Jumat, 15 Mei 2026

Bermasalah, Johnson & Johnson Berhenti Jual Bedak Bayi Tahun Depan

Penulis : Grace El Dora
12 Aug 2022 | 16:12 WIB
BAGIKAN
Botol bedak bayi Johnson & Johnson berjejer di rak toko obat di New York, AS pada 15 Oktober 2015. (FOTO: REUTERS/Lucas Jackson)
Botol bedak bayi Johnson & Johnson berjejer di rak toko obat di New York, AS pada 15 Oktober 2015. (FOTO: REUTERS/Lucas Jackson)

NEW JERSEY, investor.id – Johnson & Johnson (J&J) akan berhenti menjual bedak bayi berbahan dasar talk secara global pada 2023, kata produsen obat itu. Pengumuman ini disampaikan lebih dari dua tahun setelah perusahaan mengakhiri penjualan produk di Amerika Serikat (AS), setelah mendapat ribuan tuntutan hukum karena keselamatan konsumen.

“Sebagai bagian dari penilaian portofolio di seluruh dunia, kami telah membuat keputusan komersial untuk beralih ke portofolio bedak bayi berbasis tepung jagung,” katanya, Jumat (12/8). Perusahaan menambahkan bahwa saat ini bedak bayi yang berbahan dasar tepung jagung sudah dijual di negara-negara di seluruh dunia.

Pada 2020, J&J mengumumkan bahwa mereka akan berhenti menjual bedak bayi di AS dan Kanada karena permintaan telah turun. Perusahaan menyebut penurunan permintaan karena informasi yang salah tentang keamanan produk di tengah rentetan tantangan hukum.

ADVERTISEMENT

Perusahaan ini menghadapi sekitar 38.000 tuntutan hukum dari konsumen dan para penyintas, yang mengklaim produk bedaknya menyebabkan kanker karena kontaminasi asbes yang diketahui bersifat karsinogen.

J&J membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan pengujian ilmiah dan persetujuan peraturan selama beberapa dekade telah menunjukkan bahwa bedaknya aman dan bebas asbes. Perusahaan mengulangi pernyataan itu saat mengumumkan penghentian produk.

J&J memisahkan anak perusahaannya, LTL Management, pada Oktober 2021 sebagai penetapan klaim bedaknya dan dengan segera bangkrut. Langkah ini menghentikan tuntutan hukum yang tertunda.

Mereka yang menuntut mengatakan J&J harus membela diri terhadap tuntutan hukum. Sementara terdakwa J&J dan proses anak perusahaan yang bangkrut mengatakan itu adalah cara yang adil untuk memberi kompensasi kepada penggugat.

Ben Whiting, pengacara dari firma penggugat Keller Postman, mengatakan tuntutan hukum dihentikan sementara dalam kebangkrutan anak usaha tersebut. Dengan demikian, keputusan penjualan perusahaan tidak akan langsung berdampak pada J&J. Tetapi jika pengadilan banding federal mengizinkan kasus tersebut berlanjut, konsumen dapat mencoba menggunakan keputusan Johnson & Johnson untuk menarik produk sebagai bukti, kata Whiting.

“Jika kasus-kasus ini terulang lagi, maka itu adalah masalah yang sangat besar,” imbuhnya.

Sebelum pengajuan kebangkrutan, perusahaan menghadapi biaya dari US$ 3,5 miliar dalam putusan dan penyelesaian, termasuk satu kasus di mana 22 wanita dianugerahi penggantian lebih dari US$ 2 miliar, menurut catatan pengadilan kebangkrutan.

Proposal pemegang saham yang menyerukan diakhirinya penjualan global bedak bayi gagal pada April 2022.

Produk Bermasalah

Penyelidikan Reuters pada 2018 menemukan bahwa J&J tahu selama beberapa dekade bahwa asbes, bersifat karsinogen, ada dalam produk bedaknya. Catatan internal perusahaan, kesaksian persidangan, dan bukti lain menunjukkan bahwa setidaknya dari 1971 hingga awal 2000-an, bedak mentah dan bubuk jadi J&J terkadang diuji positif mengandung sejumlah kecil asbes.

Menanggapi bukti produk bermasalah dengan kontaminasi asbes pada yang disajikan dalam laporan media, di ruang sidang dan di Capitol Hill, J&J telah berulang kali mengatakan produk bedaknya aman dan tidak menyebabkan kanker.

Dijual sejak 1894, Johnson's Baby Powder menjadi simbol citra ramah keluarga perusahaan.

Presentasi pemasaran internal J&J sejak 1999 mengacu pada divisi produk bayi. Bedak Bayi sebagai inti pemasaran, sebagai “Aset #1” J&J, lapor Reuters, meskipun bedak bayi hanya menyumbang sekitar 0,5% dari bisnis kesehatan konsumen AS ketika perusahaan menariknya dari penjualan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia