Jumat, 15 Mei 2026

Laba BTN (BBTN) Turun 5,8% pada Juli 2024

Penulis : Prisma Ardianto
1 Sep 2024 | 22:18 WIB
BAGIKAN
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat peresmian pengubahan logo BTN di Jakarta. (Sumber: istimewa)
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat peresmian pengubahan logo BTN di Jakarta. (Sumber: istimewa)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN meraup laba bersih Rp 1,60 triliun sampai Juli 2024. Tapi, laba bersih tersebut tercatat turun 5,87% secara tahunan (year on year/yoy).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, tren minor dari laba bersih BBTN dipengaruhi pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang juga turun 10,18%.

Sebagai perbandingan, NII pada Juli 2024 sebesar Rp 6,81 triliun atau lebih rendah dari Rp 7,58 triliun pada periode sama tahun lalu.

ADVERTISEMENT

Jika dirinci, emiten bersandi BBTN itu mencatat total pendapatan bunga sebesar Rp 17,27 triliun atau naik 9,08%. Sementara beban bunga terkerek lebih tinggi yaitu 26,79% menjadi sebesar Rp 10,46 triliun pada Juli 2024.

BBTN punya harapan untuk mendongkrak laba di sisi operasional lainnya, dimana pendapatan komisi BTN naik 15,86% menjadi Rp 873.93 miliar. Kemudian, pendapatan dari pos lainnya juga naik 35,83% menjadi Rp 829,15 miliar selama tujuh bulan.

Pencapaian positif selanjutnya dari BBTN adalah dari pos kerugian penurunan nilai aset (impairment) atau biaya provisi yang susut cukup dalam, seiring perbaikan kualitas aset. Pos ini turun 50,70% menjadi Rp 1,12 triliun.

Kendati sejumlah pos operasional lain tumbuh baik dan biaya provisi berhasil ditekan, laba operasional BTN masih harus puas dengan penurunan 4,68%. Secara yoy, laba operasional turun dari Rp 2,14 triliun menjadi Rp 2,04 triliun.

Padahal Kredit Lari Kencang

Di samping kinerja laba bersih yang bergerak dalam tren minor, kinerja kredit dan pembiayaan dari BTN tumbuh cukup cepat. Pada tujuh bulan pertama di tahun ini, total kredit dan pembiayaan BBTN naik sebesar 14,39% menjadi Rp 355,67 triliun.

Menurut sebarannya, kredit yang disalurkan naik 13,38% menjadi sebesar Rp 313,46 triliun. Sedangkan pembiayaan syariah terbang 22,55% menjadi Rp 42,21 triliun pada Juli 2024.

Sejalan kredit dan pembiayaan yang bergerak cepat itu, total aset yang dikantongi BTN ikut terangkat 11,97% menjadi Rp 457,86 triliun pada Juli 2024. Sebelumnya aset perseroan pada periode sama tahun lalu sebesar Rp 408,90 triliun.

Untuk mengimbagi pergerakan kredit, BTN turut mencatatkan pertumbuhan tinggi pada dana pihak ketiga (DPK). Adapun DPK dari BBTN naik 17,54% menjadi Rp 374,66 triliun pada Juli 2024.

Jika dirinci, penghimpunan dana dari instrumen giro naik 13,90% menjadi Rp 145,68 triliun, tabungan -0,94% menjadi Rp 40,31 triliun, serta deposito loncat 25,65% menjadi Rp 188,66 triliun.

Dengan komposisi begitu, rasio dana murah (current account saving account/CASA) dari BTN ikut susut 325 basis points (bps). Secara yoy, rasio CASA turun dari 52,89% ke posisi 49,64% pada Juli 2024.

Adapun seiring peningkatan DPK dan instrumen pendanaan lainnya, total liabilitas BBTN ikut naik 12,20% menjadi Rp 426,64 triliun. Sementara ekuitas meningkat 9,01% menjadi Rp 31,21 triliun.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia