Kenaikan Harga Minyak karena Investasi Migas Minim
LONDON, investor.id – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang baru Haitham Al Ghais menyampaikan pada Rabu (17/8), kartel minyak tidak dapat disalahkan atas laju inflasi yang melonjak. Sebaliknya, ia menunjuk pada kurangnya investasi kronis dalam industri minyak dan gas (migas).
“OPEC tidak berada di belakang kenaikan harga ini. Ada faktor lain di luar OPEC yang benar-benar berada di balik lonjakan (harga) gas dan minyak. Dan sekali lagi, singkatnya bagi saya adalah kurangnya investasi. Kekurangan investasi yang kronis. Ini adalah kenyataan pahit yang harus disadari oleh orang-orang dan para pembuat kebijakan. Setelah itu terwujud, saya pikir, kita bisa mulai memikirkan solusi di sini. Dan solusinya sangat jelas. OPEC memiliki solusi: berinvestasi, berinvestasi, berinvestasi,” demikian penjelasan Al Ghais kepada Hadley Gamble dari CNBC.
Sebagai informasi, awal tahun ini, Al Ghais dari Kuwait ditunjuk untuk menjalani masa jabatan tiga tahun sebagai sekjen OPEC, yang dimulai pada 1 Agustus. Dia menggantikan Mohammad Barkindo – veteran industri minyak – dari Nigeria yang meninggal dunia pada 5 Juli 2022 di usia 63 tahun. Padahal, hanya tersisa beberapa hari sebelum Barkindo bakal mengundurkan diri dari jabaran sekjen
Di sisi lain, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengatakan pada Juni bahwa investasi energi global telah berada di jalur yang tepat untuk naik tahun ini sebesar 8%, mencapai US$ 2,4 triliun. Di mana sebagian besar proyeksi kenaikan terutama berasal dari energi bersih.
IEA pun menggambarkan temuan itu sebagai dorongan, juga memperingatkan bahwa tingkat investasi masih jauh dari cukup untuk mengatasi berbagai dimensi krisis energi.
Terkait dengan migas, IEA mengungkapkan investasi telah melonjak 10% dibandingkan tahun lalu namun masih jauh di bawah level 2019. Dikatakan juga, harga bahan bakar fosil yang tinggi saat ini memberikan kesempatan sekali dalam satu generasi bagi negara-negara yang perekonomiannya bergantung pada minyak dan gas untuk menjalani transformasi yang sangat dibutuhkan.
IEA sebelumnya menyebutkan bahwa para investor tidak boleh mendanai proyek pasokan minyak, gas, dan batu bara baru jika dunia ingin mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad ini. Yang pasti, pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak, gas dan batu bara, adalah pendorong utama darurat iklim.
Sebelumnya pada April, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa hanya perlu kegilaan moral dan ekonomi untuk mendanai proyek-proyek bahan bakar fosil baru.
Melaksanakan Bagiannya
Pernyataan yang disampaikan Al Ghais muncul tak lama setelah kelompok produsen berpengaruh OPEC dan mitra non-OPEC, sebuah aliansi energi yang sering disebut sebagai OPEC+, membuat para pelaku pasar terkejut dengan melakukan pertemuan 3 Agustus dan mengumumkan rencana penambahan hanya 100.000 barel per hari (bph) mulai bulan depan.
Menurut OPEC, ketersediaan kapasitas berlebih yang sangat terbatas, berarti perlu untuk melanjutkan dengan sangat hati-hati.
Tetapi hal itu dipandang sebagai penghinaan bagi Presiden AS Joe Biden. Pasalnya selama kunjungan ke Arab Saudi bulan lalu, Biden telah meminta OPEC untuk memompa lebih banyak minyak mentah guna membantu AS dan ekonomi global.
Informasi lebih lanjut menyebutkan, para produsen OPEC dan non-OPEC dijadwalkan bertemu pada 5 September.
Saat ditanya apakah OPEC – yang memproduksi sekitar 40% dari produksi minyak dunia – harus disalahkan atas melonjaknya harga energi yang mendorong inflasi, Al Ghais menjawab: “Tidak, sama sekali tidak. Maksud saya itu semua relatif, itu nomor satu.”
Dia menambahkan, untuk nomor dua, OPEC telah melakukan bagiannya.
“Kami telah meningkatkan produksi sejalan dengan apa yang kami lihat dan mekanisme bertahap yang sangat transparan. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengembalikan keseimbangan pasar, tetapi ada faktor ekonomi yang benar-benar di luar kendali OPEC,” kata Al Ghais.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak telah jatuh di tengah kekhawatiran baru tentang resesi global dan prospek permintaan yang melemah. Bahkan, acuan harga minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$ 92 per barel pada Rabu pagi, turun sekitar 0,4%. Sementara itu acuan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) berada sekitar US$ 86,25 per barel, lebih dari 0,3% lebih rendah.
Harga minyak mentah Brent sempat naik hampir US$ 128 per barel beberapa hari setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari. Bagian dari kenaikan harga ini yang kemudian terlihat di semua jenis energi telah mendorong inflasi ke level tertinggi selama beberapa dekade.
Mengenai hubungan aliansi energi dengan pemimpin non-OPEC Rusia, Al Ghais berpendapat OPEC memiliki hubungan solid dengan Negeri Beruang Merah itu dan selalu berusaha memisahkan antara politik dari tujuan menstabilkan pasarnya.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






