Jumat, 15 Mei 2026

Peluang dan Tantangan Asuransi Tahun 2025

Penulis : Prisma Ardianto
10 Sep 2024 | 17:43 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi asuransi dan reasuransi. (Investor Daily/Prisma Ardianto)
Ilustrasi asuransi dan reasuransi. (Investor Daily/Prisma Ardianto)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan proyeksi kinerja sektor perasuransian pada tahun 2025 mendatang, baik untuk industri asuransi jiwa maupun industri asuransi umum.

Kendati pasar dinilai sangat potensial, tapi merosotnya daya beli masyarakat jadi tantangan tahun depan. Tetapi industri asuransi juga dipercaya masih punya celah untuk tetap bertumbuh seiring dengan sejumlah perbaikan yang telah terjadi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono menyatakan bahwa pihaknya optimistis dengan pertumbuhan asuransi pasca-pergantian pemerintah nanti maupun pada 2025 mendatang. Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tahun depan juga mendukung peningkatan konsumsi dalam negeri.

ADVERTISEMENT

“Seiring dengan hal tersebut, kami berharap sektor asuransi akan mendapatkan trickle down effect. Mengingat market asuransi masih sangat terbuka lebar dengan tingkat inklusi yang masih belum setinggi sektor lain seperti perbankan,” ungkap Ogi melalui keterangan kepada wartawan, dikutip Selasa (10/9/2024).

Di sektor asuransi jiwa, OJK melihat telah terjadi pertumbuhan yang pelan namun pasti sampai Juli 2024 ini, setelah sempat melalui pertumbuhan negatif pada tahun 2023 silam.

“Sepanjang tahun 2024, premi asuransi jiwa sudah menunjukkan pertumbuhan positif dari tahun sebelumnya. Per Juli 2024, premi asuransi jiwa mencapai Rp 104,30 triliun atau naik sebesar 2,14% dari tahun sebelumnya,” urai Ogi.

Ogi dalam kesempatan sebelumnya juga menyatakan bahwa industri asuransi jiwa telah melalui tantangan dalam menyesuaikan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link. Dalam perjalanannya produksi unit link sempat menurun dalam dan kini sudah mencapai titik keseimbangan baru (new equilibrium) untuk bisa kembali tumbuh positif di masa mendatang.

Sementara di sektor asuransi umum yang sensitif dengan kondisi perekonomian nasional, OJK turut meramal masih akan terjadi pertumbuhan yang positif. Hal itu tercermin kinerja operasional yang baik bagi premi asuransi umum sampai Juli 2024, dimana pertumbuh di kisaran 22% dari tahun sebelumnya.

Salah satu yang menopang pendapatan premi industri asuransi umum adalah lini usaha asuransi kredit. Lini tersebut tumbuh sebesar 18,94% (yoy) ke posisi Rp 11,90 triliun sampai Juli 2024. Adapun nilai klaim juga relatif terkendali dengan nominal Rp 8,96 triliun.

“Meskipun terdapat tantangan dari sisi ekonomi makro seperti penurunan daya beli dan suku bunga tinggi, OJK optimis sektor asuransi umum di Indonesia pada tahun 2025 masih memiliki potensi pertumbuhan yang baik,” pungkas Ogi.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia