Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pelanggan membayar buah dan sayurannya dengan uang kertas sepuluh pound sterling di kios pasar pedagang di London, Inggris. (FOTO: JUSTIN TALLIS / AFP)

Pelanggan membayar buah dan sayurannya dengan uang kertas sepuluh pound sterling di kios pasar pedagang di London, Inggris. (FOTO: JUSTIN TALLIS / AFP)

Inggris Resesi, Bank Sentral Naikkan Suku Bunga

Kamis, 22 September 2022 | 20:18 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

LONDON, investor.id – Bank sentral Inggris (BoE) menaikkan suku bunga lagi pada Kamis (22/9) untuk memerangi inflasi yang melonjak. Pihaknya memperingatkan bahwa ekonomi Inggris telah tergelincir ke dalam resesi.

Keputusan BoE menutup pekan yang sibuk bagi bank sentral, karena rekan-rekannya di Amerika Serikat (AS) dan di tempat lain di Eropa terus memperketat kebijakan moneter mereka. Ini menjadi upaya global untuk menjinakkan inflasi yang tidak terkendali.

Keputusan bank sentral Inggris sempat ditunda dari pekan lalu setelah kematian Ratu Elizabeth II.

BoE memenuhi sebagian besar ekspektasi pasar karena menaikkan suku bunga utamanya sebesar 0,5 poin persentase atau 50 basis poin (bps) menjadi 2,25%. Bank sentral mengulangi kenaikan pada Agustus 2022, menjadi peningkatan terbesar sejak 1995.

Baca juga: Kenaikan Suku Bunga Fed Masih akan Tetap Agresif

Beberapa komentator berspekulasi bahwa BoE dapat mencerminkan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Federal Reserve (The Fed) AS, kemudian memicu kenaikan jumbo sebesar 0,75 poin persentase atau 5 bps. Jika demikian, ini akan menjadi yang terbesar bagi BoE dalam tiga dekade terakhir.

Di seluruh dunia, indeks harga konsumen (CPI) yang menjadi indikator inflasi telah melonjak ke salah satu level tertinggi. Pasalnya, harga energi dan pangan merajalela setelah perang Rusia di Ukraina.

Bank-bank sentral merespons dengan menaikkan suku bunga mereka. Kenaikan ini mengipasi ketakutan resesi karena mereka mendorong pembayaran pinjaman untuk konsumen dan perusahaan, sehingga memperburuk krisis biaya hidup di Inggris.

Sudah Resesi

BoE mengatakan Inggris telah memasuki resesi.

Sementara itu, The Fed pada Rabu (Kamis pagi WIB) meluncurkan kenaikan 0,75 poin persentase atau 75 bps, kenaikan jumbo ketiga berturut-turut. Ini dirilis hanya satu hari setelah Riksbank Swedia mengejutkan pasar dengan lompatan satu poin persentase penuh atau 100 bps.

Pada Kamis, Swiss National Bank mengeluarkan kenaikan 0,75 poin persentase yang mengangkat suku bunga kebijakan keluar dari wilayah negatif untuk pertama kalinya sejak 2015. Ini berarti deposan tidak lagi harus membayar untuk memarkir uang mereka di bank.

Baca juga: Inilah 4 Hal yang Lebih Mahal di AS Jika Suku Bunga Naik

Pada Kamis, bank sentral Norwegia menaikkan suku bunga sebesar 0,5 poin persentase atau 50 bps, membawanya ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

Melawan tren, bank sentral Jepang mempertahankan kebijakan moneter uang longgar sehingga mengirim yen ke level terendah baru 24 tahun terhadap dolar.

BoE awal bulan ini membela diri terhadap tuduhan terlalu lambat untuk mengatasi inflasi setinggi langit, setelah Perdana Menteri (PM) baru Liz Truss mengusulkan tinjauan independensi operasional.

Potongan Pajak

Inflasi Inggris turun ke 9,9% pada Agustus 2022 tetapi tetap mendekati level tertinggi 40 tahun.

Truss pada Rabu meluncurkan rencana enam bulan, mulai Oktober 2022, untuk membayar sekitar setengah dari tagihan energi untuk bisnis, amal, rumah sakit, dan sekolah. Ia kini berusaha melunakkan pukulan ekonomi dari harga-harga yang tinggi.

PM telah mengumumkan rencana pembekuan harga energi selama dua tahun ke depan untuk rumah tangga yang kekurangan uang.

Menteri Keuangan Inggris Kwasi Kwarteng pada Jumat (23/9) akan mengungkap anggaran mini pemotongan pajak. Ini dirancang untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan juga akan menguraikan biaya besar bantuan energi.

Namun paket tersebut pada akhirnya mengancam mendorong inflasi lebih tinggi sebagai akibat dari penguatan permintaan, menurut bank AS Citi.

Baca juga: Fed Naikkan Suku Bunga Lagi untuk Perangi Inflasi

“Sementara pembatasan harga energi adalah disinflasi pada awalnya, kami terus melihat banyak dari langkah-langkah ini sebagai meningkatkan permintaan dan meningkatkan risiko inflasi yang lebih mengakar,” tulis analis Citi dalam sebuah catatan penelitian.

Komentator juga memperingatkan langkah-langkah itu akan merusak keuangan publik yang sudah terpukul dari pengeluaran besar selama pandemi Covid-19 yang mematikan.

Analis bank Barclays memperkirakan total pengeluaran biaya hidup pemerintah dapat mencapai £ 235 miliar (US$ 267 miliar).

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com