Inggris Fokuskan Kerja Sama Ekonomi dengan Indo Pasifik
SINGAPURA, investor.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris James Cleverly mengatakan pada Kamis (29/9), negaranya akan berkomitmen untuk lebih sepenuhnya meningkatkan kerja sama ekonomi, pertahanan, dan bidang lainnya dengan kawasan Indo Pasifik.
Ia mengatakan, Inggris akan mewujudkan itu di luar usahanya saat ini untuk bergabung merampungkan kesepakatan perdagangan bebas di Indo Pasifik.
“Pergeseran ke Indo Pasifik tidak akan berubah lagi. Ini sudah permanen. Pergeseran ke Indo Pasifik akan mencakup peningkatan kerja sama atas isu-isu ekonomi, masalah keamanan, dan saling berbagi nilai,” kata Cleverly, seperti dikutip CNBC, pada acara Milken Institute Asia Summit di Singapura.
Ia juga menegaskan komitmen Inggris untuk membela kedaulatan, integritas wilayah, dan kebebasan dari pemaksaan ekonomi. Inggris juga akan bersama-sama membela demokrasi serta mendukung pasar yang terbuka.
Cleverly menyinggung ada 1,7 juta warga negara Inggris yang tinggal di Indo Pasifik. Inggris memiliki hubungan perdgangan senilai US$ 250 miliar dengan Indo Pasifik.
Pakta perdagangan bebas yang saat ada di kawasan adalah Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership atau CPTPP. Pakta perdagangan ini mencakup tujuh negara Asia Pasifik dan empat negara dari benua Amerika.
CPTPP merupakan pengganti Trans-Pasific Partnership (TPP), yang tadinya digawangi oleh Amerika Serikat (AS) tapi berantakan karena AS menarik diri saat di bawah kepemimpinan presiden Donald Trump.
Inggris sekarang masih dalm proes gabung ke CPTPP. Inggris hendak mendiversifikasikan mitra dagangnya. Terutama sejak negara ini keluar dari keanggotaan Uni Eropa (UE).
Inggris akan menjadi negara Eropa pertama yang bergabung ke CPTPP jika pengajuan dirinya disetujui. Tiongkok juga mengajukan diri gabung ke CPTPP tapi belum menaghasilkan kemajuan berarti seperti Inggris.
Menurut Cleverly, setiap pembahasan dalam kerangka CPTPP harus memasukkan Tiongkok. Karena ia menyebut Tiongkok merupakan pendorong pertumbuhan dan berhasil mengangkat jutaan warganya dari kemiskinan.
“Tapi pelajaran yang saya petik dari menyaksikan Tiongkok sepanjang usia adalah Tiongkok telah keluar dari aturan dan norma-norma global.
“Ketika merangkul negara-negara seperti Rusia, posisi berdiri Tiongkok jadi loyo,” lanjut Cleverly.
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Februari 2022 lalu mengatakan, kedua negara membina kemitraan yang abadi. Perang di Ukraina membuat semua orang sadar akan pentingnya kemitraan dengan negara-negara yang lebih luas.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


