PPN 12% Bisa Pukul Multifinance
BANDUNG, investor.id – Rencana pemerintah menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi dari 11% menjadi 12% pada tahun 2025 diprediksi ikut memberi dampak ke perusahaan pembiayaan alias multifinance. Dampak lebih besar diprediksi dirasakan pembiayaan roda empat (mobil), sedangkan imbas lebih minim ke pembiayaan roda dua (motor).
Direktur Keuangan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), Sylvanus Gani Mendrofa menyampaikan, penaikan PPN menjadi 12% dapat memengaruhi harga suatu kendaraan. Pada gilirannya, hal itu dapat mengalir ke besaran angsuran kredit/pembiayaan suatu kendaraan.
Oleh karena itu, emiten multifinance bersandi ADMF ini berupaya untuk melihat lebih lanjut dampak dari penaikan PPN 12% pada tahun depan. Dampak yang dimaksud akan terlihat lebih jelas dalam hasil kajian yang kini sedang disusun.
“Kita sedang mengkaji dampak kenaikan biayanya, khususnya roda empat mungkin dampaknya akan lebih signifikan. Sementara dampak ke kendaraan roda dua masih lebih minim,” beber Gani kepada Investor Daily di Bandung, pada Sabtu (16/11/2024).
Menurut dia, intervensi pemerintah terhadap insentif pajak seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPNBM) yang berlangsung dalam beberapa tahun terkahir terbukti ampuh mendorong geliat penjualan mobil. Sebaliknya, penaikan PPN bukan tidak mungkin bisa menganggu penjualan mobil.
Adira Finance sendiri telah menyusun siasat untuk mengurangi ketergantungan bisnis pada pembiayaan otomotif, yang salah satunya adalah pembiayaan mobil. Oleh karena itu, tekanan PPN 12% terhadap penjualan mobil diprediksi tetap dirasakan meskipun lebih minim.
Baca Juga:
Siasat Adira Finance (ADMF) Tahun 2025Sementara itu, berdasarkan laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil pada tahun 2025 nanti diprediksi akan mencapai 1 juta unit. Proyeksi itu lebih optimis karena menandakan kebangkitan penjualan yang setara dengan penncapaian tahun 2022 lalu.
Adapun dalam realisasinya, penjualan mobil dalam negeri mencapai 77.191 unit pada Oktober, dimana menjadi angka tertinggi secara bulanan di tahun 2024 ini. Kendati begitu, penjualan mobil masih terkontraksi 3,9% year on year (yoy) dibandingkan Oktober 2023 yang sebanyak 80.350 unit.
Sementara merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan dengan objek kendaraan bermotor naik 13,11% (yoy) menjadi Rp 345,57 triliun hingga Agustus 2024.
Pembiayaan mobil baru dari multifinance masih jadi penyokong utama dengan pertumbuhan 9,08% (yoy) menjadi Rp 151,74 triliun. Sedangkan pembiayaan mobil bekas merangsek tumbuh 21,58% (yoy) menjadi Rp 21,58 triliun.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






