Kenaikan Suku Bunga AS Dikhawatirkan Terlalu Cepat
CHICAGO, investor.id – Presiden Federal Reserve (Fed) Chicago Charles Evans mengatakan bahwa dirinya merasa khawatir tentang bank sentral Amerika Serikat (AS) yang menaikkan suku bunga terlalu cepat, meskipun ini upayanya untuk mengatasi inflasi yang tak terkendali.
Dilansir dari “Squawk Box Europe” CNBC pada Selasa (27/9), Evans mengatakan dirinya tetap sangat optimis bahwa ekonomi AS dapat menghindari resesi, asalkan tidak ada guncangan eksternal lebih lanjut.
Komentarnya muncul tak lama setelah sejumlah pejabat tinggi Fed mengatakan pihaknya akan terus memprioritaskan perang melawan inflasi, yang saat ini mendekati level tertinggi sejak awal 1980-an.
Bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar tiga perempat poin persentase atau 75 basis poin (bps) di awal September 2022. Ini menjadi kenaikan ketiga dengan angka yang sama secara berturut-turut.
Pejabat Fed juga mengindikasikan bank sentral akan terus menaikkan suku bunga jauh di atas kisaran saat ini 3% hingga 3,25%.
Evans ditanya tentang kekhawatiran investor bahwa The Fed tampaknya tidak menunggu cukup lama untuk menilai secara memadai dampak kenaikan suku bunga. “Well, saya sedikit gugup tentang hal itu,” akunya, Selasa.
“Ada kelambatan dalam kebijakan moneter dan kami telah bergerak cepat. Kami telah melakukan tiga kali peningkatan 75 bps berturut-turut dan ada pembicaraan lebih lanjut untuk mencapai 4,25% hingga 4,5% pada akhir tahun, Anda tidak akan meninggalkan banyak waktu untuk melihat setiap rilis bulanan,” kata Evans.
Puncak FFR
Trader khawatir bahwa Fed tetap bersikap lebih hawkish lebih lama dari yang diantisipasi beberapa orang.
Evans (64) secara konsisten menjadi salah satu regulator The Fed yang mendukung suku bunga yang lebih rendah dan lebih banyak akomodasi. Dia akan pensiun dari posisinya awal tahun depan.
“Sekali lagi, saya masih percaya bahwa konsensus kami, perkiraan median, akan mencapai tingkat dana (FFR) puncak pada Maret dengan asumsi tidak ada guncangan merugikan lebih lanjut. Dan jika keadaan menjadi lebih baik, kita mungkin bisa berbuat lebih sedikit, tetapi saya pikir kita sedang menuju tingkat dana puncak itu,” jelasnya.
“Itu menawarkan jalan untuk pekerjaan, Anda tahu, stabil pada sesuatu yang masih bukan resesi, tetapi mungkin ada guncangan, mungkin ada kesulitan lain,” lanjutnya.
“Setiap kali saya pikir rantai pasokan akan membaik, bahwa kita akan meningkatkan produksi mobil dan harga mobil bekas turun dan perumahan dan semua itu sesuatu telah terjadi. Jadi, optimis hati-hati,” tambah Evans.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaTag Terpopuler
Terpopuler






