Asuransi Umum Berlomba Kerek Cuan Demi Penuhi Modal Minimum
JAKARTA, investor.id – Industri asuransi umum mulai fokus memperbaki portofolio bisnis agar keuntungan yang diperoleh bisa lebih baik. Di samping jadi bagian dari upaya memastikan bisnis sehat dan berkelanjutan, inisiatif tersebut merupakan cara organik bagi perusahaan asuransi umum memupuk peningkatan ekuitas.
Seperti yang diketahui, modal minimum perusahaan asuransi saat ini ditetapkan sebesar Rp 100 miliar. Nilai itu kemudian akan dinaikkan lima kali lipat menjadi Rp 500 miliar dengan tenggat tahun 2026 dan naik lagi menjadi Rp 1 triliun pada tahun 2028 mendatang.
Artinya, ada waktu sekitar 3 tahun dimulai pada tahun depan untuk setiap perusahaan asuransi meningkatkan modal minimum menjadi sebesar Rp 500 miliar, dan 5 tahun untuk mencapai modal minimum sebesar Rp 1 triliun. Pemupuk keuntungan sebagai laba ditahan jadi salah satu opsi organik bagi masing-masing perusahaan guna memenuhi ketentuan permodalan tersebut.
Belum lagi, pelaku usaha di sektor perasuransian dalam waktu dekat juga sudah mesti melakukan persiapan implementasi dari PSAK 74. Pencatatan akuntansi termutakhir ini dipercaya akan menguak berbagai hal yang mesti dibenahi perusahaan asuransi, termasuk diantaranya adalah potensi pengakuan kerugian terhadap portofolio bisnis yang dimiliki. Jika potensi kerugian terdeteksi, maka perusahaan asuransi perlu meningkatkan pencadangannya. Ekuitas tentu kian menyusut.
Sederet pekerjaan rumah ini yang jadi imbauan dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) agar para anggotanya menyiapkan segala hal yang diperlukan. Salah satunya adalah dengan memastikan portofolio bisnis saat ini punya nilai keuntungan yang terukur dan memadai.
Ketua AAUI Budi Herawan menegaskan, rasio hasil underwriting industri asuransi umum saat ini yang sebesar 18,99% sejatinya masih belum mampu mengimbangi biaya operasional (operational expenditure/opex). Ini salah satu penanda bahwa bisnis asuransi umum memang belum sehat.
Secara sederhana, hasil underwriting adalah margin atau selisih yang diperoleh dari produksi premi terhadap berbagai beban; yang diantaranya dapat berupa beban klaim, beban komisi, maupun beban-beban lainnya terkait asuransi. Perolehan hasil underwriting jadi penting sebagai tolak ukur efektivitas dan efisiensi dari bisnis asuransi.
“Kalau dilihat secara overall itu masih belum bisa tutup biaya semua opex kita. Industri ini belum sehat. Kita punya laba (didorong) dari hasil investasi, mostly. Hasil investasi itu jelas dari permodalan dan dari premi yang didapat. Ini yang kita bilang PR kita,” ungkap Budi, baru-baru ini.
Budi menerangkan, penyehatan untuk setiap portofolio bisnis mutlak dilakukan sedini mungkin. Jangan ada lagi perang tarif premi atau diskon premi tanpa manajemen risiko yang memadai. Hal ini malah akan membuat beban perusahaan asuransi sebagai penanggung risiko semakin menumpuk, sementara tertanggung kian diuntungkan.
Mazhab yang mengadopsi orientasi bisnis dengan memacu pendapatan premi tanpa seleksi risiko yang memadai adalah sesat. Inflasi yang belakangan terjadi juga membuat harga primer asuransi terus menyusut. Pada gilirannya, keuntungan sesungguhnya akan terpangkas karena sebab-sebab tersebut.
“Ini yang selalu saya sampaikan di industri ini, kita sudah coba melakukan transformasi dan reformasi, tapi ini perlu waktu. Semoga 2024 bisa terlihat nanti hasilnya kalau ini reformasi dan transformasi berjalan sesuai dengan harapan,” ungkap Budi.
Meski begitu, Budi bilang, perbaikan dalam berbagai aspek akan berbeda untuk masing-masing perusahaan asuransi. Sebagai ilustrasi, perusahaan dengan pengelolaan risiko baik mungkin dapat melakukan pendekatan digitalisasi untuk menahan laju beban operasional. Namun juga ada perusahaan yang perlu terus meningkatkan mitigasi risiko sekaligus pendekatan digitalisasi untuk meraih keuntungan yang diharapkan.
Paradigma Berubah
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






