Jumat, 15 Mei 2026

Asuransi Umum Berlomba Kerek Cuan Demi Penuhi Modal Minimum

Penulis : Prisma Ardianto
3 Des 2023 | 21:40 WIB
BAGIKAN
Instalasi nama-nama perusahaan asuransi umum di kantor AAUI, Jakarta. (Foto: Antara)
Instalasi nama-nama perusahaan asuransi umum di kantor AAUI, Jakarta. (Foto: Antara)

JAKARTA, investor.id – Industri asuransi umum mulai fokus memperbaki portofolio bisnis agar keuntungan yang diperoleh bisa lebih baik. Di samping jadi bagian dari upaya memastikan bisnis sehat dan berkelanjutan, inisiatif tersebut merupakan cara organik bagi perusahaan asuransi umum memupuk peningkatan ekuitas.

Seperti yang diketahui, modal minimum perusahaan asuransi saat ini ditetapkan sebesar Rp 100 miliar. Nilai itu kemudian akan dinaikkan lima kali lipat menjadi Rp 500 miliar dengan tenggat tahun 2026 dan naik lagi menjadi Rp 1 triliun pada tahun 2028 mendatang.

Artinya, ada waktu sekitar 3 tahun dimulai pada tahun depan untuk setiap perusahaan asuransi meningkatkan modal minimum menjadi sebesar Rp 500 miliar, dan 5 tahun untuk mencapai modal minimum sebesar Rp 1 triliun. Pemupuk keuntungan sebagai laba ditahan jadi salah satu opsi organik bagi masing-masing perusahaan guna memenuhi ketentuan permodalan tersebut.

ADVERTISEMENT

Belum lagi, pelaku usaha di sektor perasuransian dalam waktu dekat juga sudah mesti melakukan persiapan implementasi dari PSAK 74. Pencatatan akuntansi termutakhir ini dipercaya akan menguak berbagai hal yang mesti dibenahi perusahaan asuransi, termasuk diantaranya adalah potensi pengakuan kerugian terhadap portofolio bisnis yang dimiliki. Jika potensi kerugian terdeteksi, maka perusahaan asuransi perlu meningkatkan pencadangannya. Ekuitas tentu kian menyusut.

Sederet pekerjaan rumah ini yang jadi imbauan dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) agar para anggotanya menyiapkan segala hal yang diperlukan. Salah satunya adalah dengan memastikan portofolio bisnis saat ini punya nilai keuntungan yang terukur dan memadai.

Asuransi Umum Berlomba Kerek Cuan Demi Penuhi Modal Minimum
Perolehan premi dan klaim dibayarkan asuransi umum sampai kuartal III-2023. (Sumber: AAUI)

Ketua AAUI Budi Herawan menegaskan, rasio hasil underwriting industri asuransi umum saat ini yang sebesar 18,99% sejatinya masih belum mampu mengimbangi biaya operasional (operational expenditure/opex). Ini salah satu penanda bahwa bisnis asuransi umum memang belum sehat.

Secara sederhana, hasil underwriting adalah margin atau selisih yang diperoleh dari produksi premi terhadap berbagai beban; yang diantaranya dapat berupa beban klaim, beban komisi, maupun beban-beban lainnya terkait asuransi. Perolehan hasil underwriting jadi penting sebagai tolak ukur efektivitas dan efisiensi dari bisnis asuransi.

“Kalau dilihat secara overall itu masih belum bisa tutup biaya semua opex kita. Industri ini belum sehat. Kita punya laba (didorong) dari hasil investasi, mostly. Hasil investasi itu jelas dari permodalan dan dari premi yang didapat. Ini yang kita bilang PR kita,” ungkap Budi, baru-baru ini.

Budi menerangkan, penyehatan untuk setiap portofolio bisnis mutlak dilakukan sedini mungkin. Jangan ada lagi perang tarif premi atau diskon premi tanpa manajemen risiko yang memadai. Hal ini malah akan membuat beban perusahaan asuransi sebagai penanggung risiko semakin menumpuk, sementara tertanggung kian diuntungkan.

Mazhab yang mengadopsi orientasi bisnis dengan memacu pendapatan premi tanpa seleksi risiko yang memadai adalah sesat. Inflasi yang belakangan terjadi juga membuat harga primer asuransi terus menyusut. Pada gilirannya, keuntungan sesungguhnya akan terpangkas karena sebab-sebab tersebut.

“Ini yang selalu saya sampaikan di industri ini, kita sudah coba melakukan transformasi dan reformasi, tapi ini perlu waktu. Semoga 2024 bisa terlihat nanti hasilnya kalau ini reformasi dan transformasi berjalan sesuai dengan harapan,” ungkap Budi.

Meski begitu, Budi bilang, perbaikan dalam berbagai aspek akan berbeda untuk masing-masing perusahaan asuransi. Sebagai ilustrasi, perusahaan dengan pengelolaan risiko baik mungkin dapat melakukan pendekatan digitalisasi untuk menahan laju beban operasional. Namun juga ada perusahaan yang perlu terus meningkatkan mitigasi risiko sekaligus pendekatan digitalisasi untuk meraih keuntungan yang diharapkan.

Paradigma Berubah

Di sisi lain, Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik dan Riset Trinita Situmeang menerangkan, sebenarnya perusahaan asuransi umum bisa memetik berkah dari fenomena pandemi beberapa waktu lalu. Secara operasional, lini bisnis asuransi kendaraan bermotor memperoleh hasil underwriting positif, seiring pergerakan masyarakat yang terbatas untuk beraktivitas.

Namun saat aktivitas kembali normal seperti saat ini, hasil underwriting asuransi kendaraan bermotor kembali diuji. Tercermin dari rasio klaim yang mulai menunjukkan peningkatan dari 50,2% pada kuartal III-2022 menjadi 57,1% pada kuartal III-2023. Peningkatan rasio klaim ini juga dapat menjadi sinyal peringatan dini untuk lini asuransi tersebut.

Pihaknya juga melihat hasil underwriting dari dua lini bisnis lain yang perlu dievaluasi, yakni asuransi properti karena anomali iklim dan asuransi kredit akibat dari peningkatan profil risiko nasabah. Evaluasi menyeluruh menjadi penting untuk perusahaan asuransi umum bersiap menghadapi sejumlah regulasi yang akan keluar, dimana salah satunya adalah regulasi terkait dengan peningkatan permodalan.

“Jadi sekarang tujuan kita bagaimana men-drive underwriting result ke arah lebih baik untuk mendatangkan return earning yang akan generate kenaikan ekuitas. Ini dibutuhkan komitmen manajemen,” ungkap Trinita.

Asuransi Umum Berlomba Kerek Cuan Demi Penuhi Modal Minimum
Rasio klaim asuransi umum kuartal III-2023. (Sumber: AAUI)

Di saat memperbaiki hasil underwriting, perusahaan asuransi juga perlu memastikan penempatan investasi secara bijaksana. Hasil investasi masih jadi penopang bagi laba asuransi umum sampai saat ini.

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hasil underwriting industri asuransi umum tercatat naik 6,59% (yoy) menjadi Rp 13,96 triliun sampai kuartal III-2023. Sedangkan beban usaha tercatat naik 12,75% (yoy) menjadi Rp 11,75 triliun.

Hasil investasi sendiri naik 21,05% (yoy) menjadi Rp 3,81 triliun. Alhasil, laba bersih asuransi umum bertumbuh 11,26% (yoy) menjadi 5,92 triliun. Nilai itu yang diantaranya mendongkrak total ekuitas perusahaan asuransi umum naik 5,95% (yoy) menjadi Rp 74,95 triliun.

Trinita mengungkapkan, kinerja yang ada saat ini belum bisa memupuk kondisi permodalan sesuai target diinginkan. Sebagai gambaran, modal minimum kaan dinaikkan 5-10 kali lipat selama 5 tahun ke depan, maka dibutuhkan pula pertumbuhan laba yang pesat. Sementara saat ini, laba hanya mampu tumbuh terbatas seiring dengan kinerja hasil underwriting.

“Tampaknya indikator-indikator top line (premi) akan bergeser sedikit. Mungkin akan menjadi yang bersifat bagaimana mendorong profit ke arah keberlangsungan, itu akan jadi lebih dominan. Harapannya seluruh perusahaan asuransi umum dan reasuransi melihat lagi kualitas portofolio masing-masing,” demikian pungkas Trinita. 

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia