Jumat, 15 Mei 2026

Ukraina Tolak Serahkan Kota Mariupol

Penulis : Happy Amanda Amalia
22 Mar 2022 | 19:33 WIB
BAGIKAN
Seorang pria menonton sepedanya di antara puing-puing di luar sebuah mal Retroville yang hancur di sebuah kawasan permukiman di Kyiv, Ukraina, Senin (21/3), akibat serangan pasukan Rusia. Setidaknya enam orang tewas akibat pengeboman sepanjang malam di mal tersebut. Foto: Investor Daily/ARIS MESSINIS / AFP
Seorang pria menonton sepedanya di antara puing-puing di luar sebuah mal Retroville yang hancur di sebuah kawasan permukiman di Kyiv, Ukraina, Senin (21/3), akibat serangan pasukan Rusia. Setidaknya enam orang tewas akibat pengeboman sepanjang malam di mal tersebut. Foto: Investor Daily/ARIS MESSINIS / AFP

KYIV, investor.id – Pemerintah Ukraina pada Senin (21/3) menolak ultimatum Rusia untuk menyerahkan kota Mariupol, menyusul aksi pengeboman baru yang terjadi semalaman dan menewaskan sedikitnya delapan orang di sebuah pusat perbelanjaan di Kyiv.

Sebelumnya komando militer Kremlin telah memperingatkan pihak berwenang di Mariupol, yang hanya memiliki waktu hingga pukul 05.00 pagi pada 21 Maret 2022 untuk menanggapi delapan halaman tuntutan.

Yang mana menurut pejabat Ukraina, hal itu berarti menyerah. Kepala Kebijakan Uni Eropa (UE) Josep Borrell mengatakan, hampir 350.000 orang terjebak tanpa air dan listrik di kota pelabuhan Mariupol. Kota ini telah dibombardir oleh pasukan Rusia selama hampir sebulan, yang digambarkan sebagai sebuah kejahatan perang besar-besaran.

ADVERTISEMENT

Di tempat lain di Ukraina, bom-bom Rusia semalam mengenai sasaran yang diduga telah merusak pabrik kimia di utara negara itu dan menyebabkan kebocoran amonia sehingga memicu peringatan tanda bahaya sementara.

Ukraina Tolak Serahkan Kota Mariupol
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan pidato video di Ukraina, mendesak Rusia bahwa ini adalah waktu untuk membahas serta memulihkan integritas teritorial dan keadilan bagi Ukraina. (FOTO: HANDOUT / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun terus mendesak Eropa untuk secara signifikan meningkatkan tekanan pada Rusia agar menghentikan serangan yang sudah berlangsung hampir sebulan. Ia mengatakan, Benua Biru itu harus menghentikan semua perdagangan dengan Rusia.

“Tidak ada euro untuk penjajah. Tutup semua pelabuhan Anda untuk mereka. Jangan mengekspor barang -barang Anda kepada mereka. Tolak sumber daya energi. Dorong Rusia untuk meninggalkan Ukraina,” ujar Zelensky dalam pidato video terbarunya, yang dilansir AFP.

Para pemimpin di Ukraina juga menekankan bakal berdiri teguh melawan penjajah di Mariupol, yang sedang menderita krisis kemanusiaan kritis.

“Para pembela kota pelabuhan telah memainkan peran besar dalam menghancurkan rencana musuh dan meningkatkan pertahanan kita. Hari ini Mariupol menyelamatkan Kyiv, Dnipro dan Odessa. Semua orang harus memahami ini,” kata Menteri Pertahanan Ukraina Oleksiy Reznikov.

Seiring penolakan ultimatum Rusia untuk menyerahkan Mariupol, Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk mengungkapkan bahwa Rusia seharusnya membiarkan penduduk yang terperangkap menyelamatkan diri.

“Kami tidak bisa berbicara tentang menyerahkan senjata,” tutur Vereshchuk kepada surat kabar daring Ukrainska Pravda.

Mariupol adalah target penting dalam serangan yang dilancarkan Presiden Vladimir Putin di Ukraina. Pasalnya, wilayah ini menyediakan jembatan darat antara pasukan Rusia di Krimea di barat daya dengan wilayah yang dikuasai Rusia di utara dan timur.

Menurut seorang diplomat Yunani yang masih berada di kota itu, kehancuran Mariupol akan disamakan dengan serangan-serangan di masa perang yang paling merusak dalam sejarah.

“Mariupol bakal dimasukkan dalam daftar kota di dunia yang hancur total akibat perang, seperti Guernica, Stalingrad, Grozny, Aleppo,” demikian penjelasan Manolis Androulakis ketika tiba kembali di Athena pada Minggu (20/3) malam.

Androulakis diyakini sebagai diplomat UE terakhir yang meninggalkan kota.

Peringatan Embargo Minyak

Ukraina Tolak Serahkan Kota Mariupol
Pada 18 Maret 2022 ini, 109 kereta bayi kosong dan keranjang bayi terlihat ditempatkan di luar kantor dewan Lviv selama aksi untuk menyoroti jumlah anak yang tewas dalam serangan Rusia ke Ukraina. (FOTO: YURIY DYACHYSHYN / AFP)

Pemerintah Rusia memulai operasi militer khusus di negara tetangganya pada 24 Februari. Negeri Beruang Merah itu terus menekan walau banyak sanksi luar biasa yang telah dijatuhkan sekutu-sekutu Barat.

Menurut laporan, bom-bom Rusia telah mengenai beberapa sasaran di seluruh negeri semalam serta menghancurkan pusat perbelanjaan di Kyiv, dan mendorong walikota mengumumkan aturan jam malam baru yang berlaku mulai Senin malam hingga Rabu (23/3) pagi.

Di bagian utara, warga Ukraina diberitahu untuk sementara waktu berlindung pasca terjadi kebocoran amonia di pabrik kimia terdekat, di tengah pertempuran sengit dengan pasukan Rusia di daerah tersebut. Gubernur wilayah Sumy, Dmytro Zhyvytsky mengatakan penembakan artileri Rusia telah mengenai pabrik pupuk Sumykhimprom.

Ia pun memperingatkan penduduk yang tinggal dalam radius 2,5 kilometer untuk mencari perlindungan sebelum suara tembakan benar-benar berhenti pada pertengahan pagi.

Sedangkan auh dari garis depan, para menteri luar negeri Uni Eropa tengah berkumpul di Brussels, Belgia untuk mempertimbangkan sanksi-sanksi baru terhadap Rusia.

Dalam pertemuan itu, beberapa anggota UE mendorong pemberlakuan embargo minyak dan gas Rusia. Namun, Jerman telah menolak seruan itu dan memperingatkan bahwa hal tersebut dapat memicu ketidakstabilan sosial. Pihak Kremlin sendiri pada Senin telah memberikan peringatan mengenai larangan semacam itu, dengan mengatakan akan berdampak langsung pada semua orang.

“Embargo semacam itu akan berdampak sangat serius pada pasar energi dunia dan akan berdampak negatif sangat serius pada keseimbangan energi Eropa,” ujar Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Isu harga energi dan masalah keamanan pasokan sendiri dijadwalkan dibahas pada pertemuan puncak Uni Eropa pada Kamis (24/3) di Brussels, yang juga akan dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Pemimpin AS itu juga akan bergabung dalam pertemuan puncak Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan pembicaraan G-7 di Brussels, sebelum melakukan perjalanan ke Polandia pada Jumat (25/3).

Di Polandia, Biden diperkirakan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Andrzej Duda untuk membahas tanggapan bersama terhadap krisis kemanusiaan yang telah menyebabkan lebih dari dua juta warga Ukraina melarikan diri ke negerinya.

Diletahui, kondisi kemanusiaan terus memburuk di selatan dan timur yang sebagian besar berbahasa Rusia. Ini karena pasukan Rusia telah menekan kemajuan mereka, serta di utara sekitar Kyiv. (afp)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia