Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. (Foto: Eric BARADAT / AFP)

Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. (Foto: Eric BARADAT / AFP)

Fed Indikasikan Inflasi AS Bisa Mengakar

Kamis, 7 Juli 2022 | 08:42 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Para gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) bulan lalu menandai kekhawatiran bahwa inflasi setinggi langit dapat menjadi hal yang permanen. Pihaknya menekankan kesiapan bank untuk terus menaikkan suku bunga guna meredam tekanan harga, kata risalah pertemuan kebijakan terbaru.

Federal Reserve (Fed) bulan lalu menerapkan kenaikan suku bunga paling agresif dalam hampir 30 tahun. Pasalnya, regulator mengutip kekhawatiran bahwa tekanan harga tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, menurut catatan pertemuan 14-15 Juni 2022.

Advertisement

Anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan kebijakan Fed telah menaikkan suku bunga acuan hingga tiga perempat poin atau 75 basis poin (bps). Pada saat itu komite mengatakan bahwa kenaikan serupa lainnya mungkin terjadi akhir bulan ini, setelah data menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) melonjak 8,6% dalam 12 bulan hingga Mei 2022. Angka itu menjadi level tertinggi dalam lebih dari empat dekade.

“(Para pejabat khawatir) bahwa tekanan inflasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda (bukti lebih lanjut) inflasi akan lebih persisten daripada yang mereka perkirakan sebelumnya,” kata risalah tersebut, Kamis (7/7).

Banyak pembuat kebijakan mengatakan ada risiko yang signifikan bahwa inflasi yang tinggi dapat menjadi mengakar, jika publik mulai mempertanyakan keputusan komite.

Tetapi risalah tersebut menjelaskan bahwa para pejabat tidak berencana untuk menghentikan upaya mendinginkan ekonomi, setidaknya sampai akhir tahun ini.

Dengan tingginya harga makanan, energi, perumahan, dan barang-barang lainnya menekan keluarga Amerika, pejabat Fed menekankan langkah itu penting dalam memulihkan stabilitas harga.

Namun, tetap ada risiko inflasi akan terus meningkat di tengah ketidakpastian seputar berapa lama serangan Rusia ke Ukraina berlangsung dan apakah lockdown Covid-19 di Tiongkok akan terus memperburuk tekanan harga, kata laporan itu.

Melihat ke Belakang

Para pejabat mengakui bahwa mereka mungkin harus lebih agresif dalam memperketat kebijakan moneter. “Jika tekanan inflasi yang tinggi terus berlanjut,” tulisnya.

Namun, para ekonom mencatat bahwa data dan survei yang lebih baru menunjukkan tekanan harga mereda sementara permintaan perumahan melambat, bahkan lowongan pekerjaan di pasar tenaga kerja AS yang panas turun.

“Tidak yakin orang menyadari betapa dramatisnya narasi inflasi yang tak terkendali sekarang telah runtuh,” kata ekonom dan kolumnis pemenang Hadiah Nobel Paul Krugman di media sosial Twitter.

Dia mengatakan bahwa harga bensin eceran belum mencerminkan pendinginan di tingkat grosir.

Harga minyak telah mundur selama dua hari terakhir, dengan patokan WTI AS di bawah US$ 100 untuk pertama kalinya dalam sekitar dua bulan.

“(Tapi) banyak komentator ekonomi telah menunggu bertahun-tahun untuk kesempatan bersikap tegas terhadap inflasi yang tak terkendali, dan benar-benar tidak ingin mundur,” lanjutnya.

Ian Shepherdson dari Pantheon Macroeconomics juga mencatat bahwa sementara risalah menunjukkan ekonomi masih berkembang, gambaran pertumbuhan sudah ketinggalan zaman karena angka terbaru menunjukkan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2022 kemungkinan turun lagi.

Risiko “Terbalik”

Kenaikan suku bunga The Fed bulan lalu datang dengan bank sentral di bawah tekanan kuat untuk mengekang harga melonjak, yang telah membuat jutaan orang Amerika berjuang memenuhi kebutuhan. Kondisi ini menurunkan peringkat persetujuan Presiden AS Joe Biden.

Setelah pertemuan itu, Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan penting untuk menurunkan inflasi. Tetapi ia menekankan bahwa tujuannya adalah untuk mencapai itu tanpa menggagalkan ekonomi AS.

Risalah Fed mengonfirmasi kemungkinan kenaikan lain 50 bps atau 75 bps bulan ini. Tetapi Shepherdson mencatat bahwa para pejabat mengatakan mereka akan gesit dalam menghadapi data baru.

“Dengan kata lain, 75 bps bukan kesepakatan akhir. Kami sangat berharap data yang serius sejak pertemuan Juni akan mendorong anggota ke arah kenaikan yang lebih kecil,” ujarnya.

Para bankir sentral AS mulai menaikkan suku bunga dari nol pada Maret 2022 karena permintaan yang tinggi dari konsumen Amerika untuk rumah, mobil, dan barang-barang lainnya bentrok dengan gangguan transportasi hingga rantai pasokan.

Inflasi menjadi lebih buruk secara dramatis setelah serangan Rusia ke Ukraina pada akhir Februari 2022. Harga bahan bakar AS mencapai US$ 5,00 per galon untuk pertama kalinya, meskipun sejak itu telah sedikit mundur.

Risalah Fed mengatakan risiko inflasi tetap condong ke atas.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN