Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. ( Foto: DANIEL ROLAND / AFP )

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. ( Foto: DANIEL ROLAND / AFP )

Perangi Inflasi, ECB Ikut Naikkan Suku Bunga 75 Basis Poin

Jumat, 9 Sep 2022 | 13:57 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

FRANKFURT, investor.id – Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menaikkan suku bunga utamanya sebesar 75 basis poin (bps) pada Kamis (8/9). Angka penaikan terbesar sepanjang sejarahnya itu ditujukan untuk memerangi lonjakan inflasi dan diisyaratkan masih akan dinaikkan lagi. Kendati negara-negara dalam blok Uni Eropa (UE) kemungkinan menuju resesi di musim dingin tahun ini.

Menindaklanjuti kenaikan suku bunga Juli, ECB menaikkan suku bunga deposito dari nol menjadi 0,75% dan menaikkan suku bunga refinancing utamanya ke 1,25% - yang merupakan level tertingginya sejak 2011. Langkah lebih lanjut juga sudah diantisipasi pada Oktober dan Desember.

“Kita memiliki lebih banyak perjalanan ke depan,” ujar Presiden ECB Christine Lagarde dalam konferensi pers, yang dilansir Reuters.

Baca Juga: Ratu Elizabeth Meninggal Dunia

Advertisement

Seiring dengan tingkat inflasi tinggi dalam setengah abad dan kian dekat dengan wilayah dua digit, para pembuat kebijakan pun dilanda kekhawatiran bahwa pertumbuhan harga yang cepat dapat mengakar, mengikis nilai tabungan rumah tangga dan memicu gejolak harga upah.

Namun, Lagarde menambahkan bahwa telah ada kesepakatan bulat di antara pembuat kebijakan tentang perlunya kenaikan 75 basis poin untuk alokasi pergerakan menuju suku bunga yang konsisten, dengan membawa inflasi ke target jangka menengah 2%.

Sebagai informasi, para pembuat kebijakan sempat kebingungan selama berminggu-minggu antara menaikkan suku bunga acuan 50 dan 75 basis poin. Tetapi lompatan lain baik pada inflasi headline dan dan inflasi underlying tampaknya telah menyelesaikan perdebatan. Ini karena angka-angka menunjukkan pertumbuhan harga sekarang merembet ke negara-negara yang lebih luas, dan membuatnya semakin sulit untuk diatasi.

Baca Juga: ECB Akan Menaikkan Tingkat Suku Bunga, Emas Kembali Melemah

Bahkan ECB menaikkan proyeksi inflasinya sekali lagi, di mana prospek pada 2023 inflasi berubah dari 3,5% menjadi 5,5% dan menempatkan prospek 2024 di kisaran 2,3% atau di atas target 2%.

Meski demikian, pasar tetap agak terkejut karena para investor telah memperkirakan kemungkinan terjadi pergerakan lebih dari 80% dibandingkan 75 basis poin. Bahkan jika para ekonom yang disurvei oleh Reuters terbagi secara rata maka hanya sedikit mayoritas yang memperkirakan pengambilan langkah lebih besar.

Secara eksplisit ECB menyatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut akan diperlukan, pasar pun terus mengharapkan pergerakan 50 basis poin lagi di pertemuan ECB pada Oktober.

Saat ditanya soal arah masa depan dan laju perubahan suku bunga, Lagarde berkata: “Kami tidak mengatakan naikkan 75 seolah-olah 75 adalah hal biasa – ini tidak (biasa).”

Serius Memerangi Inflasi

Menurut laporan, saat menuju pertemuan, kaum konservatif khawatir bahwa segala sesuatu selain pengambilan langkah besar bakal menandakan ECB tidak serius tentang mandat memerangi inflasi. Dan hal ini berisiko mendorong ekspektasi inflasi jangka panjang yang sudah tinggi, juga menandakan hilangnya kepercayaan terhadap ECB serta menimbulkan pertanyaan tentang kerangka penargetan inflasi bank.

Tindakan takut-takut juga berisiko melemahkan mata uang euro dan mendorong inflasi lebih lanjut melalui impor energi yang lebih mahal.

Baca Juga: Suku Bunga ECB Naik, Lagarde Salahkan Perang Rusia

Laporan menyebutkan, nilai tukar euro terhadap dolar AS masih berkutat sekitar paritas selama berminggu-minggu, tidak menjauh dari level terendah dua dekade awal bulan ini. Hal ini berarti segala macam ekspor akan lebih mahal, mulai dari minyak hingga mobil, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga bagi konsumen.

Para pembuat kebijakan juga telah mengemukakan masalah kenaikan suku bunga frontloading sebagian untuk mengirim sinyal kuat tentang komitmen bank sentral memerangi inflasi, dan sebagian untuk menyelesaikan sebagian besar kenaikan sebelum resesi menjadi semakin jelas.

Mengingat harga energi yang tinggi melemahkan daya beli maka penurunan pada dasarnya tidak bisa dihindari. Namun, kebijakan moneter sebagian besar tidak berdaya melawan penurunan yang didorong oleh guncangan penawaran, sehingga memperkuat argumen untuk melakukan penaikan bahkan jika ekonomi menderita.

Baca Juga: Liz Truss Bekukan Tagihan Energi Selama 2 Tahun

Di sisi lain, beberapa pembuat kebijakan sekarang terang-terangan berbicara tentang resesi. Proyeksi baru ECB juga menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih rendah di tahun-tahun mendatang.

Beberapa pendapat mengemuka bahwa resesi yang dangkal kemungkinan bisa berguna, karena pasar tenaga kerja di blok UE semakin ketat dan tren penurunan dapat membantu perusahaan-perusahaan yang sekarang berjuang untuk merekrut tenaga kerja.

Dalam pandangan ECB, perekonomian di zona euro tahun ini akan berkembang sebesar 3,1% dan 0,9% pada 2023. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan yang terangkat tahun ini bakal turun tajam pada 2023.

Namun Lagarde mengungkapkan soal skenario penurunan – yang melibatkan penghentian total pasokan gas Rusia dan kebijakan-kebijakan, termasuk penjatahan energi – yang akan menjerumuskan kawasan euro ke dalam resesi tahun depan, dengan perkiraan kontraksi 0,9%. 


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com