Jumat, 15 Mei 2026

Sekjen PBB ke Negara Maju: Pajaki Bahan Bakar Fosil

Penulis : Iwan Subarkah
21 Sep 2022 | 13:40 WIB
BAGIKAN
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  Antonio Guterres. ( Foto: AFP / MANILA BULLETIN )
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres. ( Foto: AFP / MANILA BULLETIN )

NEW YORK, investor.id – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada pidato pembukaan Sidang Umum (SU) PBB di markas PBB, New York City, Amerika Serikat (AS), Selasa (20/9) mendesak negara-negara maju memajaki para produsen bahan bakar fosil. Dananya nanti harus digunakan untuk biaya kompensasi kerusakan akibat perubahan iklim dan rumah tangga yang menderita karena lonjakan harga-harga.

“Terus terang saja, dunia kita ini kecanduan bahan bakar fosil. Sekarang waktunya untuk intervensi. Kita harus membuat perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil dan para penyokongnya untuk bertanggung jawab,” kata Guterres, seperti dikutip AFP.

Para penyokong itu, kata Guterres, termasuk bank, pemodal swasta, pengelola aset, dan lembaga-lembaga keuangan asing yang terus berinvestasi dan menjamin emisi polusi karbon.

ADVERTISEMENT

“Industri bahan bakar fosil diuntungkan oleh subsidi ratusan miliar dolar AS dan mendapatkan windfall profit. Sedangkan anggaran rumah tangga meyusut dan planet kita terbakar,” kata Guterres.

Ia menambahkan termasuk mesin humas raksasa yang mengeluarkan miliaran dolar AS untuk melindungi industri bahan bakar fosil dari pengawasan publik.

Tapi Guterres mengakui situasi berat saat ini. Karena batubara, minyak, dan gas tetap berperan krusial di negara maju maupun berkembang.

“Tentu saja bahan bakar fosil tidak bisa dihilangkan begitu saja. Transisi yang adil berarti tidak ada negara atau masyarakat yang tertinggal. Sekarang saatnya bagi produsen, investor dan para penyokong bahan bakar fosil untuk sadar. Pencemar harus bayar. Saya menyeru kepada seluruh negara maju untuk memajaki windfall profit perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil,” tutur Guterres.

Penerimaan dananya nanti, lanjut dia, harus diarahkan langsung ke negara-negara yang menderita dan merugi akibat krisis iklim. Dan kepada masyarakat yang terdampak lonjakan harga pangan serta energi.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen belum lama ini mengatakan, dana yang bisa dihimpun dari proposal semacam itu dapat mencapai US$ 140,1 miliar. 


 

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 48 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia