Fed Indikasikan Inflasi AS Bisa Mengakar
WASHINGTON, investor.id – Para gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) bulan lalu menandai kekhawatiran bahwa inflasi setinggi langit dapat menjadi hal yang permanen. Pihaknya menekankan kesiapan bank untuk terus menaikkan suku bunga guna meredam tekanan harga, kata risalah pertemuan kebijakan terbaru.
Federal Reserve (Fed) bulan lalu menerapkan kenaikan suku bunga paling agresif dalam hampir 30 tahun. Pasalnya, regulator mengutip kekhawatiran bahwa tekanan harga tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, menurut catatan pertemuan 14-15 Juni 2022.
Anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan kebijakan Fed telah menaikkan suku bunga acuan hingga tiga perempat poin atau 75 basis poin (bps). Pada saat itu komite mengatakan bahwa kenaikan serupa lainnya mungkin terjadi akhir bulan ini, setelah data menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) melonjak 8,6% dalam 12 bulan hingga Mei 2022. Angka itu menjadi level tertinggi dalam lebih dari empat dekade.
“(Para pejabat khawatir) bahwa tekanan inflasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda (bukti lebih lanjut) inflasi akan lebih persisten daripada yang mereka perkirakan sebelumnya,” kata risalah tersebut, Kamis (7/7).
Banyak pembuat kebijakan mengatakan ada risiko yang signifikan bahwa inflasi yang tinggi dapat menjadi mengakar, jika publik mulai mempertanyakan keputusan komite.
Tetapi risalah tersebut menjelaskan bahwa para pejabat tidak berencana untuk menghentikan upaya mendinginkan ekonomi, setidaknya sampai akhir tahun ini.
Dengan tingginya harga makanan, energi, perumahan, dan barang-barang lainnya menekan keluarga Amerika, pejabat Fed menekankan langkah itu penting dalam memulihkan stabilitas harga.
Namun, tetap ada risiko inflasi akan terus meningkat di tengah ketidakpastian seputar berapa lama serangan Rusia ke Ukraina berlangsung dan apakah lockdown Covid-19 di Tiongkok akan terus memperburuk tekanan harga, kata laporan itu.
Melihat ke Belakang
Para pejabat mengakui bahwa mereka mungkin harus lebih agresif dalam memperketat kebijakan moneter. “Jika tekanan inflasi yang tinggi terus berlanjut,” tulisnya.
Namun, para ekonom mencatat bahwa data dan survei yang lebih baru menunjukkan tekanan harga mereda sementara permintaan perumahan melambat, bahkan lowongan pekerjaan di pasar tenaga kerja AS yang panas turun.
“Tidak yakin orang menyadari betapa dramatisnya narasi inflasi yang tak terkendali sekarang telah runtuh,” kata ekonom dan kolumnis pemenang Hadiah Nobel Paul Krugman di media sosial Twitter.
Dia mengatakan bahwa harga bensin eceran belum mencerminkan pendinginan di tingkat grosir.
Harga minyak telah mundur selama dua hari terakhir, dengan patokan WTI AS di bawah US$ 100 untuk pertama kalinya dalam sekitar dua bulan.
“(Tapi) banyak komentator ekonomi telah menunggu bertahun-tahun untuk kesempatan bersikap tegas terhadap inflasi yang tak terkendali, dan benar-benar tidak ingin mundur,” lanjutnya.
Ian Shepherdson dari Pantheon Macroeconomics juga mencatat bahwa sementara risalah menunjukkan ekonomi masih berkembang, gambaran pertumbuhan sudah ketinggalan zaman karena angka terbaru menunjukkan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2022 kemungkinan turun lagi.
Risiko “Terbalik”
Kenaikan suku bunga The Fed bulan lalu datang dengan bank sentral di bawah tekanan kuat untuk mengekang harga melonjak, yang telah membuat jutaan orang Amerika berjuang memenuhi kebutuhan. Kondisi ini menurunkan peringkat persetujuan Presiden AS Joe Biden.
Setelah pertemuan itu, Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan penting untuk menurunkan inflasi. Tetapi ia menekankan bahwa tujuannya adalah untuk mencapai itu tanpa menggagalkan ekonomi AS.
Risalah Fed mengonfirmasi kemungkinan kenaikan lain 50 bps atau 75 bps bulan ini. Tetapi Shepherdson mencatat bahwa para pejabat mengatakan mereka akan gesit dalam menghadapi data baru.
“Dengan kata lain, 75 bps bukan kesepakatan akhir. Kami sangat berharap data yang serius sejak pertemuan Juni akan mendorong anggota ke arah kenaikan yang lebih kecil,” ujarnya.
Para bankir sentral AS mulai menaikkan suku bunga dari nol pada Maret 2022 karena permintaan yang tinggi dari konsumen Amerika untuk rumah, mobil, dan barang-barang lainnya bentrok dengan gangguan transportasi hingga rantai pasokan.
Inflasi menjadi lebih buruk secara dramatis setelah serangan Rusia ke Ukraina pada akhir Februari 2022. Harga bahan bakar AS mencapai US$ 5,00 per galon untuk pertama kalinya, meskipun sejak itu telah sedikit mundur.
Risalah Fed mengatakan risiko inflasi tetap condong ke atas.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






