Jumat, 15 Mei 2026

Fed Bisa Hindari Sakit Mendalam dalam Pertarungan Inflasi

Penulis : Grace El Dora
26 Sep 2022 | 10:22 WIB
BAGIKAN
The Fed berencana untuk melanjutkan kenaikan suku bunga yang agresif untuk memperlambat perekonomian. (FOTO: NYTIMES)
The Fed berencana untuk melanjutkan kenaikan suku bunga yang agresif untuk memperlambat perekonomian. (FOTO: NYTIMES)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Federal Reserve (Fed) Atlanta Raphael Bostic mengaku masih percaya bank sentral Amerika Serikat (AS) dapat menjinakkan inflasi tanpa kehilangan angka pekerja yang substansial, mengingat momentum ekonomi yang berkelanjutan.

“Jika Anda melihat sejarah ... ada peluang yang sangat bagus bahwa jika kita kehilangan pekerjaan, itu akan lebih kecil (daripada di masa lalu),” kata Bostic pada program “Face the Nation” CBS, dilansir Senin (26/9).

“Inflasi tinggi. Terlalu tinggi. Dan kita perlu melakukan semua yang kita bisa untuk membuatnya turun,” kata Bostic tentang rencana Fed untuk melanjutkan kenaikan suku bunga agresif. Ini dimaksudkan untuk memperlambat ekonomi, membawa permintaan barang dan jasa lebih sesuai dengan pasokan, serta inflasi yang lebih rendah berjalan pada tertinggi empat dekade.

ADVERTISEMENT

Seberapa dalam dan bertahannya perlambatan yang dibutuhkan, ditambah kehilangan angka pekerja yang mungkin terjadi, tetap menjadi bahan perdebatan. Para pejabat Fed terus berargumen bahwa perusahaan tidak akan mungkin memberhentikan pekerja yang sulit didapat selama pandemi Covid-19.

Mengutip pertumbuhan kuat yang berkelanjutan dalam pekerjaan penggajian, Bostic mengatakan ada banyak momentum positif. Menurutnya, ada beberapa kemampuan bagi ekonomi untuk menyerap tindakan regulator hingga akhirnya melambat dengan cara yang relatif teratur.

Bostic juga mengatakan pihaknya perlu perlambat yang sesuai.

“Kita akan melakukan semua yang kita bisa di Federal Reserve untuk menghindari rasa sakit yang mendalam,” tegasnya.

Gejolak di Pasar Global

Bostic berbicara setelah minggu yang bergejolak di pasar keuangan global.

The Fed pada Rabu (21/9) menyetujui kenaikan suku bunga tiga perempat poin atau 75 basis poin (bps) ketiga berturut-turut. Bank sentral tersebut juga mengeluarkan proyeksi yang menunjukkan suku bunga naik lebih tinggi, serta akan bertahan di sana lebih lama, daripada yang diantisipasi investor.

Seiring dengan langkah serupa oleh sejumlah bank sentral lainnya, berita tersebut memicu aksi jual tajam di pasar ekuitas dan peringatan bahwa dengan begitu banyak pejabat moneter yang mengetatkan kebijakan sekaligus, risiko resesi global meningkat.

Retakan lain muncul.

Harga impor Jepang dan inflasi lokal dihantam oleh kenaikan dolar, melakukan intervensi untuk pertama kalinya dalam hampir seperempat abad untuk memperkuat yen.

Pemotongan pajak yang diusulkan pemerintah Inggris tampaknya menempatkan kebijakan fiskal bertentangan dengan upaya bank sentralnya untuk menjinakkan inflasi dengan kenaikan suku bunga. Poundsterling jatuh sekitar 3,5% terhadap dolar ke level terendah sejak 1985.

Terlepas dari kekhawatiran global, Powell mengatakan bank sentral akan tetap fokus pada inflasi AS. Perlu melihat penurunan yang meyakinkan dalam laju kenaikan harga selama beberapa bulan mendatang, katanya, untuk mengubah pandangannya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 8 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia