Jumat, 15 Mei 2026

Ekuitas Jadi Pondasi Ketahanan Perusahaan Asuransi Hadapi Risiko

Penulis : Heru Febrianto
30 Jun 2025 | 15:46 WIB
BAGIKAN
Kantor PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance).
Kantor PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance).

JAKARTA, investor.id – Tidak banyak perusahaan asuransi yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis yang cepat dengan tingkat kesehatan yang baik. Di tengah dinamika industri asuransi dalam beberapa tahun terakhir, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) atau Tugu Insurance justru melangkah stabil, nyaris tanpa banyak riuh.

Analis NH Korindo Sekuritas Leonardo Lijuwardi menilai TUGU merupakan contoh menarik dari perusahaan asuransi yang bisa tumbuh tanpa terlalu bergantung pada tekanan pasar ritel, namun tetap menjaga akuntabilitas tinggi sebagai emiten publik.

“Selain memiliki captive market dari Grup Pertamina, struktur keuangan TUGU juga termasuk yang paling sehat di antara perusahaan asuransi umum termasuk BUMN asuransi lainnya. Ini memberi mereka ruang untuk ekspansi yang lebih hati-hati namun terarah,” kata Leonardo Lijuwardi di Jakarta, Senin (30/6/2025)

ADVERTISEMENT

Menurutnya, TUGU juga memiliki ekuitas yang jauh lebih kuat dibandingkan para pesaingnya. Per akhir 2024 posisi ekuitas konsolidasi TUGU menembus angka Rp 10,5 triliun, meningkat signifikan dibandingkan posisi di tahun 2020 yang tercatat Rp 8,46 triliun. Rasio solvabilitas (RBC) TUGU pada tahun 2024 mencapai 432%, jauh di atas rata-rata industri yang sebesar 326% atau batas minimum yakni 120% yang di tetapkan oleh OJK.

Leo menambahkan, ekuitas yang besar ini mencerminkan kemampuan Tugu Insurance untuk menyerap risiko besar dan tetap menjaga stabilitas neraca, sesuatu yang jarang dimiliki oleh perusahaan asuransi umum lain, terutama di segmen BUMN. Kekuatan modal ini menjadi pondasi penting dalam menjaga ketahanan perusahaan menghadapi risiko yang terus berkembang.

“Tingkat RBC TUGU yang tinggi memberi keyakinan bahwa perusahaan ini sangat likuid dan solvabel serta mampu memenuhi kewajibannya terhadap nasabah kapan pun diperlukan. Ini memberikan rasa aman tidak hanya bagi investor, tetapi juga bagi para pemegang polis. Sementara beberapa BUMN asuransi menghadapi tantangan struktural, TUGU justru menunjukkan ketahanan dan konsistensi,” ujarnya.

Tata kelola perusahaan juga menjadi pembeda mengingat TUGU sudah go public sejak 2018 tidak seperti mayoritas asuransi umum lain termasuk BUMN asuransi yang juga belum menjadi perusahaan terbuka (Tbk). Status go public ini mendorong tingkat transparansi, akuntabilitas, serta disiplin manajemen yang lebih tinggi.

“Dari perspektif pasar modal, TUGU adalah salah satu contoh emiten asuransi yang sehat secara fundamental dan menarik dari sisi governance. Dengan struktur keuangan yang kuat dan eksposur pasar yang jelas, TUGU berada dalam posisi yang relatif lebih unggul dibandingkan sejumlah BUMN asuransi lain yang belum melalui proses pembenahan secara menyeluruh,” ujarnya.

Ekspansi Non BUMN

Perusahaan yang lahir dari lingkungan bisnis energi ini mulai dikenal bukan hanya karena afiliasinya dengan Grup Pertamina, tetapi juga karena konsistensinya membangun fondasi yang kokoh, sehat dan transparan. Tidak heran bila sejak 2016 secara berturut-turut TUGU berhasil mempertahankan global rating A- dari AM BEST.

Hal ini tercermin dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan konsolidasi periode 2020-2024 sebesar 12,4%. Pada akhir 2024, pendapatan TUGU konsolidasi mencapai Rp 3,93 triliun, tumbuh 9,5% secara year on year.

Sebagai bagian dari ekosistem Grup Pertamina, TUGU memiliki captive market minyak dan gas sebagai pendukung pendapatan. Namun pertumbuhan pendapatan juga didukung oleh ekspansi ke market non BUMN serta ekspansi bisnis ritel. Hal ini yang sulit dimiliki oleh asuransi umum termasuk asuransi BUMN lainnya.

Dengan tingkat efisiensi yang terjaga, pertumbuhan laba TUGU mampu melampaui pertumbuhan pendapatan. Dalam 5 tahun, pertumbuhan laba bersih rata-rata per tahun mencapai 27,5%.

Dalam hal aset, TUGU juga mencatatkan total aset konsolidasi lebih dari Rp 26,35 triliun per akhir 2024, terbesar di antara BUMN asuransi maupun anak usaha BUMN lainnya di segmen asuransi umum. Kapasitas ini membuka ruang bagi perusahaan untuk lebih fleksibel dalam berinvestasi, meningkatkan layanan, serta memenuhi komitmen jangka panjang kepada nasabah.

Editor: Heru Febrianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 43 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia