Jumat, 15 Mei 2026

Rugi Rp 16 Triliun, LPEI Pamer NPL Sudah Dibawah 5%

Penulis : Prisma Ardianto
1 Jul 2024 | 21:07 WIB
BAGIKAN
Direktur Eksekutif LPEI, Rijani Tirtoso. (Foto: istimewa)
Direktur Eksekutif LPEI, Rijani Tirtoso. (Foto: istimewa)

JAKARTA, investor.id – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memamerkan bahwa kredit bermasalah (non performing loan/NPL) telah berhasil ditekan dibawah 5%. Namun demikian, perusahaan harus berkorban dengan melakukan pencadangan sampai Rp 17 triliun, mendorong rugi bersih sampai Rp 16,5 triliun.

Hal tersebut dilontarkan LPEI saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI pada Senin (1/7/2024). Rapat tersebut mengagendakan pemaparan LPEI mengenai kinerja dan urgensi usulan PMN Rp 10 triliun dari APBN 2024.

Direktur Eksekutif LPEI Riyani Tirtoso menerangkan, Permasalahan kualitas pembiayaan LPEI telah terjadi sebelum tahun 2018. Pada puncaknya, kredit/pembiayaan LPEI mencapai Rp 108,9 triliun dengan NPL sebesar 19%.

ADVERTISEMENT

“Dimana penyebabnya adalah pemberian kredit, mostly terjadi over-financing. Infrastruktur dan mekanisme peringatan dini atau early warning detection belum tersedia. Kemudian komite pembiayaan tidak ada. Pengambilan keputusan dilakukan secara sirkuler dan MIS tidak tersedia secara detail. Serta tidak ada unit khusus untuk special asset management,” urai Riyani.

Tidak itu saja, permasalahan yang terdeteksi mengungkap pada saat itu LPEI juga tidak bisa melakukan hapus buku, sebagaimana yang dapat dilakukan bank komersial. Dalam menetapkan kolektibilitas, LPEI hanya memberlakukan prinsip satu pilar.

“Dengan adanya manajemen yang baru, sejak tahun 2020-2022, kita perbaiki semua itu. Ditutup pada tahun 2023, kita bukukan CKPN yang cukup signifikan, sehingga kondisi NPL net sudah dibawah 5% yaitu sekitar 4%,” beber Riyani.

Upaya menekan NPL itu bukan tanpa konsekuensi. Langkah yang ditempuh perusahaan adalah dengan membukukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) senilai Rp 17 triliun pada 2023. Berdasarkan materi paparan, upaya bernama 'Big Bang Additional CKPN' diambil dengan alasan usaha perbaikan secara organik tidak sustainable dan perbaikan secara inorganic tidak feasible.

Rugi Rp 16 Triliun

Lewat adanya perbaikan kualitas pembiayaan, LPEI juga akhirnya membukukan adanya pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang lebih baik. Pada 2023, NII LPEI mencapai Rp 923 miliar atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 776 miliar. Alhasil, PPOP perusahaan juga tercatat naik hampir dua kali lipat dari Rp 215 miliar menjadi Rp 402 miliar.

“Namun ditinjau dari profit (loss) after tax, karena kita melakukan penguatan secara signifikan akun-akun yang sudah bermasalah sejak lama, sehingga kita membukukan CKPN sekitar Rp 17 triliun dan kemudian profit (loss) after tax menjadi (rugi) Rp 16 triliun,” jelas Riyani.

Dengan kebijakan tersebut, NPL net LPEI memang mampu turun signifikan dari semula 10,4% pada 2022 menjadi 4,5% pada 2023. Menurut dia, angka itu masuk kategori sehat berdasarkan aturan OJK yang mengatur NPL maksimal sebesar 5%.

Kendati membukukan CKPN yang besar, rasio permodalan (capital adequacy ratio/CAR) LPEI masih berada di level memadai yaitu 17,8%. Riyani mengklaim bahwa angka tersebut berada di batas aman 8% dan bahkan masih dekat dengan sejumlah bank-bank komersial lainnya yang berada di posisi 20-29%.

Hingga akhir 2023, LPEI mencatat total nilai kredit/pembiayaan mencapai Rp 73,8 triliun, menurun dari tahun sebelumnya mencapai Rp 83,6 triliun. Penurunan ini diakibatkan fokus perusahaan untuk melakukan diversifikasi bisnis bisnis asuransi, trade finance, dan intensifikasi jasa konsultasi.

Secara rinci, bisnis asuransi mencatat nilai premi mencapai Rp 12,0 triliun. Bisnis trade finance menghasilkan pendapatan sebesar Rp 16,1 triliun. Serta akumulasi dana devisa sebesar Rp 917 miliar, berikut akumulasi eksportir baru sebanyak 613 enitas.

“Segmen korporasi masih menjadi tulang punggung pembiayaan, namun portofolio saat ini sudah semakin meningkat pembiayaan di level regional, yaitu semula hanya 16% menjadi 19% pada akhir 2023,” pungkas Riyani.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 24 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 28 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia