Jumat, 15 Mei 2026

Dampak Perang Rusia di Ukraina Terhadap Ekonomi Global

Penulis : Grace El Dora
23 Mar 2022 | 14:59 WIB
BAGIKAN
Buruh Palestina bekerja di pabrik gandum di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 21 Maret 2022. Wilayah ini sangat bergantung pada pasokan gandum dari kedua negara yang saat ini sedang berperang, sementara setiap kekurangan makanan pokok berpotensi menimbulkan kerusuhan. (FOTO: SAID KHATIB / AFP)
Buruh Palestina bekerja di pabrik gandum di Rafah, Jalur Gaza selatan, pada 21 Maret 2022. Wilayah ini sangat bergantung pada pasokan gandum dari kedua negara yang saat ini sedang berperang, sementara setiap kekurangan makanan pokok berpotensi menimbulkan kerusuhan. (FOTO: SAID KHATIB / AFP)

PARIS, investor.id – Satu bulan konflik di Ukraina telah membuat harga minyak global melonjak, sejumlah perusahaan asing keluar dari Rusia, dan pemerintah Rusia menghadapi kekhawatiran gagal bayar (default) utang negara. Berikut ini adalah dampak ekonomi dan bagaimana perang Rusia di Ukraina mengguncang ekonomi global.

Harga Komoditas Melambung

Harga minyak dan gas telah melonjak karena kekhawatiran pasokan, karena Rusia adalah salah satu produsen dan pengekspor bahan bakar fosil terbesar di dunia.

Minyak mentah Brent North Sea, patokan internasional, mencapai harga US$ 90 per barel pada Februari 2022. Pada 7 Maret 2022 harganya melonjak ke US$ 139,13, mendekati level tertinggi 14 tahun dan harga tetap sangat fluktuatif.

ADVERTISEMENT

Harga gas juga meroket, dengan referensi Eropa TTF Belanda melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di harga 345 euro pada 7 Maret 2022.

Pemerintah Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Inggris telah mengumumkan larangan minyak Rusia. Sementara Uni Eropa (UE) telah menghindari sanksi terhadap sektor energi Rusia, karena negara-negara seperti Jerman sangat bergantung pada pasokan gas Rusia.

Komoditas lain yang diproduksi secara besar-besaran di Rusia telah melonjak, termasuk nikel dan aluminium. Rantai pasokan industri otomotif menghadapi gangguan karena suku cadang utama, yang berasal dari Ukraina.

Ancaman Makanan

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres telah memperingatkan bahwa konflik dapat berdampak jauh di luar Ukraina. “(Menyebabkan) badai kelaparan dan kehancuran sistem pangan global,” ujarnya.

Adapun Rusia dan Ukraina adalah lumbung pangan dunia, menyumbang 30% dari ekspor gandum global. Harga sereal dan minyak goreng sejak itu telah meningkat.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau FAO mengatakan bahwa jumlah orang yang kekurangan gizi dapat meningkat delapan hingga 13 juta orang selama tahun ini dan tahun depan.

Kapal-kapal tidak meninggalkan Ukraina dan ada kekhawatiran tentang musim tanam yang akan datang di negara itu.

Pemerintah AS, India, dan Eropa dapat menutupi kekurangan gandum. Tapi bisa lebih rumit untuk menggantikan minyak bunga matahari dan jagung, karena Ukraina menjadi eksportir nomor satu dan nomor empat di dunia.

Pasar Terguncang

Pasar saham telah memulai tahun ini dengan catatan yang baik karena ekonomi pulih dari pandemi Covid-19 dan perusahaan membukukan hasil yang sehat.

Tetapi perang telah membawa volatilitas ke pasar. Sementara bursa saham Moskow ditutup selama tiga minggu dan hanya dibuka kembali sebagian pada Senin (21/3).

Sanksi Barat telah melumpuhkan sektor perbankan dan sistem keuangan Rusia, sementara nilai rubel runtuh.

Perusahaan Melarikan Diri

Ratusan perusahaan Barat telah menutup toko dan kantor di Rusia sejak perang dimulai karena sanksi, tekanan politik, atau opini publik. Daftar tersebut mencakup nama-nama terkenal seperti Ikea, Coca-Cola, dan MacDonald's.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengangkat ancaman nasionalisasi perusahaan milik asing.

Beberapa perusahaan telah memilih untuk tinggal di Rusia dengan alasan tanggung jawab sosial mereka untuk tidak meninggalkan karyawan lokal.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia