Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon. ( Foto: AFP via Getty Images )

CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon. ( Foto: AFP via Getty Images )

AS akan Menuju Pertumbuhan Ekonomi Terbaik

Rabu, 12 Januari 2022 | 18:16 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id – Chief Executive Officer (CEO) dan Chairman JPMorgan Chase Jamie Dimon mengatakan, Amerika Serikat (AS) sedang menuju pertumbuhan ekonomi terbaiknya dalam beberapa dekade.

“Kita akan memiliki pertumbuhan terbaik yang pernah dialami tahun ini, saya pikir mungkin sejak beberapa saat setelah peristiwa Depresi Besar (Great Depression). Tahun depan juga akan cukup bagus,” ujar dia kepada Bertha Coombs dari CNBC, dalam acara “40th Annual J.P. Morgan Healthcare Conference” yang digelar secara virtual karena penyebaran varian virus corona Covid-19, Omicron, Senin (10/1) waktu setempat.

JPMorgan adalah bank AS terbesar berdasarkan aset dan terhubung dengan separuh dari total rumah tangga di Negeri Paman Sam itu.

Menurut Dimon, kepercayaannya berasal dari neraca konsumen Amerika yang kuat.

“Neraca konsumen tidak pernah dalam kondisi yang lebih baik; mereka menghabiskan 25% lebih banyak hari ini daripada sebelum Covid. Rasio layanan utang mereka lebih baik daripada sebelumnya sejak kami membuat catatan selama 50 tahun,” kata dia.

Dimon mengungkapkan, pertumbuhan akan terjadi bahkan di saat The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan lebih banyak dari yang diharapkan investor.

Menurut perkiraan para ekonom Goldman Sachs, tahun ini ada empat kenaikan suku bunga dan Dimon menyatakan bahwa dirinya bakal terkejut jika bank sentral AS itu tidak melangkah lebih jauh.

“Ada kemungkinan inflasi lebih buruk dari yang mereka kira, dan mereka menaikkan suku bunga lebih dari yang dipikirkan orang. Saya pribadi akan terkejut jika hanya empat kali kenaikan,” tambahnya.

Dimon telah menyatakan harapan mengenai kenaikan yang lebih tinggi sebelumnya. Perbankan cenderung makmur di lingkungan suku bunga yang meningkat karena margin pinjaman mereka meningkat seiring dengan kenaikan suku bunga.

Memang, saham bank-bank telah melonjak sepanjang tahun ini karena kenaikan suku bunga. KBW Bank Index juga melonjak 10% pada pekan lalu dan catatan itu menjadi awal terbaik bagi indeks 24 perusahaan pada tahu ini.

Namun Dimon mengatakan, sementara ekonomi yang mendasarinya terlihat kuat, para investor pasar saham mungkin mengalami tahun yang penuh gejolak saat The Fed mulai bekerja.

“Pasarnya berbeda. Kami agak berharap bahwa pasar akan memiliki banyak volatilitas tahun ini karena suku bunga naik dan orang-orang melakukan proyeksi ulang. Jika kita beruntung, The Fed dapat memperlambat segalanya dan kita akan mengalami apa yang mereka sebut soft landing,” demikian penjelasan Dimon.

Empat Kali

Goldman Sachs memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali pada tahun ini, dan memulai proses pengurangan neraca segera setelah Juli. Pernyataan Goldman Sachs ini menyusul perbankan besar lain yang memperkirakan pengetatan agresif kebijakan moneter AS.

Bank-bank Wall Street sebelumnya memprediksi bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan pada Maret, Juni dan September. Tetapi sekarang mereka memprediksi kenaikan lain pada Desember.

“Tingkat prediksi Goldman Sachs hanya sedikit di atas ekspektasi pasar untuk 2022, tetapi kesenjangan tumbuh secara signifikan di tahun-tahun berikutnya,” demikian tulis kepala ekonom Jan Hatzius dalam sebuah catatan yang diterbitkan pada Minggu (9/1), yang dilansir Reuters.

Bulan lalu, para pejabat The Fed mengatakan bahwa pasar tenaga kerja AS sangat ketat, dan mungkin perlu langkah bank sentral untuk menaikkan suku lebih cepat dari yang diharapkan tetapi juga mengurangi kepemilikan aset secara keseluruhan untuk meredam inflasi yang tinggi.

Demikian risalah dari pertemuan Desember yang ditunjukkan pekan lalu, dan mendorong para pedagang untuk menaikkan peluang harga sekitar 80% dari kenaikan suku bunga Maret.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN