Jumat, 15 Mei 2026

Menkeu Yellen Memuji Insentif Pajak Energi Bersih yang Disahkan Biden

Penulis : Grace El Dora
27 Sep 2022 | 10:31 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen berbicara tentang keadaan ekonomi AS selama konferensi pers di Departemen Keuangan di Washington, AS pada 28 Juli 2022. (FOTO: SAUL LOEB / AFP)
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen berbicara tentang keadaan ekonomi AS selama konferensi pers di Departemen Keuangan di Washington, AS pada 28 Juli 2022. (FOTO: SAUL LOEB / AFP)

WASHINGTON, investor.id – Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen memuji kredit pajak dan insentif sektor swasta lainnya yang terkandung dalam Undang-Undang Pengurangan Inflasi pada Selasa (27/9) di North Carolina, AS. Ia mengatakan undang-undang itu akan membantu menurunkan biaya energi untuk konsumen dan emisi gas rumah kaca di seluruh negeri.

Undang-undang tersebut, yang ditandatangani Presiden AS Joe Biden menjadi undang-undang pada Agustus 2022, merupakan paket pengeluaran iklim terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Anggaran sebesar US$ 369 miliar dialokasikan untuk inisiatif energi domestik dan untuk memerangi perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

Investasi itu, yang dijelaskan oleh Yellen di pabrik Cypress Creek Renewables Durham, dinilai akan menempatkan bangsa pada jalur kuat menuju pengurangan emisi gas rumah kaca secara substansial pada akhir dekade ini. Ini disampaikan dalam kutipan pidato Yellen, dirilis menjelang paparan menteri keuangan.

Penghematan tersebut terdiri ataas ribuan dolar pemotongan pajak dan potongan harga untuk kendaraan listrik (EV) dan peningkatan efisiensi rumah seperti skylight hemat energi, pemanas air, hingga instalasi panel surya.

Semua ini adalah fitur hemat uang dalam tindakan yang oleh pemerintah AS diharapkan dapat diterjemahkan ke biaya energi yang lebih rendah untuk keluarga-keluarga di Amerika.

Namun Yellen mungkin saja menambahkan bahwa pemerintah juga akan mengandalkan sektor swasta untuk membantu memenuhi tujuan iklimnya dengan mengurangi emisi, setidaknya setengah dari tingkat 2005 pada 2030.

“Secara khusus pemerintah harus memberikan landasan dasar dan kepastian jangka panjang, bahwa bisnis perlu berinvestasi dalam skala besar dan mendorong transisi menuju masa depan energi bersih,” demikian kutipan pidato Yellen, Selasa.

Undang-undang baru akan memacu mobilisasi signifikan investasi swasta ke dalam sektor energi bersih, menurut pernyataannya.

“Dikombinasikan dengan kredit pajak bisnis, investasi ini diharapkan akan semakin menekan biaya produksi energi bersih. Hal ini, pada gilirannya, diharapkan dapat membantu menurunkan tarif listrik ritel pada saat yang sama ketika undang-undang tersebut menggetarkan bagian yang lebih besar dari ekonomi Amerika,” kata kutipan resmi pidato tersebut.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia