Laba Shell Meroket, Perusahaan Buyback Saham Besar-Besaran
LONDON, investor.id – Raksasa energi Inggris Shell mengatakan pada Kamis (28/7) bahwa laba bersihnya melonjak lebih dari lima kali lipat menjadi US$ 18 miliar pada kuartal II-2022. Peningkatan didorong oleh harga minyak dan gas yang bangkit kembali. Perusahaan juga mengumumkan pemberian penghargaan kepada pemegang saham dengan pembelian kembali (buyback) saham besar-besaran.
Lonjakan laba dalam tiga bulan hingga Juni 2022 sebagian disebabkan oleh pembalikan kerugian sebesar US$ 4,3 miliar, setelah perusahaan menaikkan perkiraannya untuk pasar gas dan minyak.
“Kami memberikan hasil keuangan yang kuat,” kata CEO Shell Ben van Beurden bersamaan dengan pengumuman laporan pendapatan, Kamis.
Perusahaan energi besar yang terdaftar di London mengumumkan program buyback saham senilai US$ 6 miliar, setelah mengembalikan US$ 8,5 miliar kepada pemegang saham.
Sederhananya, buyback adalah investasi saham yang dilakukan emiten dengan cara membeli saham-saham yang beredar di bursa. Kepemilikan terhadap publik mengecil, tetapi likuiditas perusahaan terjaga.
“(Dengan pasar energi yang bergejolak, turbulensi ekonomi, dan kebutuhan berkelanjutan akan tindakan untuk mengatasi perubahan iklim, 2022 terus menghadirkan tantangan bagi konsumen, pemerintah, dan perusahaan,” lanjut Van Beurden.
Shell telah pulih kembali menjadi laba US$ 3,4 miliar pada kuartal II-2021 dari kerugian US$ 18,1 miliar pada periode yang sama 2020, ketika mengambil biaya penurunan nilai besar-besaran di pasar minyak yang dilanda Covid-19.
Namun, harga minyak dan gas melonjak tahun ini karena perang di Ukraina dan setelah negara-negara mencabut lockdown pandemi.
Harga gas meroket pada Maret 2022 setelah pemerintah Rusia meluncurkan serangan ke Ukraina. Harganya sekali lagi naik minggu ini, setelah Rusia membatasi pengiriman penting gas ke Eropa dalam beberapa hari terakhir.
Perusahaan-perusahaan besar energi dunia menuai keuntungan dari lonjakan harga minyak dan gas global tahun ini sebagai akibat dari perang di Ukraina.
TotalEnergies Prancis mengatakan pada Kamis bahwa laba bersih naik lebih dari dua kali lipat pada kuartal kedua menjadi 5,7 miliar euro (US$ 5,8 miliar) dari tahun sebelumnya.
“Sektor energi terus naik tinggi karena ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang disebabkan oleh krisis di Ukraina,” kata analis ekuitas Hargreaves Lansdown Laura Hoy.
Sementara itu, perang di Ukraina telah memicu eksodus perusahaan energi Barat dari Rusia.
Awal tahun ini, Shell mencatat laba kuartal pertama sebesar US$ 7,1 miliar, meskipun mengambil biaya US$ 3,9 miliar atas penarikannya dari aktivitas di Rusia.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler

