Jumat, 15 Mei 2026

PermataBank (BNLI) Bidik Pertumbuhan Kredit 9%

Penulis : Nida Sahara
7 Mar 2024 | 20:34 WIB
BAGIKAN
Direktur PermataBank Rudy Basyir Ahmad (kedua kiri), Direktur Utama PermataBank Maliza M. Rusli (kedua kanan), Chief Economist PermataBank Josua Pardede dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/3/2024). (Investor Daily/Nida Sahara)
Direktur PermataBank Rudy Basyir Ahmad (kedua kiri), Direktur Utama PermataBank Maliza M. Rusli (kedua kanan), Chief Economist PermataBank Josua Pardede dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/3/2024). (Investor Daily/Nida Sahara)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Permata Tbk (PermataBank) tahun ini memproyeksi pertumbuhan kredit berkisar 7-9% secara tahunan (year on year/yoy). Sepanjang 2023 perseroan telah menyalurkan kredit sebesar Rp 142,2 triliun, naik 4,3% (yoy) yang didukung dari segmen komersial, konsumer, dan UMKM.

Direktur Permata Bank Rudy Basyir Ahmad mengungkapkan bahwa total aset 2023 tumbuh 1% (yoy) menjadi Rp 257,4 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) terkontraksi 3,7% (yoy) yang disebabkan strategi perseroan untuk fokus pada dana murah (current account saving account/CASA). Di mana rasio CASA terjaga pada level 55% dari total DPK di 2023.

“Dari sisi target kredit, proyeksi sesuai target OJK dan BI kisaran 10-12%, untuk internal bank sendiri kami proyeksi 7-9%. Tapi itu bukan hanya limit sampai 9% ya, kalau ada opportunity lebih besar tentu kami akan ambil itu dengan tetap terapkan prudential banking,” jelas Rudy dalam konferensi pers usai Public Expose di Jakarta, Kamis (7/3/2024).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, di sisi likuiditas Rudy mengaku bahwa tahun lalu memang terjadi perebutan dana di perbankan, sehingga terlihat simpanan lebih banyak berada di bank-bank besar. Selain itu, persaingan suku bunga juga menjadi faktor yang membuat DPK terkoreksi.

“Untuk 2024 dengan selesainya pemilu kami lihat ada aliran investasi dari luar, tentu likuiditas industri jauh lebih baik. Kami fokus di CASA, kami juga proyeksi DPK tidak signifikan pertumbuhannya, fokus untuk mendukung optimalisasi supaya LDR kisaran 80%,” ujar dia.

Di sisi LDR pada 2023 terjaga pada level memadai 74,8% yang menunjukkan likuiditas perseroan masih memadai untuk mendukung ekspansi bisnis. Pun didukung pula dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) PermataBank sangat tebal di level 38,7%. “Rasio permodalan salah satu yang tertinggi, dan dari likuiditas itu juga bisa support untuk tumbuh lebih cepat baik dari organik maupun inorganic mendukung ekspansi lebih cepat,” ucap Rudy.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PermataBank Meliza M. Rusli mengatakan bahwa ekuitas menjadi penting untuk melihat bank dalam posisi yang kuat. Dengan CAR jauh di atas minimum ketentuan regulator, pihaknya melihat hal tersebut sebagai komitmen perseroan untuk tumbuh berkelanjutan. 

“Kami ingin dapat kepercayaan nasabah, ke depan kami jaga CAR pada posisi yang kuat, terutama dengan adanya rencana-rencana ke depannya kami melakukan inorganic growth atau tumbuh di atas rata-rata,” jelas Meliza.

Di samping itu, Rudy menambahkan bahwa tahun ini perseroan masih akan fokus pada segmen komersial, konsumer dan juga UMKM. Dari sisi sektoral tentu mengikuti perkembangan pasar.

Chief Economist PermataBank Josua Pardede menambahkan, secara industri pertumbuhan kredit tahun ini masih dalam kisaran regulator, yakni 9-11%. Sementara itu, DPK perbankan nasional diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun lalu, sekitar 8-10% (yoy).

“Pertumbuhan DPK 2023 melambat karena 2022 itu high based karena harga minyak dunia naik dan ada pembayaran kompensasi ke Pertamina dan PLN di akhir 2022 sehingga penempatan di bank khususnya bank BUMN meningkat tajam, jadi high based, sedangkan 2023 melambat, jadi ada potensi tahun ini meningkat lagi,” tutur Josua.

Josua pun menilai kondisi likuiditas perbankan nasional tahun ini masih memadai, terlebih ekses likuiditas di BI khususnya SRBI yang masih ample. Kemudian, tahun ini pada semester II setelah pemilu dan menjelang penurunan suku bunga BI juga akan ada net foreign asset yang tahun lalu turun moderat, sehingga tahun ini diperkirakan likuiditas cenderung lebih longgar.

“Dengan pertumbuhan ekonomi resilien 5-5,1% itu akan mendorong investasi meningkat, konsumsi terjaga, sehingga ini modal permintaan kredit. Dari sisi penawaran tidak ada issue, yang jadi concern adalah dari permintaan, dengan konsumsi terjaga, investasi solid, permintaan kami harapkan bisa sama seperti tahun lalu,” jelas Josua.

Di sisi sektoral, Josua melihat dengan perlambatan ekonomi global, sektor yang berorientasi domestik masih akan resilien. Seperti makanan minuman, pengolahan mineral dasar yang berkaitan dengan semangat ESG, lalu petrokimia, dari sektor manufaktur diproyeksi terus bertumbuh. “Dari konsumsi pun saya pikir tetap bertumbuh cukup baik dengan risiko kredit yang masih lebih kecil, jadi pembiayaan konsumen pun akan tumbuh cukup baik,” kata dia.

Editor: Nida Sahara

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 51 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 53 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia