasil underwriting.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menyampaikan, perolehan premi yang dicatatkan perusahaan asuransi umum dan reasuransi sejatinya tidak cukup untuk menanggung risiko di masa mendatang. Meski tidak terjadi di semua lini bisnis, namun hal itu perlu menjadi perhatian serius bagi pelaku industri.

"Akhirnya tidak sehat. Mungkin 70-80% laba asuransi umum itu di-generate dari hasil investasi. Seyogyanya dari hasil underwriting. Tapi, karena biaya akuisisinya cukup besar, maka hasil investasi yang mendongkrak laba. Nah ini sudah tidak sehat," ungkap Budi saat ditemui di Jakarta, Kamis (16/03/2023).

Menurut Budi, jika pembiaran terus terjadi, bukan tidak mungkin industri akan semakin menderita. Oleh karena itu, perlu keterlibatan semua pihak untuk membenahi industri ini, termasuk peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam meramu regulasi yang adil namun tetap berorientasi pada industri yang sehat dan berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

"Regulasi bisa berkaitan dengan retensi sendiri. Itu sudah pasti. Kemudian menyangkut tarif juga sudah enam tahun tidak pernah direviu. Lalu biaya akuisisi juga. Ini mungkin (kemarin) karena kesibukan, tapi ini juga (harus) menjadi skala prioritas," ungkap Budi

Bahkan, tarif dan biaya akuisisi beberapa lini bisnis seperti asuransi properti dan kendaraan bermotor dibahas langsung di dalam ketentuan OJK. Ke depan, kue besar kendaraan listrik juga perlu disambut untuk asuransi umum.

Alih-alih rugi, segala potensi yang ada diharapkan berbalik menjadi keuntungan bersama, khususnya bagi industri asuransi umum dan reasuransi. "Agar semua pemain di asuransi umum ini kebagian kuenya, agar juga preminya cukup, karena ini belum diatur," imbuh Budi.

Tidak sehatnya aspek profitabilitas di asuransi umum dan reasuransi dapat menimbulkan dampak yang berkelanjutan dan pertumbuhan industri itu sendiri berpotensi terhambat. Imbasnya, ekuitas perusahaan asuransi hanya akan bergerak melandai, padahal risiko yang dihadapi di masa depan ke depan semakin tinggi.

Mengacu statistik OJK, pendapatan underwriting asuransi umum memang tumbuh 11,48% secara year on year (yoy) menjadi Rp 42,29 triliun pada tahun 2022. Hal ini didorong jumlah pendapatan premi yang naik sampai dengan 16,63% (yoy) menjadi Rp 89,66 triliun.

Sementara itu, beban underwriting melorot 16,53% (yoy) menjadi Rp 25,02 triliun di akhir 2022. Ini bagian dari klaim bruto yang meningkat sebesar 26,03% (yoy) menjadi Rp 40,78 triliun. Akhirnya, hasil underwriting hanya tumbuh tipis yakni 4,89% (yoy) menjadi Rp 17,27 triliun.

Adapun hasil investasi dibukukan meningkat sampai 15,95% (yoy) menjadi Rp 4,68 triliun. Namun dengan beban usaha yang mencapai Rp 14,53 triliun atau tumbuh 10,61% (yoy), laba bersih asuransi umum tertahan untuk tumbuh lebih cepat atau hanya 10,29% (yoy) menjadi Rp 6,81 triliun.

Editor: Nasori

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia