Asuransi Umum Berlomba Kerek Cuan Demi Penuhi Modal Minimum
Di sisi lain, Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik dan Riset Trinita Situmeang menerangkan, sebenarnya perusahaan asuransi umum bisa memetik berkah dari fenomena pandemi beberapa waktu lalu. Secara operasional, lini bisnis asuransi kendaraan bermotor memperoleh hasil underwriting positif, seiring pergerakan masyarakat yang terbatas untuk beraktivitas.
Namun saat aktivitas kembali normal seperti saat ini, hasil underwriting asuransi kendaraan bermotor kembali diuji. Tercermin dari rasio klaim yang mulai menunjukkan peningkatan dari 50,2% pada kuartal III-2022 menjadi 57,1% pada kuartal III-2023. Peningkatan rasio klaim ini juga dapat menjadi sinyal peringatan dini untuk lini asuransi tersebut.
Pihaknya juga melihat hasil underwriting dari dua lini bisnis lain yang perlu dievaluasi, yakni asuransi properti karena anomali iklim dan asuransi kredit akibat dari peningkatan profil risiko nasabah. Evaluasi menyeluruh menjadi penting untuk perusahaan asuransi umum bersiap menghadapi sejumlah regulasi yang akan keluar, dimana salah satunya adalah regulasi terkait dengan peningkatan permodalan.
“Jadi sekarang tujuan kita bagaimana men-drive underwriting result ke arah lebih baik untuk mendatangkan return earning yang akan generate kenaikan ekuitas. Ini dibutuhkan komitmen manajemen,” ungkap Trinita.
Di saat memperbaiki hasil underwriting, perusahaan asuransi juga perlu memastikan penempatan investasi secara bijaksana. Hasil investasi masih jadi penopang bagi laba asuransi umum sampai saat ini.
Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hasil underwriting industri asuransi umum tercatat naik 6,59% (yoy) menjadi Rp 13,96 triliun sampai kuartal III-2023. Sedangkan beban usaha tercatat naik 12,75% (yoy) menjadi Rp 11,75 triliun.
Hasil investasi sendiri naik 21,05% (yoy) menjadi Rp 3,81 triliun. Alhasil, laba bersih asuransi umum bertumbuh 11,26% (yoy) menjadi 5,92 triliun. Nilai itu yang diantaranya mendongkrak total ekuitas perusahaan asuransi umum naik 5,95% (yoy) menjadi Rp 74,95 triliun.
Trinita mengungkapkan, kinerja yang ada saat ini belum bisa memupuk kondisi permodalan sesuai target diinginkan. Sebagai gambaran, modal minimum kaan dinaikkan 5-10 kali lipat selama 5 tahun ke depan, maka dibutuhkan pula pertumbuhan laba yang pesat. Sementara saat ini, laba hanya mampu tumbuh terbatas seiring dengan kinerja hasil underwriting.
“Tampaknya indikator-indikator top line (premi) akan bergeser sedikit. Mungkin akan menjadi yang bersifat bagaimana mendorong profit ke arah keberlangsungan, itu akan jadi lebih dominan. Harapannya seluruh perusahaan asuransi umum dan reasuransi melihat lagi kualitas portofolio masing-masing,” demikian pungkas Trinita.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






